|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

01 Oct 2021

Literasi Berkolaborasi dengan Musik dan Ekonomi Kreatif

Jakarta—Literasi memiliki posisi yang sangat strategis dan bisa disandingkan dengan beragam bidang usaha.

Kolaborasi literasi dengan musik dan ekonomi kreatif (ekraf) merupakan hal yang dapat terjadi. Duta Baca Indonesia (DBI) periode 2021-2025 Gol A Gong menyatakan hal ini harus dilakukan karena kolaborasi dapat menyempurnakan upaya dari seluruh elemen masyarakat dalam membudayakan literasi.

“Jadi ketika saya dikukuhkan sebagai DBI, saya sadar tidak sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Nanti yang menyempurnakan saya itu, teman-teman semua, berarti ada pegiat literasi, pustaka bergerak, forum lingkar pena, dan banyak banget. Saya mencoba berkolaborasi dengan mereka,” jelasnya dalam webinar dengan tema Literasi Kolaborasi yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI secara daring pada Jumat (1/10/2021).

Penulis novel Balada si Roy ini menjelaskan, musik bisa menjadi unsur dalam menggalakkan literasi karena bermakna heroik. Sementara ekraf merupakan dampak dari berliterasi tinggi. Buku lifeskill merupakan sumber dari ekonomi kreatif. Membaca buku tersebut akan menciptakan insan yang kreatif dan produktif, terutama kewirausahaan.

Sementara itu, musisi yang aktif di dunia literasi Ferry Curtis mengungkapkan bangsa yang maju adalah bangsa pembaca. Ini tertulis dalam lirik lagunya berjudul Ayo ke Pustaka. Pria yang kerap tampil dengan gitarnya tersebut menjelaskan, lagu tersebut dia ciptakan merupakan hasil dari kegundahan yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Pengalaman membuatnya sangat kesulitan dalam menempuh pendidikan. Oleh karena itu, lagu ini dibuat untuk mengapresiasi seluruh pengalaman tersebut.

“Saya pernah menemui hal paling susah dalam pendidikan, saya merasakan buku itu sangat menolong. Ketika buku dan guru memberikan semangat yang tidak pernah luntur, saya berterima kasih kepada mereka. Lantas saya sebagai pemusik, apa yang ingin saya lakukan untuk ucapan terima kasih,” ungkapnya.

Penulis lagu berjudul Jangan Berhenti Membaca ini menegaskan lagu berbunyi karena lirik. Penulis lagu tentang literasi harus literat. Oleh karena itu, membuat lagu literasi harus memahami sastra, dapat menulis puisi, dan peka kepada kondisi sosial masyarakat.

Ketua IKAPI Banten Andi Suhud T mengatakan ekraf memiliki kaitan erat dengan literasi. Dia menjelaskan, selama ini, masyarakat berpendapat bahwa unsur ekraf yang berhubungan dengan literasi adalah penerbitan. Padahal sesungguhnya, 17 subsektor ekraf memiliki kaitan dengan literasi.

Pendiri Forum Ekonomi Kreatif (Ferkraf) Banten ini menegaskan, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, namun juga kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan untuk berbahasa atau berkomunikasi.

Pada masa pandemi Covid-19, Fekraf menekankan pada kolaborasi. Kala pandemi bermula, ekraf merupakan bidang usaha yang terdampak. Para pelaku di bidang tersebut pun berkumpul untuk mencari solusi.

“Kami menemukan solusi setelah berbincang, dibentuk Fekraf untuk keluar dari keterpukuran. Salah satu produknya adalah sepatu dari Ciracas, Banten. Dia justru makin menguat kala pandemi dengan kolaborasi produk lokal,” tuturnya.

Dia optimistis selama pandemi, minat untuk membaca dan membeli buku masih tinggi. Hal ini berdasarkan pengalamannya pada Mei 2021 dalam perhelatan Hari Buku Nasional. Berlangsung selama lima hari di tempat yang cukup terpencil di Serang, Suhud tidak menyangka animo tinggi masyarakat dalam berkunjung dan membeli buku.

“Ini adalah perayaan pertama harbuknas di Banten, khususnya Serang. Tidak kurang lebih 2.000 pengunjung setiap hari selama lima hari. Dan mereka sebagian besar membeli, tidak hanya berkunjung. Terjual hampir setengah miliar rupiah, orang tidak hanya membeli satu dua buku. Nah ini parameter yang sangat di luar dugaan dan masa pandemi,” urainya.

Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas Adin Bondar menyatakan kegiatan literasi melibatkan seluruh komponen bangsa. Membangun budaya literasi harus dalam bentuk gerakan sosial sehingga semua bisa berbicara tentang literasi.

Literasi mengalami perkembangan yang dinamis, di mana kehadiran literasi harus memberikan impact. Literasi harus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yakni pada tujuan akhir literasi menciptakan barang dan jasa berkualitas dalam persaingan global.

“Pertumbuhan ekonomi dalam perkembangan digital, kuncinya ada di pengetahuan. Maka peluang bangsa kita di mana 2045 Indonesia akan menghadapi bonus demografi, ini langkah awal kita untuk membentuk elemen masyarakat, bagaimana budaya literasi di negara kita akan kita dorong dan tumbuh bersama. Sehingga pada 2045, anak-anak kita saat ini, bisa memiliki masyarakat berpengetahuan, jadi mereka berpikir terbuka dan kritis,” pungkasnya.

Reporter: Hanna Meinita

Screenshot: Wara Merdeka

 



Diunggah oleh admin