|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

16 Jul 2021

Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Targetkan 514 Kabupaten/Kota  

Jakarta—Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial menargetkan 514 kabupaten/kota di Indonesia untuk menerima manfaat. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Deni Kurniadi menyatakan pada 2024, seluruh perpustakaan kabupaten/kota di Indonesia diharapkan bisa bertransformasi. Dia menambahkan, untuk desa dan kelurahan, Perpusnas membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah maupun masyarakat karena jumlahnya yang mencapai 80 ribu. Sejak program dijalankan pada 2018, Perpusnas sudah menjangkau 2.200 desa di Indonesia.

“Harapan kita tahun 2024 sudah 514 kabupaten/kota yang bertransformasi dari 34 provinsi. Namun kalau kita bicara desa, dari 80 ribu desa/kelurahan di Indonesia tentu saja akan sulit kita laksanakan lewat program APBN. Jadi harus juga didukung oleh APBD, baik di provinsi maupun kabupaten/kota, dan dari dana masyarakat baik dari perusahaan maupun sumbangan-sumbangan filantropi, yang bisa juga membangun perpustakaan desa untuk ikut bertransformasi lewat kegiatan mandiri,” jelasnya dalam wawancara dengan media secara virtual pada Kamis (15/7/2021).

Deni menambahkan, program transformasi bertujuan menciptakan masyarakat sejahtera. Dalam program ini, perpustakaan bermanfaat bagi masyarakat melalui tiga hal. Pertama, perpustakaan menjelma menjadi ruang berbagi untuk masyarakat, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan desa.

“Yang kedua, perpustakaan juga bertransformasi sebagai ruang belajar kontekstual sesuai dari kebutuhan masyarakat, tentunya berbeda antara kebutuhan ruang belajar perpustakaan di daerah pesisir dengan daerah pegunungan, misalnya,” urainya.

Ketiga, perpustakaan bertransformasi adalah perpustakaan yang menjadi tempat berlatih keterampilan kerja. “Highlight-nya adalah literasi untuk kesejahteraan. Jadi ada manfaat lebih tidak hanya dari sumber informasi tapi juga bagaimana masyarakat mempratekkan, buku-buku yang ada di perpustakaan, kewirausahaan. Ada nilai tambah masyarakat sejahtera, paling tidak keluarga,” ungkapnya.

Deni Kurniadi mengungkapkan, hingga tahun ini, sebanyak 5.745 kegiatan lifeskills yang sudah dilakukan dengan melibatkan 100.521 peserta. Kisah sukses dari penerima manfaat program telah dibukukan oleh Perpusnas dan didokumentasikan dalam bentuk video. “Seperti usaha hidroponik yang didapat dari pelatihan yang diadakan di perpustakaan, kemudian ada bimbingan e-learning untuk orang tua siswa ketika pandemi Covid-19 ini memaksa siswa untuk belajar rumah,” tuturnya.

Pada masa pandemi Covid-19, program ini tetap berjalan. Para pustakawan dan trainer tetap memberikan pendampingan untuk melatih masyarakat di perpustakaan baik provinsi, kabupaten/kota, maupun desa. Deni menjelaskan, secara umum polanya tetap sama yakni melalui bimbingan teknis. “Tentu saja pelatihannya tidak semuanya secara online, karena pandemi ini kita tidak secara onsite, tapi online. Apakah ada daerah yang bisa melaksanakan pendampingan secara langsung atau onsite, tapi ada juga pendampingannya secara online,” pungkasnya.

Reporter: Hanna Meinita

 

 



Diunggah oleh Tuty