|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

20 Apr 2021

Kartini Menunjukkan Keteladanan Berliterasi  

Jakarta—Peran perempuan dalam keluarga sangat dibutuhkan dalam mendukung proses pembangunan bangsa. Di dalam keluarga, para perempuan bisa membangun fondasi fundamental dalam pembangunan masyarakat untuk masa depan. Karenanya, eksistensi Kartini masa kini yang kuat, sangat dinanti untuk menghasilkan bangsa yang berjaya.

Ini disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI Muhammad Syarif Bando dalam talkshow “Peran Kartini Masa Kini dalam Meningkatkan Budaya Literasi” yang berlangsung secara hybrid pada Selasa (20/4/2021). Kegiatan tersebut diselenggarakan Perpusnas bersama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN) dalam rangka menyambut Hari Kartini.

Syarif Bando menjelaskan, Kartini menunjukkan keteladanan dalam berliterasi. Untuk membuka tabir kegelapan atas dirinya, Kartini dengan tingkat literasinya membuat buku “Habislah Gelap Terbitlah Terang”. “Mudah-mudahan acara ini betul-betul bisa menginspirasi, di mana peran Ibu sangat menentukan di dalam menentukan kualitas bangsa,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Syarif Bando menyatakan literasi tidak sekedar kemampuan mengenal huruf, kata, kalimat, hubungan sebab akibat, dan menyatakan pendapat. Menurutnya, pemahaman literasi tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi terkini.

Saat ini, literasi memiliki empat tingkatan. Yang pertama, kemampuan aksesibilitas terhadap sumber-sumber bahan bacaan yang terpercaya, terlengkap, dan terbaru untuk menyelesaikan problematika hidup. Yang kedua, kemampuan memahami apa yang tersirat dan tersurat. Yang ketiga, kemampuan mengemukakan ide, gagasan baru, dan inovasi. Yang keempat, kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu. Dia menegaskan, negara akan menerima dampak dari literasi, jika kondisi masyarakat sudah mencapai tingkatan terakhir.

“Literasi yang kita rumuskan di era bapak Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin, di mana jumlah penduduk yang sudah bisa baca mencapai 96 persen, anggaran pendidikan kita saat ini 20 persen dari APBN atau mungkin kurang lebih dari Rp400 triliun,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Utama LAN Reni Suzana menjelaskan Kartini pada masa kini dituntut mampu beradaptasi dengan cepat, memiliki intelektualitas, dan kepekaan tinggi. Menurutnya, tantangan Kartini pada abad 21 tidak mudah karena harus berperan sebagai ibu dan pekerja. “Saya salut dengan Kartini abad 21, tantangannya begitu hebat, perubahan cepat tetapi selalu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan,” ungkapnya.

Dia menegaskan, pada masa kini di dunia kerja, saat berhadapan dengan masalah dan harus membuat keputusan, isu gender sudah tidak berlaku lagi. Para perempuan sudah diberikan banyak kesempatan dan akses untuk menyampaikan pendapat. Karenanya, yang paling penting adalah keberanian dalam menyampaikan pandangan dan argumentasi.

“Ini yang menjadi seseorang itu kemudian dipertimbangkan. Tantangan kita adalah bagaimana kita bisa menyampaikan ide, pikiran, dan berargumentasi dengan baik yang tentu saja membutuhkan banyak sekali referensi-referensi yang harus kita dapatkan,” urainya.

Duta Bela Negara dan Ketua Yayasan Generasi Lintas Budaya Olivia Zalianty menilai keberanian merupakan hal yang paling kuat dari sosok Kartini. Dia meneladani pernyataan Kartini yang menyebut bahwa orang yang berani akan menjadi pemenang. “Jadi di situ saya belajar, saya bisa melihat sosok Kartini yang mempunyai keberanian. Bukan hanya konsep tapi juga dilakukan, sehingga beliau mampu keluar dari sekapan atas dirinya dan melalui menulis, pada saat itu,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Perpusnas menyerahkan hadiah untuk pemenang sayembara puisi dengan tema “Hari Kartini”. Tiga pemenang juga membacakan puisi hasil karya mereka. Selain itu, Paguyuban Pimpinan Tinggi Madya Perempuan yang merupakan himpunan pimpinan kementerian dan lembaga negara, juga terlibat membacakan puisi. Di antaranya Sekretaris Utama LAN Reni Suzana, Sekretaris Utama Perpusnas Woro Titi Haryanti, dan Deputi Perpusnas Ofy Sofiana.

Reporter: Hanna Meinita

Fotografer: Wara Merdekawati

 



Diunggah oleh admin