|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

10 Dec 2020

Perpusnas, Komisi X DPR RI, dan Pustakawan Perguruan Tinggi Diskusi Tren Perubahan Layanan Menghadapi Ekosistem VUCA

Serpong, Banten -- Dunia saat ini berada dalam fase ketidakpastian dan menghadapi berbagai masalah yang kompleks. Istilah populer yang sering digunakan untuk menggambarkan situasi ini adalah VUCA. VUCA adalah Akronim dari Volality (kecepatan perubahan), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ketidak-jelasan akan realitas).  

Terminologi VUCA biasanya digunakan pada bidang manajerial dan dunia bisnis secara global. Namun begitu, terminologi ini tentu sangat relevan untuk mengambarkan kondisi secara umum termasuk di bidang perpustakaan.

Abdul Rahman Saleh, Pustakawan Utama dari Institut Pertanian Bogor mengatakan bahwa ekosistem VUCA dipengaruhi oleh revolusi industri. Memasuki Revolusi Industri 4.0 perubahan teknologi yang cepat mempengaruhi perilaku pengguna layanan perpustakaan. "Industri 4.0 dengan teknologi big data and cloud coumputing, internet, artificial intellegent, Cyber Phisycal System, dan Cognitive Computing kemudian mempengaruhi kehidupan manusia dan menghasilkan ekosistem VOCA," ujar Abdul Rahman.

Ekosistem VOCA harus dapat diadaptasi oleh perpustakaan agar Perpustakaan dan layanannya dapat selalu relevan dengan penggunanya." Dulu tidak pernah terbayang oleh saya ada perpustakaan digital yang membuat orang dapat meminjam dan membaca buku dari mana saja seperti iPusnas. Kita dapat membaca buku dengan jumlah halaman ratusan dan ukuran file yang besar dari gawai kita," tambah Abdul Rahman.

iPusnas adalah salah satu contoh bagaimana perpustakaan dapat terus berkembang mengikuti perubahan cepat yang penuh ketidakpastian. Ekosistem VOCA harus dilihat sebagai potensi terhadap pengembangan perpustakaan dan profesi pustakawan ketimbang dilihat sebagai sebuah ancaman.  "Banyak pekerjaan lama yang terancam hilang karena digantikan mesin, robot, dan komputer.  Sementara banyak juga pekerjaan baru yang akan muncul. Pekerjaan yang tidak akan terpengaruh adalah pekerjaan yang bersifat personal dan memerlukan pemikiran," tekan Abdul Rahman.

Abdul Rahman menambahkan bahwa, contoh layanan yang dapat dikembangkan di perpustakaan di antaranya adalah penemuan informasi umum dan spesifik, pemahaman berupa menemukan makna dan menerapkan konteks, mempertanyakan informasi berupa analisis kritis terhadap informasi, penulisan referensi, penciptaan pengetahuan baru, dan cara mengkomunikasikan ide secara ringkas.  Agar dapat mengembangkan layanan tersebut, pustakawaan saat ini harus memiliki kompetensi penguasaaan TIK, kemampuan riset, kemampuan komunikasi, mengajar, menulis, mengemas informasi, manajemen informasi, dan kemampuan telaah sistem kepustakawanan.

Sekretaris utama Perpustakaan Nasional RI, Woro Titi Haryanti menambahkan bahwa kunci adaptasi perpustakaan terhadap ekosistem VUCA ada di tangan pustakawan dan tenaga perpustakaan. “Pustakawan harus memiliki kemampuan untuk terus menerus belajar, beradaptasi terhadap ketidakpastian melalui inovasi, berpikir secara strategis, dan mendorong eksekusi strategi tersebut,” ujar Woro.

Pandemi Covid-19 merupakan salah satu situasi di mana pustakawan harus cepat beradaptasi untuk mengatasinya. “Pendekatan  self-service model dengan menghadirkan layanan pick up yang memungkinkan pemustaka untuk dapat secara mandiri mengambil koleksi yang dibutuhkan dan mengembalikannya melalui layanan book drop merupakan salah satu contoh adaptasi pustakawan dalam menghadapi perubahan yang cepat,” ujar Woro.

Sepakat dengan Woro, anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah mengatakan bahwa kompetensi pustakawan sangatlah penting untuk memastikan bahwa pustakawan menjadi tenaga profesional di bidangnya. “Tidak ada lagi nanti istilah pustakawan PNS dan Non PNS. Sebagai sebuah profesi, sudah seyogyanya tunjangan profesi pustakawan sama baik PNS maupun non PNS,” ucap Ferdiansyah. Ia menambahkan, dalam konteks kompetensi, baiknya pustakawan disamakan dengan Undang-Undang Guru dan Dosen.  “Pustakawan  harus memiliki kompetensi pedagogi  dan andragogi, kompetensi profesional,  kompetensi professional, dan kompetensi sosial, ujar Ferdiansyah.

Diskusi mengenai pentingnya layanan perpustakaan mengikuti ekosistem VOCA dilaksanakan pada acara diskusi terpumpun (FGD) dengan tema Tren Perubahan Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi Menghadapi Ekosisitem VUCA, Kamis (10/12) di Hotel Grand Horison Serpong . diinisiasi oleh Komisi X DPR RI, Hasil diskusi akan digunakan sebagai referensi rumusan kebijakan layanan perpustakaan perguruan tinggi.

Hasil dari diskusi ini memberikan rekomendasi yang dapat mendorong peningkatan kualitas SDM pustakawan di lingkungan perguruan tinggi. Yaitu :

  • Memperkuat regulasi mengenai karir pustakawan baik yang berstatus ASN maupun non ASN
  • Peningkatan proses rekrutmen pustakawan perguruan tinggi dengan memperhatikan kompetensi dan passion yang mendorong Tridharma perguruan tinggi
  • Perubahan Standar dan pedoman penyelenggaraan perpustakaan perguruan tinggi dengan memperhatikan ekosistem VUCA
  • Mencabut Permenristekdikti No. 49 Tahun 2015 yang merugikan pustakawan
  • Buka formasi pustakawan ahli utama di lingkungan perguruan tinggi
  • Dukungan program pengembangan SDM dan infrastruktur perpustakaan perguruan tinggi
  • Mendorong Perpustakaan Nasional untuk aktif berkomunikasi dengan kementerian yang berhubungan dengan pendidikan tinggi khususnya perpustakaan perguruan tinggi untuk bersinergi membuat kebijakan di bidang perpustakaan perguruan tinggi yang berkualitas.

Reportase: Radhitya 



Diunggah oleh admin