|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

07 May 2021

Bank Indonesia Gadang Program Indonesia Cerdas Bangun BI Corner dan Pojok Baca

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memiliki misi untuk menjadi bank sentral terdepan di negara emerging market dan salah satu bentuk program dari Bank Indonesia untuk mendukung Indonesia maju adalah Indonesia Cerdas. Ada beberapa program dalam Bank Indonesia terkait Indonesia Cerdas salah satunya yakni pembangunan BI Corner dan pojok baca. Tujuan dari BI Corner dan pojok baca adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat khususnya terkait tentang Bank Indonesia sekaligus untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta literasi melalui penyediaan koleksi buku berkualitas dan fasilitas multimedia yang terkini.

Disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan BI Kalimantan Barat, Agus, semangat BI adalah berperan aktif dalam mendukung literasi di berbagai kalangan terutama kalangan generasi muda karena kualitas mereka menjadi faktor penentu bagi kemajuan suatu bangsa. Sumber daya manusia yang terdidik, berilmu pengetahuan dan melek literasi akan jadi asset strategis dalam pembangunan bangsa dan negara dimasa yang akan datang. Di tengah kondisi pandemi Covid-19, literasi harus berubah dan melakukan inovasi agar tetap dapat tumbuh.

“Alhamdulillah dengan ide dan gagasan kreatif yang dituangkan dalam berbagai media maka literasi di Indonesia bisa berjalan dengan baik. Penyediaan koleksi seperti layanan sirkulasi referensi yang dapat diakses secara digital dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara online ini juga merupakan upaya dari perpustakaan untuk menjangkau masyarakat lebih luas,” ungkap Agus di webinar Pentas Literasi: FGD BI Corner yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Jumat (7/5/2021).

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Muhammad Syarif Bando, selaku Keynote Speaker memberikan apresiasi kepada BI yang sudah sangat peduli untuk berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa melalui penyediaan fasilitas BI Corner. “Jumlah BI Corner yakni sebanyak 1100 sudah melebihi target di awal pencanangan dulu, ini luar biasa. Perpusnas sangat bangga dan berterima kasih atas dukungan serta kerja sama yang diberikan ini sehingga kita bisa semakin luas menjangkau masyarakat,” tuturnya.

Syarif Bando dengan mengulang pesan Presiden, Joko Wiodo, mengatakan Perpusnas yang dibangun dengan 24 lantai ke atas dan 3 lantai ke bawah tidak akan ada artinya jika hanya menjadi Menara Gading. Karena yang terpenting adalah bagaimana membangun perpustakaan yang bisa menjangkau masyarakat. Terlebih di era pandemi Covid-19 ini, bukan masyarakat yang menjangkau perpustakaan melainkan perpustakaan yang harus bisa menjangkau masyarakat.

“Sudah menjadi concern kita bersama dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia untuk bisa mengimplementasikan ilmu yang diperoleh, dengan demikian daya saing bangsa Indonesia dapat meningkat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpusnas, Adin Bondar, menjelaskan bahwa rangkaian dari perpustakaan, kegemaran membaca, dan literasi sudah sangat efektif dalam membangun serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan hak masyarakat, oleh karena itu kegemaran membaca adalah langkah awal untuk memperluas wawasan dan pengetahuan sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berdaya.

“Setiap komponen masyarakat harus memiliki hak dalam rangka mendapatkan layanan perpustakaan dan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan hidup mereka. Kemiskinan dan kebodohan itu tidak ada, yang ada adalah tidak adanya kesempatan untuk membaca dan mengakses informasi. Untuk itu guna menguatkan literasi, upaya yang harus dilakukan salah satunya dengan melakukan penerapan literasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah,” jelas Adin, panjang lebar.

Sepakat dengan hal tersebut, Kepala UPT Perpustakaan ITB, Yuli Setyo Indartono, menegaskan bahwa perpustakaan masih diperlukan di zaman yang sudah dipenuhi dengan mesin pencari informasi seperti Google. Karena mesin pencari informasi ini sifatnya hanya permukaannya saja, tidak mendalam. Akan tetapi paradigma perpustakaan jelas harus berubah terlebih di era digital seperti saat ini, maka dari itu perpustakaan harus memperbanyak koleksi digitalnya.

“Perpustakaan tetap dibutuhkan karena informasi yang diberikan lebih terstruktur, lebih dalam, dan lebih terarah. Berbagai upaya juga sudah dilakukan khususnya oleh Perpustakaan ITB yakni salah satunya dengan memperbanyak electronic resources yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja,” ucap Yuli.

Reporter: Basma Sartika



Diunggah oleh admin