|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

08 Jun 2021

Perpustakaan Nasional Mendukung Upaya Pemberdayaan Perempuan dan Anak

Medan Merdeka Selatan, Jakarta—Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI mendukung upaya pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan. Ini dilakukan dengan mengedukasi perempuan melalui kehadiran perpustakaan. Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyatakan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan keterampilan hidup dengan wirausaha, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan. Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial tercatat sudah menjangkau 1.250 desa di 311 kabupaten seluruh Indonesia.

“Kami sudah punya testimoni di sejumlah daerah betapa manusia tak berdaya tanpa literasi. Ada pahlawan sampah di Bekasi, Radiatun. Selain itu ada Nenek Kumi yang bertani organik di Gorontalo dan seterusnya,” jelasnya di Rapat Koordinasi Nasional Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang diselenggarakan secara hybrid di Ruang Teater Perpusnas, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta, pada Selasa (8/6/2021). Turut hadir dalam rakornas, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Halim Iskandar.

Syarif Bando menjelaskan ini menunjukkan literasi bisa membangkitkan masyarakat yang tak berdaya. Pemberdayaan kaum perempuan pada khususnya, harus dilakukan karena mereka berperan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Perpusnas terus berupaya memberdayakan masyarakat. Salah satunya dengan menyediakan layanan digital buku dan jurnal elektronik berupa iPusnas, e-Resources, Khastara, dan Indonesia OneSearch.

Perpusnas juga berupaya mempersempit kesenjangan antarwilayah, terutama dalam hal akses informasi. Tercatat Perpusnas sudah memberikan sejumlah bantuan pustaka keliling untuk daerah-daerah di Indonesia. “Mobil perpustakaan keliling sudah 520 unit kita bagi ke seluruh Nusantara, kemudian motor perpustakaan keliling 75 unit, kemudian kapal perpustakaan keliling ada 11 unit, kemudian pojok baca digital (Pocadi) untuk 2020 ada 90 paket, kemudian pada 2021 ada 200 paket,” ujarnya.

Syarif Bando juga mengapresiasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, khususnya Menteri PPPA Bintang Puspayoga, yang bersinergi dengan Perpusnas dalam menyelenggarakan rakornas. “Perpustakaan Nasional kebetulan sebagai tempat. Untuk itu menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada ibu Bintang Puspayoga atas kebijakan untuk menempati perpustakaan ini. Tentu saja ini adalah bagian dari pada sinergitas yang sangat penting,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Bintang Puspayoga mengatakan Rakornas Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak diselenggarakan menindaklanjuti deklarasi perempuan dan peduli anak yang dilaksanakan bersama Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada November 2020.

Dia menjelaskan, Perlindungan Anak dan Kesetaraan Gender masuk ke dalam berbagai agenda pembangunan berkelanjutan 2030 atau SDGs, khususnya pada tujuan yang kelima yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan dan anak. Adapun tujuan kelima ini cukup spesial karena merupakan bagian dari prinsip no one left behind yang harus dilaksanakan agar dapat mencapai seluruh tujuan dari pada SDGs.

Bintang Puspayoga menambahkan, desa merupakan ujung tombak dalam pembangunan nasional. Pengembangan desa menuju Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak harus melibatkan semua pihak yang ada di desa, termasuk perempuan dan anak. Pelibatan perempuan dan anak diharapkan bisa mengurai isu-isu terkait. “Sebagai pihak yang merasakan langsung hambatan-hambatan yang selama ini harus dihadapi, nah perempuan dan anak tentunya juga menjadi pihak yang mengetahui solusi yg paling tepat untuk mempersempit jurang ketimpangan yang ada,” ungkapnya kepada 3.800 kepala desa perempuan tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Bintang Puspayoga mengukuhkan Ikatan Pimpinan Tinggi Perempuan (Pimti) Indonesia periode 2021-2024. Dia berharap sinergi dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Ikatan Pimti, dalam mengimplementasikan program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak dapat dilakukan. “Karena para pimpinan tinggi perempuan ini yang tersebar di Kementerian/Lembaga terkait, nah ini adalah juga merupakan kekuatan-kekuatan untuk memberdayakan perempuan di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Reporter: Hanna Meinita

Fotografer: Ahmad Kemal Nasution

 



Diunggah oleh Tuty