|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

15 Oct 2021

Memainkan Peran Baca dan Tulis di Era Digital

Perkembangan teknologi informasi menjadikan internet dan smart device sebagai kebutuhan sehari – hari. Berdasarkan survei dari We Are Social pada bulan Januari 2021, menunjukkan pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa. Jumlah ini meningkat sekitar 27 juta jiwa atau sekitar 16% jika dibandingkan dengan bulan Januari 2020.

Di lain sisi, perkembangan digital memberikan sisi positif pun juga memberi pengaruh dalam minat literasi baca tulis. Kegiatan yang bersifat konvensional berubah menjadi kegiatan yang terdigitalisasi, termasuk dalam kegiatan membaca dan menulis. Bagaimana kondisi baca tulis di era digital? Bagaimana seharusnya teknologi informasi ikut andil mendorong untuk meningkatkan literasi di Indonesia?

Untuk mendiskusikan hal tersebut, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) mengadakan webinar Duta Baca Indonesia tentang literasi baca tulis di era digital yang disiarkan melalui Zoom Meeting Cloud dan Youtube Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca (PAPPBB) pada hari Jum’at pagi. (15/10/2021)

Menurut Kepala PAPPBB, Adin Bondar, literasi saat ini menjadi hal yang strategis dan menjadi pondasi yang harus menjadi budaya bagi masyarakat.

 “Budaya membaca dan menulis di era saat ini bukan sebagai pilihan, tetapi suatu keharusan. Karena eksistensi manusia itu adalah bagaimana manusia mampu membangun suatu produk pemikiran, ide gagasan, inovasi baru sehingga menjadi manusia yang memiliki kompetensi dan berdaya saing,” ujarnya.

Literasi berbicara tentang cognitive skill yaitu penguasaan ilmu pengetahuan sehingga seseorang cakap dalam hidup dan mampu memahami, menganalisis dan mensintesiskan sehingga tercipta produk baru yang inovatif.

Founder Kelas Menulis Daring, Muhammad Shuban menyatakan bahwa literasi digital membawa dampak positif di masyarakat.

“Literasi digital saat ini mengharuskan kita untuk melek, dengan kata lain yang belum terlihat dan terbaca mereka harus melek pada kondisi kekinian sehingga tidak mendapatkan banyak hoaks dan bisa memfilternya,” terang Shuban.

Shuban menandaskan bahwa problem literasi digital ini sangat kompleks sehingga perlu edukasi terutama pondasi literasi baca tulis yang harus selalu ditumbuhkan.

“Maka saya sangat mendukung ketika Perpusnas mengagas buku yang merangkum 50 penulis Indonesia yang mengelola taman bacaan atau komunitas literasi, dari sini maka akan lahir penulis dan pegiat literasi yang literat,” imbuh Shuban.

Kelas Menulis Daring merupakan komunitas penulis yang telah meluncurkan majalah digital bernama “Elipsis” yang terbit setiap bulan.

Sejalan dengan komunitas Kelas Menulis Daring, founder komunitas Menulis Aja Dulu, Irma Susanti turut memberikan pandangannya terkait pemanfaatan teknologi digital dalam korelasi best practice yang menghasilkan output di komunitas tersebut.

“Kami mempunyai program lomba menulis yang digawangi juri yang kompeten. Ruang belajar kami setting secara virtual. Terkait output, banyak penulis di komunitas kami yang mengirimkan karya ke media massa,” terang Irma.

Selain kegiatan menulis, di komunitas tersebut juga menyelenggarakan kegiatan membaca.

“Kami mempunyai program BAD, Baca Aja Dulu, mengundang para anggota untuk live Facebook dan mereka bercerita tentang buku yang telah mereka baca untuk diceritakan ke lain anggota,” lanjutnya.

Duta Baca Indonesia yang baru saja meluncurkan buku berjudul “Gong Smash”, Gol A Gong, menanggapi kegiatan yang dilakukan oleh kedua komunitas tersebut.

“Yang pertama, aktivitas membaca buku harus tetap dilaksanakan yang outputnya resensi buku dan disebarluaskan. Selanjutnya tentang kualitas. Penggerak literasi harus memegang PUEBI sebagai tuntunan dalam menulis,” terangnya.

Literasi baca tulis harus disandingkan bukan hanya salah satu saja yang dikembangkan. “Jangan hanya misalnya membudayakan membaca saja, tetapi harus dua sekaligus, membudayakan membaca dan menulis. Karena dalam enam literasi dasar memang disandingkan,” imbuh Gol A Gong.

 

Reporter : Anastasia Linawati



Diunggah oleh admin