|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

23 Apr 2021

Leni: Masih Banyak Isu Ketidaksetaraan yang Dialami Perempuan

Medan Merdeka Selatan, Jakarta – Saat ini isu ketidaksetaraan yang dialami perempuan masih menjadi tantangan bersama. Untuk itu, perlu adanya sinergi dari seluruh stakeholder demi kepentingan terbaik perempuan Indonesia.

Demikian disampaikan Deputi Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA) Lenny N Rosalin dalam Talkshow Peringatan Hari Kartini 'Cerita Sukses Perempuan Indonesia Menggapai Cita', Jumat (23/04/2021).

"Jadi kalau kita boleh mensummary kan dari berbagai pengalaman dunia maupun peristiwa sehari-hari sebetulnya isu ketidaksetaraan ini bisa dikelompokkan dalam empat bagian, yakni beban ganda, stereotip, subordinasi, serta marjinalisasi," paparnya.

Lebih lanjut, Leny menjelaskan,  gender isu di Indonesia masih banyak terjadi, meskipun sudah ada Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 . Dalam instruksi tersebut, Presiden meminta bagaimana semua Kementerian/Lembaga melakukan gender mainstreaming sehingga kebiakan program dan kegiatan yang dilakukan Kementerian/Lembaga bisa mendukung upaya untuk meningkatkan kualitas perempuan karena ketertinggalannya.

"Perempuan masih mengalami ketimpangan di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi," ungkapnya.

Misalnya saja kalau dicermati bagaimanapun stereotip dalam pendidikan gender gap masih tinggi. Hal ini terlihat dari data kami, bahwa rata-rata lama sekolah untuk laki-laki selama 9 tahun yang berarti sudah tamat SMP sedangkan perempuan baru delapan tahun, berarti kelas 2 SMP sudah drop out.

"Berarti dia hanya memiiki ijazah SD, artinya dia hanya akan bekerja di sektor informal dengan upah rendah dan mungkin tanpa perlindungan sosial. Ini nanti kaitannya akan kompleks sekali, akhirnya resiko-resiko itu kembali kepada mereka yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi," jelasnya.

Kemudian, lanjut Leni, di bidang kesehatan, Indonedia memiliki angka kematian ibu melahirkan yang tinggi. Inilah yang menyebabkan salah satunya dampak dari anak yang dilahirkan stunting. Berdasarkan data, sebanyak 15 persen masih ada masyarakat yang tidak melahirkan di fasilitas kesehatan.

"Dari jumlah perempuan yang tidak melahirkan dan tidak ditangani tenaga kesehatan yang terlatih, kemungkinan dia melahirkan di tempat lain yang mungkin tidak higienis sehingga infeksi dan menyebabkan kematian ibu terus naik. Masalah ini di tingkat hulu maupun hilirnya memang harus segera diselesaikan,"pungkasnya.

Dalam Talkshow peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI bekerjasama dengan PIMTI Madya Perempuan, juga mennghadirkan narasumber lainnya  Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material Eniya Listiani Dewi, Deputi Bidang Keuangan dan Manajemen Risiko Kementerian BUMN Nawal Nely, Direktut Utama Pertamina Nicke Widyowati, dan Mantan Jamdatun Kejaksaan Agung Leoke Larasati Agoestina.

 

Reportase: Wara Merdeka



Diunggah oleh admin