|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

29 Nov 2021

Transformasi Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi untuk Kampus Merdeka  

Jakarta—Transformasi pengelolaan dan pelayanan perpustakaan di perguruan tinggi dapat dilakukan selaras dengan transformasi sistem pembelajaran. Oleh karena itu, transformasi perpustakaan dan dunia pendidikan di Indonesia harus dilakukan secara menyeluruh.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) R.I., Muhammad Syarif Bando, menyatakan transformasi dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Transformasi kedua unsur ini akan menghasilkan alumnus yang kreatif dan inovatif dalam menciptakan lapangan kerja.

Dia menegaskan, tujuan akhir pendidikan perguruan tinggi bukan sekadar lulus dengan nilai memuaskan. Perguruan tinggi diminta mampu menjabarkan Kampus Merdeka, sehingga outcome-nya dapat dideskripsikan. Apalagi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi berubah cepat. Percepatan harus dilakukan di dalam ruang kelas, sehingga para mahasiswa dapat berinovasi.

Menurutnya, ada delapan kompetensi yang harus dimiliki alumnus perguruan tinggi untuk untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) unggul. Kompetensi tersebut yakni kemampuan intelektual, kemampuan emosional, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan interpersonal, kemampuan berpikir kritis dan strategis, motivasi dan komitmen, kesadaran diri, serta kemampuan belajar cepat dan mengembangkan diri.

“Jadi ini yang harus dijabarkan dalam kampus merdeka, bukan sekadar dogma. Bagaimana paradigmanya untuk mengubah, karena outcome-nya yang dipastikan,” ujarnya dalam webinar nasional dengan tema Transformasi Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Mendukung Konsep MBKM yang diselenggarakan Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), pada Senin (29/11/2021).

Saat ini, ujarnya, paradigma perpustakaan harus berubah. Dijelaskan, fungsi perpustakaan sebesar 10 persen menjalankan manajemen koleksi, 20 persen menjalankan manajemen ilmu pengetahuan, dan 70 persen menjalankan transfer ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, pustakawan juga harus bertransformasi, tidak sekadar menunggu pemustaka dan menjaga buku.

“Sekarang bagaimana pustakawan menyiapkan ilmu yang relevan dengan perkembangan yang ada. Karena sekarang perpustakaan itu tidak boleh ditanya satu buku, dia kasih satu buku. Tidak bisa tidak, jika pemustaka membutuhkan 10 informasi, berikanlah 100. Itu inovasi. Kalau minta satu, kita berikan satu, nah sudah selesailah perpustakaan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UI, Ari Kuncoro, menjelaskan MBKM merupakan kebijakan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan lulusan pendidikan tinggi sesuai dengan kebutuhan zaman dan kebutuhan dunia industri. MBKM memberi kebebasan dan otonomi kepada pendidikan dan merdeka dari birokrasi.

Dia menyebut, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat saat ini telah membawa perubahan yang sangat pesat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perpustakaan. Oleh karena itu, diperlukan transformasi pembelajaran untuk membekali dan menyiapkan lulusan pendidikan tinggi agar menjadi generasi yang unggul dan siap menghadapi tantangan zaman.

“Peran perpustakaan dan pustakawan dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi lulusan perguruan tinggi, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman. Dalam rangka implementasi kebijakan MBKM, maka dibutuhkan pustakawan yang profesional dan kompeten yang mampu mendukung ekosistem riset di perguruan tinggi,” urainya.

Untuk mendukung MBKM, perpustakaan didorong untuk membekali diri dan berproses karena menjadi ahli tidak bisa dilakukan secara instan. Tidak hanya itu, transformasi perpustakaan perguruan tinggi juga dapat dilakukan pada sisi koleksi, layanan, ruang, dan operasional, serta fungsi-fungsi perpustakaan sesuai dengan generasi dan perkembangan zaman.

Reporter: Hanna Meinita

 



Diunggah oleh admin