|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

08 Jun 2021

Pustakawan Ahli Utama Ikut Berperan dalam Pengembangan Perpustakaan di Indonesia

Salemba, Jakarta – Perkembangan perpustakaan di Indonesia tak lepas dari peran Pustakawan Ahli Utama (Pustama). Karenanya, seorang Pustama harus memiliki kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu meghasilkan karya kreatif, original, teruji serta memiliki penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang nantinya menjadi rujukan atau mentor untuk para pustakawan.

"Pustama memiliki peran penting dalam perkembangan kepustakawanan di Indonesia, untuk itu saat ini Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tengah menyusun standar kompetensi jabatan fungsional pustakawan yang mengacu pada Peraturan Menpan Nomor 38 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi ASN," kata Kepala Pusat Pengembangan Pustakawan Perpusnas Opong Sumiati, dalam Forum Group Discussion (FGD) Pustakawan Ahli Utama di Indonesia yang digelar oleh Pusat Pengembangan Pustakawan secara hybrid di Ruang Teater Perpusnas, Jalan Salemba Raya 28 A Jakarta, Selasa (8/6/2021).

Opong menjelaskan jabatan fungsional pustakawan merupakan jabatan karir yang dapat dipilih oleh seorang ASN untuk meniti karir, dan Pustakawan Ahli Utama merupakan jabatan tertinggi di jabatan fungsional pustakawan.

"Saat ini ada 40 orang yang menjabat sebagai Pustama , diharapkan keberadaan Pustama ini dapat menciptakan inovasi dan gagasan untuk mengembangkan kepustakawanan di masa mendatang," jelasnya.

Pustama IPB Abdul Rahman Saleh mengatakan, secara umum pustama tidak begitu dikenal di masyarakat, kecuali dikalangan pustakawan, apalagi pustama Perpusnas yang pasti sudah dikenal oleh para pustakawan, namun di derah belum tentu masyarakat mengenal pustama. Menurutnya, ada lima hal kondisi pustama saat ini. Diantaranya, kurang fokus mengerjakan tupoksi, kurang memanfaatkan  media, produktivitas pustama menulis artikel dan menulis buku masih kurang.

"Tidak banyak pustama yang rajin muncul di berbagai media, baik media mainstream maupun elektonik bahkan media sosial. Serta sangat sedikit pustama yang menulis buku, padahal buku bisa dianggap sebagai jejak seorang pustakawan untuk menggapai karier menuju pustama," paparnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Abdul Rahman, perlunya personal branding untuk pustama. Mengingat nama pustama kurang mendapat tempat di kalangan pustakawan, serta pustakawan juga kurang dikenal diantara profesi lainnya.

"Langkah-langkahnya bisa dengan peningkatan produktivitas pustama dalam hal penyampaian pemikirannya, meningkatkan kemampuan menulis, serta mengembangkan penguasaan subyek. Pustama harus memiliki modal penguasaan subyek sesuai pemustaka yang dilayani supaya dapat menjadi mediator dalam transfer knowledge," lanjutnya.

Sementara itu, Pustama Perpusnas Dedi Junaedi menyampaikan, berdasarkan jenis perpustakaan sebanyak 16 Pustama di Perpustakaan Nasional, kemudian disusul Perpustakaan Umum tingkat Provinsi sebanyak 11 orang dan perpustakaan khusus sebanyak tiga orang. "Kalau dari sebaran wilayah belum semua wilayah di Indonesia ada Pustama, yang paling banyak memang berada di Jawa sebanyak 31 orang," ungkapnya.

Dedi mengatakan, masih adanya kendala sebagai pustama dalam berkarya dan berkinerja. Diantaranya, tidak semua butir kegiatan pustama dapat dilaksanakan karena keterbatasan kegiatan di instansi induk, kurangnya kemampuan dalam menuangkan gagasan dan pikiran secara konseptual.

"Pengembangan kompetensi pustakawan agak tersendat karena tantangan untuk mencapai puncak karier saat ini menjadi terbatas karena pembatasan formasi terutama untuk menjadi pustakawan ahli utama," terangnya.

Di akhir acara, dibacakan rekomendasi dan kesimpulan dari diskusi terpumpun tersebut, diantaranya ada tiga kompenen yang menjadi permasalahan dan kendala yakni pencapaian angka kredit, manajemen kinerja, dan pengembangan kompetensi.

Dalam komponen pencapaian angka kredit, usulan dan rekomendasi yang disampaikan yakni penyempurnaan butir-butir kegiatan, salah satunya pengembangan butir-butir kegiatan berbasis kinerja khususnya kegiatan strategis nasional untuk pustama, serta mengadaptasi perubahan trend kepustakawanan dengan memetakan dan membahas tema yang menjadi usulan yang mengacu manajemen koleksi, manajemen pengetahuan dan transfer knowledge.

 

Reportase: Wara Merdeka



Diunggah oleh Tuty