|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

10 Mar 2021

Menggali Pemikiran Bung Karno Melalui Literasi Pancasila

Medan Merdeka Selatan, Jakarta -- Perpustakaan Nasional secara khusus melalui Perpustakaan Proklamator Bung Karno terus bergerak maju dalam upaya untuk menginternalisasikan pemikiran Bung Karno dari semua komponen-komponen yang telah menjadi dasar dan haluan negara, serta agar cita-cita mulia beliau untuk mengantarkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur bisa dicapai.

"Kalau di dalam buku yang berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia,  mari kita menjadi penyambung lidah Bung Karno untuk menyampaikan betapa cita-cita beliau mulia untuk bangsa ini," ujar Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, dalam Webinar Bung Karno dan Literasi Pancasila 'Menggali Pemikiran, Membumikan Pancasila', Rabu (10/3/2021).

Menurutnya, penting bagi masyarakat Indonesia menegaskan bahwa Pancasila yang telah dirumuskan Bung Karno merupakan salah satu dasar negara yang paling sempurna di atas muka bumi ini karena didalamnya mencakup seluruh sendi kehidupan manusia.

Perpustakaan Nasional bersama jajaran, termasuk Perpustakaan Proklamator Bung Karno maupun Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, lanjut Syarif Bando, memiliki tugas memastikan seluruh masyarakat Indonesia bisa menikmati filosofi dari dasar negara ini yakni mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Untuk itu, bicara mengenai literasi tentunya akan berbeda dengan versi literasi pada 76 tahun silam.

Dijelaskan, pada awal kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika Presiden Soekarno mendeklarasikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebanyak 98 persen penduduk Indonesia tidak bica membaca. Dengan anggaran pendidikan yang sangat minim, Soekarno harus turun langsung bahkan berjalan kaki dari Blitar ke Tulungagung untuk memastikan pemberantasan buta aksara bisa berjalan dengan baik. "Pada saat itu literasi hanya sebatas kemampuan mengenal kata, kemampuan mengenal kalimat, dan menyatakan hubungan sebab akibat," jelasnya.

Namun berbeda versi literasi pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, sebanyak 96 persen jumlah penduduk sudah bisa baca, didukung dengan anggaran pendidikan yang cukup besar maka makna literasi pun berubah yang diharapkan dapat mewujudkan SDM unggul.

"Literasi yang mau kita bangun saat ini, salah satunya kemampuan aksestabilitas terhadap sumber bahan bacaan terbaru, kemudian kemampuan memahami yang tersirat dari yang tersurat, mengemukakan ide, teori, kreativitas dan inovasi baru serta  mampu menciptakan barang dan jasa bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global," bebernya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Generasi Lintas Budaya Olivia Zalianty menilai sosok Bung Karno merupakan tokoh yang memiliki gaya berfikir yang cerdas, strategis, tepat waktu dan ruang.

"Saya melihat Bung Karno mampu membawa bangsa ini kepada tatanan baru, beliau bisa melepaskan belenggu dari kolonial dan imperialisme. Selain itu, bung Karno meletakkan strategi yang menjadi protokol perubahan peradaban contohnya humanity dan demokrasi, tetapi demokrasi Bung Karno ini demokrasi terpimpin yang tersirat dalam sila keempat yang juga mencerminkan kepribadian bangsa kita yakni demokrasi yang musyawarah dan mufakat," terangnya.

Olivia juga mengagumi kecerdasan Bung Karno yang dapat mengkristalisasikan idelogi-ideologi dunia menjadi satu ideologi yang mengikat dunia yaitu Pancasila. Dan salah satu bentuk ilustrasi itu adalah humanity atau kemanusiaan. Kemuanusiaan ini memiliki suatu adab atau morality, Bung Karno pernah mengatakan kepribadian yang berkebudayaan, hal ini yang menjadikan pegangan sebagai manusia untuk bisa lebih bersikap.

"Dengan mempelajari pemikiran Bung Karno sama seperti aku lebih mempelajari lagi atau mengenali Indonesia," ungkap aktris Monolog 'Aku dan Soekarno'.

Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latif mengatakan, Pancasila merupakan hasil suatu proses penggalian penemuan diri sejarah yang merentang panjang, ada mulai dari periode pembibitan, perumusan hingga pengesahan. Dalam baca buku Soekarno Penyambung Lidah rakyat dikatakan bahwa Soekarno mulai memikirkan Pancasila sejak usia 17 tahun.

"Pancasila menjadi suatu yang sangat fundamental, karena Pancasila menampilkan keragaman Indonesia. Indonesia begitu besar wilayahnya begitu banyak dan majemuk penduduknya. Maka siapa saja yang ingin memimpin Indonesia, menjadi warga negara Indonesia yang baik harus memiliki keluasan mental dan kekayaan rohani seluas Indonesia dan semajemuk dan sebanyak penduduk indonesia. Maka dari itu penting bagi kita memahami nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

 

Reportase : Wara Merdeka



Diunggah oleh admin