|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

03 Feb 2021

Butir Kegiatan Pustakawan Mesti Dirumuskan Ulang

Jakarta—Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando menantang jajarannya dan pustakawan utama di lingkungan Perpusnas untuk merumuskan ulang butir-butir kegiatan jabatan fungsional pustakawan. Saat ini, menurut Syarif, pekerjaan yang dikerjakan pustakawan, baik tingkat terampil maupun ahli, tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Syarif menilai, perpustakaan sebagai management collection merupakan fungsi pada abad ke-19. Pustakawan Amerika Serikat, Melvil Dewey yang membuat Dewey Decimal Classification (DDC) sebagai pedoman pengklasifikasian koleksi perpustakaan. DDC menjadi pedoman yang banyak digunakan perpustakaan di dunia. Pada era terkini, fungsi perpustakaan tersebut dinilai kurang relevan. Perpustakaan modern adalah perpustakaan yang menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan (transfer knowledge).

“Mohon jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya tidak dirumuskan pada konteks abad 18, mungkin kalau abad 19 iya, tapi tolong butir-butir kegiatan ini disesuaikan dengan ilmu perpustakaan transfer knowledge yang saat ini relevan,” jelasnya saat menjadi pembicara utama dalam Forum Diskusi Kepustakawanan Sesi 1 yang berlangsung secara virtual pada Rabu (3/2/2021).

Syarif menyatakan siap bertanggung jawab dan memimpin tim yang akan merombak ulang butir-butir kegiatan pustakawan tersebut. “Karena masalahnya, butir-butir angka kredit ini banyak sekali yang tidak relevan. Karena banyak yang tidak diperlukan. Bahkan sekarang ada butir-butir kegiatan angka kredit untuk pustakawan utama tapi cocok untuk pustakawan penyelia,” urainya dalam forum yang dihadiri hampir seribu pustakawan dan pengelola perpustakaan tersebut.

Perpustakaan harus menjadi rumah masyarakat. Karenanya, dia mengajak para pustakawan di Indonesia, khususnya di Perpusnas, agar tidak hanya sibuk bekerja mengurus angka kredit. Perpustakaan harus hadir untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Syarif menyebut peran penting perpustakaan ini bahkan dirasakan oleh sesama institusi pemerintah lainnya. “Bagi siapapun yang telah diwisuda, putus sekolah adalah perpustakaan yang terakhir dan terpenting untuk menemukan solusi menghapus belenggu kemiskinan dan kebodohan. Makanya dua kali Menteri Sosial ke daerah pinggiran, kita diundang karena Ibu Menteri percaya hanya dengan sedikit keterampilan kita punya kemampuan untuk menciptakan karsa dan tercapai kesejahteraan,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Pustakawan Utama Perpusnas Dedi Junaedi menyatakan forum diskusi kepustakawanan menjadi tempat sesama pustakawan untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan edukasi advokasi di bidang kepustakawanan. Rencananya, forum diskusi kembali diselenggarakan pada bulan depan.

"Mari kita sama-sama untuk menjadi contoh teladan, khususnya kita semua bisa memberikan inspirasi berbagi pengetahuan demi perpustakaan ke depan yang lebih maju lagi,” jelasnya.

Pada forum diskusi kepustakawanan seri 1, hadir sebagai narasumber Pustakawan Utama Perpusnas, Sri Sumekar dan Fathmi yang memaparkan hasil kajiannya.

Reporter: Hanna Meinita

Fotografer: Ahmad Kemal Nasution

 



Diunggah oleh admin