|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

17 Apr 2021

Kesiapan Perpusnas Menuju Big Data

Medan Merdeka Selatan, Jakarta – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI mendukung adanya kebijakan program Satu Data Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden No. 39/2019 tentang Satu Data Indonesia. Satu Data Indonesia (SDI) merupakan upaya pemerintah dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas tata kelola data pemerintah. 

Perpustakaan Nasional sebagai salah satu Lembaga Negara non Kementerian yang bergerak di bidang perpustakaan juga ikut andil dalam penyajian data tentang perpustakaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Perpusnas bertugas sebagai pembina dari perpustakaan umum, khusus, sekolah dan perguruan tinggi.

"Maka menjadi kewajiban yang fundamental bagi Perpusnas untuk melaporkan data yang berkaitan dengan perpustakaan. Maka aspek perpustakaan ini harus dibuatkan aplikasi agar kita mudah mendapatkan data yang namanya perpustakaan berbasis wilayah," Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando pada arahannya dalam evaluasi implementasi aplikasi Big Data Perpustakaan Nasional RI, Sabtu (17/4/2021).

Data yang dimaksud diantaranya mengenai data yang mencakup aspek-aspek perpustakaan (data pustakawan, jumlah perpustakaan, data koleksi, data anggaran, data aplikasi TIK), data analisis perkembangan perpustakaan di Indonesia, langkah strategis untuk meningkatkan kegemaran membaca.

Syarif Bando meminta jajarannya untuk melengkapi data yang saat ini sudah ada. "Karena tujuan dari data-data ini nantinya untuk pengambilan kebijakan. Jadi mari kita data secara rinci dan bisa diakses secara real time dimana dan kapan saja," tuturnya.

Sementara itu Pengembang Indonesia One Search, Ismail Fahmi memberikan masukan terhadap aplikasi Big Data Perpustakaan Nasional, diantaranya dengan membuat landscape ilmu pengetahuan dan perpustakaan Indonesia setiap tahun. Misalnya, berapa jumlah perpustakaan di Indonesia, jumlah buku tahun ini yang dibuat dengan versi nasional maupun provinsi.

"Kalau dilakukan secara konsisten ini luar biasa. Selain itu akan menjadi referensi seluruh indonesia tentang kondisi perpustakaan dan ilmupengetahuan indonesia," jelasnya.

Kedua, lanjut fahmi landscape yang sudah disusun dapat menjadi sumber data dari big data. Dan terakhir, untuk melakukan hal tersebut haruslah dibuat tim yang terdiri dari tiga tenaga ahli, yakni ahli matematika, ahli komputer dan ahli perpustakaan.

 

Reportase: Wara Merdeka

Fotografer: Radhitya Purnama



Diunggah oleh admin