|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

14 Sep 2021

Gerakan Desa Membaca Sebagai Upaya Terwujudnya Masyarakat Tangguh

Jakarta - Sebagai salah satu dari 7 Agenda Pembangunan RPJMN IV tahun 2020 - 2024 yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, Membangun Kebudayaan dan Karakter Bangsa dapat diartikan sebagai cara Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan SDM unggul yang memililki karakter Mentalitas disiplin, etos kemajuan, etika kerja, jujur, taat hukum dan aturan, tekun, dan gigih. Pembangunan karakter tesebut dapat dilaksanakan melalui peningkatan budaya literasi.

Tingkat literasi masyarakat Indonesia yang masih dianggap relatif rendah membuat Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi) yang bekerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) menyelanggarakan Simposium Nasional Gerakan Desa Membaca secara daring pada hari selasa (14/09/2021) dengan mengusung tema Terwujudnya Masyarakat Tangguh Melalui Pustaka Bergilir Buku Masuk Rumah”

Gagasan tersebut didukung pula oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT, Taufik Madjid. Ia mengatakan program ini mendukung program yang ada di Kemendes PDTT yaitu SDGs Desa.

“Dana Desa bisa dipakai masyarakat untuk membeli buku dan menyediakan perpustakaan di desa khususnya supaya ada peningkatan kualitas masyarakat” Ungkap Taufik Madjid

Senada dengan pernyataan tersebut Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda mengatakan selalu mendorong peningkatan budaya literasi masyarakat dengan berkoordinasi dengan beberapa stake holder seperti kementerian pendidikan dan kebudayaan. Ia menambahkan “Isu literasi harus menjadi common sense semua pihak dan tidak menjadi common sense segelintir pihak saja” 

Pada kesempatan kali ini Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal menyampaikan pemahaman terkait literasi dan kendala-kendala yang dihadapai dalam peningkatan budaya literasi. “Literasi sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan membaca, memahami, mengapresiasi  suatu bacaan, dan mengaplikasikannya ke dalam keterampilan (menulis, berbicara, bernalar, berkarya, berperilaku, bereksplorasi, berinovasi, berkreasi, dan memperbaiki diri)”. jelas Fasli Jalal. Ia juga berharap agar seluruh stake holder yang ada di masyarakat dapat bahu membahu dalam upaya peningkatan budaya literasi dan mengatasi masalah yang timbul.

Sementara itu Perpusnas yang diwakili oleh Dedi Junaedi, Pustakawan Ahli Utama menyampaikan perpusnas turut mengambil peran dalam upaya peningkatan budaya literasi dengan menggalakan  program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.  Program tersebut melibatkan masyarakat dengan cara menggunakan perpustakaan yang ada di desa atau daerah mereka agar dapat ,engembangkan keterampilan berbasis potensi lokal, agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan dan juga mengembangkan masyarakat untuk memiliki kemampuan dalam berwirausaha termasuk di dalamnya menciptakan peluang kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar sehingga tercipta masyarakat yang sejahtera.

 

Reportase: Fauzan Abdi

 



Diunggah oleh admin