|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

24 Aug 2021

Sadar Membaca… Sadar Menulis…

Jakarta – Kreatifitas membaca harus dilanjutkan dengan kreatifitas menulis.

Penulisan, produksi, dan publikasi merupakan satu ekosistem yang saling berhubungan dalam upaya menghadirkan buku-buku di tengah masyarakat.

Inkubator Literasi Pustaka Nasional yang diinisiasi Perpusnas Press pertama kali digelar di tahun 2020 dan berlanjut di tahun 2021. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi momentum positif untuk memulai tradisi dan iklim penulisan, serta dalam waktu yang sama menyalurkan pemikiran positif dan inovatif yang dapat mendorong peningkatan budaya literasi di masyarakat.

Masih dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-76 Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI melalui Perpusnas Press menggelar Talkshow dan Peluncuran Inkubator Literasi Pustaka Nasional Kota Blitar dan Sekitarnya dengan tema “Penguatan Nilai Kebangsaan Berbasis Kearifan Lokal” secara daring melalui Zoom pada Selasa (24/8/2021).

Dinyatakan oleh Kepala Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Perpunas, Sri Marganingsih, gelaran pertama Inkubator Literasi Pustaka Nasional hanya berlangsung di Perpusnas, akan tetapi di tahun ini sudah merambah dan direplikasi di beberapa daerah.

“Pelaksanaan Inkubator Literasi Pustaka Nasional tahun 2021 juga sudah dilakukan di Kabupaten Jember (Jawa Timur), Kota Depok (Jawa Barat), Kota Banjar (Jawa Barat), dan Kota Tebing Tinggi (Sumatera Utara),” ujar wanita yang hangat disapa ibu Marga ini.

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus Penulis Buku yang sudah menghasilkan lebih dari 20 judul buku, Muhsin Kalida, pada kesempatan ini menjelaskan lebih jauh mengenai metode psychowriting yang telah ia implementasikan. Baginya metode psychowriting adalah tentang bagaimana memunculkan ide penulisan dengan cara yang mengasyikkan bersamaan dengan ilmu psikologi.  

“Psikologi itu membuat orang yang tidak mau menjadi mau atau yang tidak suka menjadi suka. Jadi harus memakai otak kanan dan kiri untuk bisa menghadirkan ide menulis, salah satunya dengan cara bermain-main. Ada psikologi di menulis itu asyik,” jelas Muhsin.

Pembina Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Tulungagung, Ngainun Naim, menyambut baik rencana perihal Kota Blitar yang akan menjadi lokus berikutnya gelaran Inkubator Literasi Pustaka Nasional tahun 2021. Hal tersebut dikarenakan, menurutnya, kondisi budaya literasi di Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek sedang bergerak dalam aspek literasi.

“Selama beberapa tahun terakhir, para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) diwajibkan menulis essay tentang budaya desa. Komunitas-komunitas literasi yang terdiri dari guru atau siswa atau masyarakat umum, mampu menerbitkan buku secara rutin. Kata kuncinya itu mau dan mampu untuk bersama-sama menumbuhkembangkan budaya literasi,” papar Naim.

Founder Ruang Baca Komunitas yang juga merupakan salah satu penulis terpilih pada Inkubator Literasi Pustaka Nasional tahun 2020, Sofyan Munawar, berpendapat bahwa energi literasi tetap harus dihidupkan meskipun berada di tengah masa pandemi Covid-19. Untuk itu, dibutuhkan sinergitas, kolaborasi, dan inspirasi dari berbagai pihak dalam penyelenggarakan kegiatan literasi berbasis digital.

“Pandemi ini bisa dikatakan sebagai hambatan atau tantangan, namun bisa dipersepsikan menjadi peluang dan kesempatan agar kegiatan literasi bisa terus eksis,” ujar Sofyan.

Menanggapi pernyataan dari tiga narasumber sebelumnya, Pemimpin Redaksi Perpusnas Press, Edi Wiyono, menyampaikan bahwa kegiatan Inkubator Literasi Pustaka Nasional mengambil peran untuk menjawab tantangan yang ada dalam hal peningkatan literasi masyarakat dan penerbitan buku di Indonesia.

“Ini adalah tentang bagaimana Inkubator Literasi Pustaka Nasional bisa mendorong dan memberikan ruang kepada penulis yang tidak memiliki kesempatan untuk menerbitkan karyanya,” ucapnya.

Lebih lanjut Edi mengungkapkan bahwa isu kearifan lokal sudah mulai tersingkirkan, untuk itu penjagaan harus diwujudkan dengan maksimal dalam bentuk dokumentasi berupa buku.             

Reporter: Basma Sartika



Diunggah oleh admin