|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

30 Nov 2020

Indonesia Harus Mampu Ciptakan Pustakawan yang Human-Centered dan Bookless Library

Jakarta - Hal yang perlu menjadi perhatian oleh pengelola perpustakaan di era pandemi Covid-19 adalah adanya perubahan perilaku pengguna layanan yang bervariasi pada era digital. Pustakawan tentu harus mampu menyikapi perubahan yang muncul. Antara lain dengan (1) memahami perilaku dan kebutuhan informasi komunitas yang dilayani, (2) memperdalam pengetahuan teknologi informasi dengan komputer berbasis internet yang dibutuhkan dalam menyikapi era digital agar perpustakaan dapat berpartisipasi dan terlibat langsung dalam ekosistem digital, dan (3) mampu berkomunikasi, berinovasi, dan berpikir kritis.

Selama ini kompetensi pustakawan hanya terfokus pada kompetensi teknis, pada kenyataannya selain kompetensi teknis dibutuhkan pula kompetensi individu dan sosial budaya. Kompetensi individu berbicara tentang kemampuan komunikasi, berpikir kritis, kerjasama, kemampuan internet, kemampuan memimpin, user oriented, inovasi, IT skill, dan literasi informasi. Sedangkan kompetensi sosial budaya terdiri dari kemampuan hidup bersama orang lain, kemampuan memahami dan menyelami keberadaan orang/pihak lain, kemampuan memahami dan menghormati kebiasaan orang lain, kemampuan berhubungan/berinteraksi dengan pihak lain, dan kemampuan bekerja sama secara multikultural.

“Kompetensi teknis bisa dipelajari secara akademis, namum kemampuan individu harus dikembangkan dan ditanamkan sejak awal. Sama seperti guru dan dosen, profesi pustakawan adalah panggilan hati karena mereka harus memiliki sifat-sifat khusus agar mampu memberikan layanan dengan baik. Sifat khusus atau Core Values disini diantaranya dapat diandalkan, jujur, memiliki integritas, bertanggung jawab, berperilaku etis, tekun, mampu menjaga rahasia, dan lain sebagainya,” jelas Staff Pengajar Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Luki Wijayanti, saat menjadi narasumber pada webinar bertemakan “Perpustakaan Digital: Penjelajahan Pengetahuan dan Transformasi” yang merupakan kegiatan hasil kerjasama antara Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI) dan Perpustakaan Nasional RI, Senin (30/11).

Dunia kerja pustakawan selalu berahadapan pada sesuatu yang tidak pasti dan ambigu atau dikenal juga dengan sebutan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan kebutuhan untuk “melakukan dengan benar”. Contohnya di masa pandemi Covid-19 ini, pola layanan dan kerja perpustakaan dipaksa berubah agar tetap bisa memberikan layanan terbaik kepada semua penggunanya. Untuk itu, yang perlu lebih ditanamkan adalah konsep layanan perpustakaan yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology-based).  

“Pustakawan dalam melaksanakan tugasnya selalu mengalami perubahan yang tidak dapat diprediksi, untuk itu penting sekali menanamkan Core Values kepada para pustakawan. Perlu diingat pula bahwa apapun jenis perpustakaannya, pustakawan harus human-centered yang mengetahui tentang siapa target yang harus dilayani dengan demikian perpustakaan mampu menyediakan konten yang cocok dan tahu bagaimana cara untuk mengembangkan layanan-layanannya,” ungkap Luki.

Sementara itu, narasumber lainnya yakni seorang Staff Pengajar Program Pascasarjana Manajemen Informasi dan Perpustakaan Universitas Gajah Mada, Ida Fajar Priyanto menyatakan bahwa terdapat perbedaan sistem pembelajaran yang cukup signifikan di Eropa/Amerika dan Asia. Di Eropa/Amerika, ketika guru bertanya maka otomatis murid akan mencari jawabannya dan pada akhirnya mereka akan berdiskusi tentang jawaban yang telah masing-masing dari mereka dapatkan. Lain halnya di Asia, guru aktif menyampaikan materi di kelas dan para murid diam mendengarkan.

“Di Eropa/Amerika itu kalo kita tidak aktif berdiskusi pasti dianggap tidak ada dan untuk bisa berpartisipasi harus baca dulu. Beda halnya di Asia, kalau gurunya bicara, muridnya diam. Di Asia jawaban yang benar dihargai, kalau di Eropa/Amerika justru usaha untuk mendapatkan jawaban yang dihargai, jadi benar atau salah itu belakangan,” papar Ida.

Program Merdeka Belajar Indonesia yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lebih fokus pada pengelolaan institusi pendidikannya saja. Tugas pustakawan dalam hal ini adalah bersinergi dengan pengajar dan pimpinan agar pembelajaran berbasis membaca terwujud. Di perguruan tinggi di Eropa/Amerika pembahasan tentang pengetahuan dan keilmuannya sangat tinggi. Sedangkan di Indonesia, diskusi keilmuan perlu ditingkatkan kembali karena yang masih banyak dibahas adalah isu yang terjadi pada masyarakat.

Jenis perpustakaan yang dikenal di dunia ada empat yakni perpustakaan konvensional, perpustakaan hybrid, bookless library, dan digital library. Perpustakaan konvensional adalah perpustakaan yang memiliki koleksi cetak dengan ruang untuk koleksi dan pemustaka, serta bisa diakses di tempat. Perpustakaan hybrid merupakan perpustakaan dengan koleksi cetak dan digital, memiliki ruang untuk koleksi, perangkat baca dan pemustaka, serta bisa diakses di tempat maupun dari jauh. Bookless library menyediakan koleksi digital, ruang bagi pemustaka dan perangkat baca, serta untuk diakses di tempat. Digital library pun hanya menyediakan koleksi digital, tanpa ruang fisik, serta hanya bisa diakses secara online.

“Jika dilihat dari kebutuhan perpustakaan yang diperlukan pada masa pandemi Covid-19 serta untuk menunjang Program Merdeka Belajar Indonesia adalah bookless library. Sumber informasi digital juga harus semakin ditingkatkan agar lebih bervariasi,” tegas Ida.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa infrastruktur teknologi harus lebih diperhatikan dan dipertimbangkan mengingat hanya 34 persen dari siswa di Indonesia yang memiliki fasilitas komputer di rumah untuk belajar dan lebih dari 30 persen siswa tidak punya tempat yang tenang untuk belajar. “Ini bisa menjadi peluang bagi perpustakaan untuk menyediakan tempat bagi mereka untuk belajar,” tutup Ida.

Reporter: Basma Sartika



Diunggah oleh admin