|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

24 Aug 2021

Capaian Serah Simpan KCKR Menunjukkan Hasil Positif  

Jakarta—Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam (KCKR) di Indonesia menunjukkan hasil positif.

Penerbit dan produsen karya rekam di Indonesia disiplin menyerahkan hasil karya cetak dan karya rekam (KCKR) ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. Sepanjang Januari-Juli 2021, Perpusnas mencatat sebanyak 311.956 eksemplar KCKR diserahkan oleh penerbit dan produsen karya rekam. Tahun ini, Perpusnas menargetkan 367.500 eksemplar KCKR.

Sebagai perbandingan, sepanjang 2020, tercatat sebanyak 420 ribu eksemplar KCKR dari 355.630 judul yang dihimpun Perpusnas dari 3.653 penerbit dan produsen karya rekam.

Angka ini menjadi catatan mengesankan, dan menunjukkan kepatuhan penerbit dan produsen karya rekam dalam memenuhi amanat Undang-undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan KCKR (SS KCKR). UU mengamanatkan setiap penerbit dan produsen karya rekam menyerahkan hasil karyanya masing-masing ke Perpustakaan Nasional dan perpustakaan provinsi tempat domisili.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan kepatuhan ini menjadi hal yang membanggakan dalam upaya mewujudkan koleksi nasional dan melestarikannya sebagai hasil budaya bangsa. Namun dia meminta jajarannya agar koleksi serah simpan dihimpun sekaligus juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Sejauh mana pemanfaatan karya-karya itu di tengah masyarakat kita. Saya sebagai Kepala sangat berharap bahwa jajaran saya, bisa menjelaskan kepada masyarakat Indonesia dan dunia, bahwa karya-karya yang dihasilkan oleh orang-orang intelektual itu telah dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat Indonesia dan dunia,” jelasnya dalam kegiatan dengan tema ‘Melalui Kepatuhan SS KCKR Karya Bangsa Lestari Indonesia Tangguh dan Tumbuh’ yang diselenggarakan secara virtual pada Selasa (24/8/2021).

Syarif Bando menyebut, perpustakaan merupakan institusi jembatan pengetahuan masa lampau, masa kini, dan masa datang dari semua karya yang dihasilkan penulis di Indonesia. Dengan menyerahkan koleksi KCKR, menurut Syarif Bando, para penulis, penerbit dan produsen karya rekam merupakan sosok istimewa karena menjadi jembatan ilmu pengetahuan bagi bangsa Indonesia.

“Karena memang satu peluru bisa menembus satu kepala, tetapi sejatinya telah membunuh jutaan nilai kemanusiaan. Tapi satu buku yang sudah didigitalkan, satu karya rekam yang sudah didigitalkan, akan menembus miliaran kepala manusia dan menumbuhkan nilai kemanusiaan baru,” urainya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Arys Hilman menyatakan akses merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi terjadinya aktivitas literasi. Karenanya, dia mendukung upaya untuk memberdayakan sumber daya agar masyarakat dapat memanfaatkan sumber-sumber literasi, seperti perpustakaan, toko buku, dan media massa.

Ikapi mencatat jumlah buku elektronik yang didaftarkan ke Perpusnas untuk mendapatkan International Standard Book Number (ISBN) terus bertambah setiap tahun. Pada 2017, sebanyak 2.819 judul buku elektronik yang diajukan mendapatkan ISBN, dan meningkat pada 2019 menjadi 17.141.

Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan nilai penjualan buku. Data dari salah satu jaringan toko buku besar di Indonesia menunjukkan total judul buku baru yang dijual mengalami penurunan sejak 2017 hingga 2020. Penurunan terbesar terjadi pada 2020 setelah Indonesia mengalami pandemi Covid-19 yakni sebanyak 6.587 judul baru, dibandingkan 2019 yang sebanyak 13.882 judul buku baru.

General Manager Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) Braniko Indhyar menjelaskan sejak 2018, pihaknya dipercaya Perpusnas untuk membuat dan mengembangkan sistem yang membantu para produsen karya rekam menyerahkan karya rekamnya ke Perpusnas. Melalui layanan daring, ASIRI membuat sistem permintaan ISRC (seperti nomor induk lagu) yang terintegrasi dengan sistem deposit Perpusnas.

“Total konten yang sudah diserahkan ASIRI ke Perpusnas adalah 14.500 konten. Saat ini ASIRI sudah mengupayakan asosiasi produser lain dan perwakilan musik tradisional agar bisa menyerahkan salinan karya rekamnya ke Perpusnas,” ungkapnya.

Mengingat perkembangan teknologi karya rekam, dia berharap Perpusnas memperhatikan infrastruktur, terutama storage, jaringan, maintenance, dan format baru penyimpanan di masa mendatang. “Harapan ASIRI adalah dapat menjadi bagian dalam menjaga dan melestarikan karya anak bangsa, khususnya di bidang lagu dan musik,” harapnya.

Sekretaris Jenderal Serikat Perusahaan Pers Asmono Wikan mengajukan tiga hal kepada Perpusnas terkait penyerahan SS KCKR. Dia berharap sosialisasi UU tentang SS KCKR dilakukan kepada penerbit dengan cara yang menarik dan mengundang partisipasi. Selain itu, dia meminta agar tersedianya ruang penyimpanan karya cetak, terutama surat kabar dan majalah, yang memadai di perpustakaan daerah.

“Yang terakhir, kolaborasi. Adanya akvitas Perpusnas bersama penerbit untuk memelihara kesadaran kepatuhan atas pelaksanaan UU SS KCKR. Sekaligus meliterasi publik agar mau mendayagunakan koleksi perpustakaan,” pungkasnya.

Reporter: Hanna Meinita



Diunggah oleh admin