|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

16 Aug 2021

Bangun Kesadaran Sejarah dan Nasionalisme dengan Membaca

Jakarta - Kesadaran sejarah tidak mungkin dibangun tanpa membaca buku. Dalam hal ini, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI memegang peranan penting untuk memberikan akses bahan bacaan kepada masyarakat terutama para generasi muda. Sehingga diharapkan mereka memiliki pengetahuan sejarah yang memadai dan ke depannya ketika kesadaran sejarah sudah ada, generasi muda mampu mempercepat proses pembangunan pembentukan jiwa integritas untuk menghadapi tantangan global.

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta merupakan peristiwa besar bangsa Indonesia yang harus selalu diperingati dan kenang setiap tahunnya. Memperingati dan mengenang peristiwa Proklamasi Kemerdekaan mampu membangun spirit kebangsaan dan merajut kesatuan negara kita tercinta.

Berbicara tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia sama dengan mengulas jasa para pejuang. Pejuang adalah mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raga agar kita bisa merasakan nikmatnya merdeka seperti saat ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando saat membuka kegiatan webinar dengan tema “Proklamasi Indonesia Merdeka 1945-1950: Data dan Fakta” yang diselenggarakan secara daring, pada Senin (16/8/2021).

Menurut Syarif Bando, dulu, para pejuang melawan musuh yang terlihat, sedangkan generasi saat ini berjuang melawan ketidakberdayaan dalam mempertahankan Sumber Daya Alam (SDA) yang habis diekploitasi oleh negara lain. Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya kemampuan dalam mengelola SDA secara baik untuk memberikan kesejahteraan semaksimal mungkin kepada masyarakat Indonesia.

“Upaya Perpustakaan Nasional dalam memberikan akses bahan bacaan seluas-luasnya kepada masyarakat mengambil bagian terkecil dalam mencerdaskan anak bangsa,” ujarnya.

Sependapat dengan yang disampaikan oleh Kepala Perpusnas, Akademisi sekaligus Pengamat Sejarah dari Universitas Indonesia, Didik Pradjoko mengatakan kesadaran sejarah hanya bisa dibangun dengan rajin membaca buku. Karena, membaca menjadi satu kunci pintu masuk terhadap pengetahuan.

Dalam paparannya, Didik menerangkan bahwa kelompok inteligensia yang ada dalam perjuangan kebangsaan Indonesia terdiri dari anggota-anggota terpelajar yang memberikan penerangan kepada masyarakat tentang ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Dengan kata lain, kelompok inteligensia berperan sebagai aktivis pergerakan kebangsaan.

“Gerakan kelompok inteligensia sangat penting dalam menyuarakan pendapat antikolonial pada saat itu. Diharapkan, pelajar dan mahasiswa di masa sekarang bisa meneladani tokoh-tokoh kelompok inteligensia ini untuk meneruskan perjuangan merek,” harap Didik.

Pada kesempatan yang sama, Dosen Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, M. Yuanda Zara menambahkan bahwa pada Periode Revolusi tahun 1945-1949, perjuangan kemerdekaan Indoesia tidak hanya diperjuangkan di medan tempur ataupun di meja diplomasi melainkan juga di medan pikiran.

“Perjuangan di medan pikiran adalah melalui komunikasi persuasif atau dikenal juga sebagai propaganda politik,” ungkap Yuanda.

Peran propaganda sebagai pilar perjuangan dinilai penting karena jumlah penduduk Indonesia banyak dan terdiri dari ratusan etnis, lalu terdapat perbedaan pandangan yang ekstrim tentang arti ‘kemerdekaan’, kemudian wilayah Indonesia juga sangat luas dengan jaringan informasi dan transportasi yang buruk. Untuk itu, usaha awal propaganda yang dilakukan diantara melalui penyebaran dari mulut ke mulut, aksi pengibaran bendera, diseminasi via radio, penerbitan oleh koran dan majalah, pengetikan tangan berkali-kali, serta melalui ‘rapat samudera’.

Adapun aktor yang berperan dalam proses propaganda pada masa itu antara lain Kementerian Penerangan, BP KNIP, jurnalis nasionalis, dan penyiar radio. Tidak hanya berbentuk tulisan, aksi propaganda juga dilakukan menggunakan tampilan visual berbentuk karikatur dan juga grafiti.

Reporter: Basma Sartika



Diunggah oleh Tuty