|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

28 Jul 2021

Perpustakaan Desa Bukan Sekadar Tempat Membaca  

Jakarta—Para kepala desa diminta agar mengoptimalkan pemanfaatan perpustakaan desa untuk warganya.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Muhammad Syarif Bando menyatakan kualitas perpustakaan desa ditentukan oleh manfaatnya untuk warga. Karenanya, perpustakaan desa harus menjadi tempat belajar masyarakat, terutama para perempuan, dengan menggali konten dari buku yang menjadi koleksinya.

“Kalau perpustakaan desa dimaknai tempat untuk semua orang membaca, siapa yang mau membaca di perpustakaan desa, ketika mereka sibuk cari nafkah di kebun dan sawah? Ini transformasinya yang harus dijelaskan, perpustakaan adalah tempat untuk menyimpan bahan perpustakaan, yang kemudian itu akan dijadikan sebagai panduan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Jadi kepala desa harus punya kegiatan untuk mencerdaskan masyarakatnya, sesuai dengan kebutuhannya,” ungkapnya.

Syarif Bando menambahkan, sejak 2018, Perpusnas melalui program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial menjangkau perpustakaan desa untuk bertransformasi menjadi tempat pemberdayaan masyarakat. Melalui penerapan buku ilmu terapan yang ada di perpustakaan dan pendampingan dari pustakawan serta pengelola perpustakaan, masyarakat bisa mengimplementasikan ilmu tersebut dengan memanfaatkan kekayaan alam yang ada di sekitarnya, sehingga semakin berdaya dan sejahtera.

Kaum perempuan dinilai memiliki potensi besar untuk hal ini. Syarif Bando menyebut perempuan adalah sosok yang kreatif. Dia mencontohkan, banyak kisah sukses dari penerima manfaat program transformasi perpustakaan inklusi sosial yang merupakan kaum perempuan. Karenanya, dia meminta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi agar mendorong kepala desa meningkatkan kemampuan masyarakat melalui literasi.

“Kementerian Desa memastikan para perempuan di desa ini, memproduksi, pastilah sekelas home industry. Sehingga kita tidak butuh impor beras, penerima bansos semakin kurang,” ujarnya dalam webinar dengan tema “Pentingnya Literasi bagi Perempuan dalam Menunjang Perannya sebagai Pejuang Pembangunan Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi” yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu (28/7/2021).

Dia menegaskan literasi bisa mengubah kehidupan individu. Literasi, yang bermakna kedalaman pengetahuan seseorang yang bisa diimplementasikan, akan memperkuat kehidupan masyarakat desa dan partisipasi kaum perempuan.

Pada kesempatan yang sama, Syarif Bando mendorong agar semakin banyak penulis yang lahir dari desa. Para penulis diminta menggali potensi asli dari daerahnya sehingga bisa dikenal oleh daerah lain. Buku mengenai konten lokal juga diharapkan bisa memperkaya kuantitas buku di Indonesia yang dinilai masih kurang. “Kementerian Desa bisa melombakan tentang buku konten lokal desa, baik dari sumber daya alam maupun kearifan lokal. Karena banyak desa di Indonesia yang bisa menerapkan contoh demokrasi terbaik di dunia,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi Taufik Madjid mengutarakan pentingnya literasi bagi perempuan dalam menunjang peran mereka sebagai pejuang pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi. Sesuai UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, kelompok sosial marginal harus menjadi penerima manfaat utama dari pembangunan desa.

“Maka setidaknya ada beberapa afirmasi yang dilakukan secara partisipatif, antara lain menjadikan kelompok-kelompok marginal. Kami menilai karena kami harus mendorong kelompok perempuan yang ada di desa, agar kehadirannya selain bisa mempengaruhi dalam pengambilan keputusan di level desa, juga terlibat aktif dalam pembangunan desa,” jelasnya.

Untuk mendorong hal tersebut, pada 2020, Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mendeklarasikan Desa Ramah Perempuan di Indonesia.

Reporter: Hanna Meinita



Diunggah oleh Tuty