|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

26 Aug 2021

Belajar dari Masa Lalu untuk Menatap Masa Depan

Jakarta—Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII yang digelar secara virtual pada hari kedua penyeenggaraannya menghadirkan Prof. Oman Fathurahman seorang filolog ternama dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai keynote speaker. Simposium ini juga ditayangkan di channel YouTube Perpustakaan Nasional RI.

Pidato kunci yang dipaparkannya pada Rabu (26/8/2021) bertema “Naskah Nusantara, Keragaman, dan Moderasi Indonesia.” Melalui paparannya Oman yang mengampu Ngariksa (Ngaji manuskrip kuno Nusantara) ingin menjelaskan apa saja pelajaran yang dapat dipetik dari dunia pernaskahan Nusantara untuk menatap Indonesia yang moderat.

Oman menceritakan keragaman yang ia temui dalam Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) menggambarkan keragaman masyarakat Indonesia, yang walaupun berbeda tetapi saling membutuhkan.

“Betapa beragamnya warisan tertulis manuskrip yang kita miliki. Dan inilah Indonesia,” tegasnya.

Naskah Nusantara, jika dirunut, sudah berinteraksi dengan agama yang ada di wilayah Nusantara sejak abad ke-7, yang terlihat dari naskah yang memiliki pengaruh dari agama Hindu-Budha dari India, yaitu berbahasa Sansekerta dan beraksara Pallawa.

Hal tersebut tentunya bertentangan dengan pendapat sebagian orang yang menganggap tradisi baca-tulis masyarakat Indonesia baru ada sejak dikenalnya aksara Latin. Justru tradisi literasi masyarakat Indonesia dapat dikatakan luar biasa karena telah mengenal aksara sejak sebelum masuknya Islam ke Indonesia.

Pada beberapa naskah juga terlihat ada pengaruh dari masa peralihan zaman Hindu-Budha ke Islam, seperti Hikayat Seri Rama, Hikayat Pandawa Jaya, dan Hikayat Maharaja Boma yang merupakan cerita bercorak Hindu tetapi ditulis menggunakan aksara Jawi yang dipengaruhi Islam. Dengan demikian, dapat dikatakan terlihat adanya toleransi pada zaman tersebut, yang kurang lebih dipahami sebagai menerima kehadiran perbedaan tanpa saling mengganggu.

Sedangkan pada naskah Islam terdapat pengaruh dari India, Arab, dan Persia. Sayangnya, dalam konteks tradisi Islam, Indonesia belum dianggap penting, seperti Iran dan Turki sehingga manuskrip Islam dan masa peralihan Hindu Islam di Nusantara belum dijadikan sebagai sumber penelitian oleh sarjana-sarjana di dunia. Padahal ada hubungan resiprokal antara Nusantara dan Islam, sehingga bukan hanya Islam yang memberi pengaruh pada Nusantara, tapi Nusantara juga memberi pengaruh terhadap dunia Islam.

“Manuskrip keagamaan Nusantara merupakan hasil dari pertemuan ragam ideologi, tafsir, afiliasi, budaya, dan bahasa yang secara tidak langsung menggambarkan adanya jejaring dan hubungan pada masa itu. Banyak naskah yang dihasilkan dari proses adaptasi, vernakularisasi, dan penerjemahan dalam konteks lokal,” terang Oman.

Oleh karena itu, peradaban Islam di Nusantara tidak kalah dengan  negara lain. Dari manuskrip-manuskrip itu pula kita dapat mengetahui adanya konflik pada masa itu dan ada pula manuskrip yang menjadi penengah konflik tersebut. Bahkan konsep moderasi juga telah dipaparkan pada suatu manuskrip yang menyatakan lebih baik menghimpun pendapat-pendapat yang berbeda dari pada mengunggulkan salah satunya.

Dari manuskrip-manuskrip tersebut kita dapat belajar dari masa lalu tentang bagaimana menengahi dan menangani konflik yang terjadi karena keragaman pendapat, apalagi Indonesia merupakan negara yang majemuk.

 

Reporter: Eka Cahyani

Dokumentasi: Dewi Ambarasih

 



Diunggah oleh admin