|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

07 Sep 2021

Bagaimana Perpustakaan Nasional Australia Menghadapi Pandemi?

Canberra, Australia--Sehari sebelum pelaksanaan konferensi kepala perpustakaan nasional (CDNL), diskusi prakonferensi bersama tiga negara diselenggarakan melalui Zoom pada Selasa (7/9/2021). Tiga perpustakaan nasional yang hadir pada kesempatan tersebut, yaitu Australia, Indonesia, dan Jepang.

Diskusi prakonferensi membahas seputar upaya yang dilakukan perpustakaan nasional di tiap negara selama pandemi, apa saja yang menjadi tantangan, kekuatan, dan perjuangan menghadapi pandemi.

Kepala Perpustakaan Nasional Australia Marie Louise Ayres menjelaskan situasi pada awal pandemi yang diakui dirinya dan juga staf perpustakaan lainnya sebagai tantangan terberat karena ketidakjelasan kebijakan.

Saat itu kebijakan pemerintah menyebabkan kebingungan di tengah masyarakat, di mana pemerintah federal dan pemerintah daerah berseberangan pendapat. Ada pun Perpustakaan Nasional Australia berada di bawah pemerintah federal yang menginginkan perpustakaan tetap buka, sementara pemerintah daerah setempat yang juga bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat menginginkan perpustakaan ditutup. Namun demikian, kebingungan tersebut hanya berlangsung tahun lalu dan sekarang semuanya sudah jelas.

Selain tantangan tersebut, Marie mengungkapkan sisi lain yang lebih baik, yaitu bahwa Perpustakaan Nasional Australia telah menjadi perpustakaan digital yang besar dan telah menjangkau 30 juta orang melalui layanan online per tahun. Oleh karena itu, perpustakaan masih tetap dapat melayani dengan baik.

“What was most rewarding for us was we are already a very big digital library,” tegas Marie.

Keuntungan lainnya, yaitu populasi yang sedikit dengan wilayah yang luas, karenanya Marie yakin akan tetap dapat melayani masyarakat walaupun perpustakaan tutup.

Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi masyarakat Australia adalah tidak memahami akan seberapa serius krisis yang disebabkan pandemi dan berapa lama krisis akan berlangsung. Oleh karena itu, Perpustakaan Nasional Australia memanfaatkan sebaik mungkin perpustakaan digital yang telah dimiliki dan meyakinkan pemerintah untuk berinvestasi lebih banyak pada perpustakaan digital.

Dalam hal kesiapan menghadapi bencana atau krisis, seperti halnya Jepang, Australia memiliki rencana bisnis lanjutan. Berangkat dari pengalaman dua bencana besar yang telah dialami Australia, Perpustakaan Nasional Australia tahun lalu menyelesaikan penulisan ulang dokumentasi, rencana, dan kerangka kerja yang lebih memperhitungkan tingkat ketidakpastian yang tinggi jika bencana terjadi lebih lama. Marie berpendapat bahwa kita harus memikirkan perencanaan bisnis lanjutan dengan cara yang berbeda.   

Koleksi Perpustakaan Nasional Australia juga dimanfaatkan pemustaka karena terdapat koleksi tentang bencana yang telah dihadapi Australia. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia yang mengembangkan Coronapedia, Perpustakaan Nasional Australia juga mengembangkan koleksi dengan menghimpun situs-situs web yang dianggap penting terkait Covid-19, termasuk dari wilayah Asia.

“Our collections are useful because they tell researchers and citizens how our countries have dealt with previous disasters. Also, we are building collections,” jelasnya.

Pada dasarnya, lembaga perpustakaan berkutat seputar koleksi, dan saat ini bagaimana upaya kita mengembangkan koleksi di masa-masa sulit dengan cara yang cepat dan tentunya memanfaatkan koleksi digital yang ada dengan semaksimal mungkin.

Perpustakaan Nasional Australia juga bekerja sama dengan perpustakaan negara bagian dan perpustakaan daerah dan senantiasa berdiskusi mengenai bagaimana mengelola pekerjaan dan staf perpustakaan.

 

Reporter: Eka Cahyani

 



Diunggah oleh admin