|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

30 Nov 2020

Seminar Forum Perpustakaan Digital Indonesia

Salemba, Jakarta – Masa pandemi Covid-19 berdampak pada pembatasan seluruh aktivitas, tak terkecuali dengan layanan perpustakaan yang dituntut untuk melakukan transformasi dalam bentuk layanan digital melalui penyediaan koleksi berupa digital. Perpustakaan sebagai penyedia informasi harus tetap eksis dalam melayani kebutuhan masyarakat.

“Selama pandemi, perpustakaan secara fisik tidak bisa memaksimalkan layanannya, namun terjadi peningkatan layanan secara daring melonjak signifikan, seperti layanan digital di Perpustakaan Nasional melalui layanan iPusnas, IOS, eResource dan Kastara yang mencatat kenaikan lebih dari 300 persen,” tutur Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Ofy Sofiana, dalam Webinar dengan tema ‘Perpustakaan Digital:Penjelajahan Pengetahuan dan Transformasi’, Senin (30/11/2020)

Adanya masa pandemi yang cukup lama, lanjut Ofy, memaksa perpustakaan harus mencari cara bagaimana informasi yang dibutuhkan masyarakat dapat dengan mudah tersampaikan. Untuk itulah perpustakaan digital hadir menjawab permasalahan tersebut.

“Masyarakat tetap dapat menjelajah pengetahuan dengan tidak terbatas ruang dan waktu. Melalui penyediaan konten digital secara gratis diharapkan tidak ada lagi halangan dalam mengakses sumber informasi secara terbuka atau open access,” lanjutnya.

Akses terbuka atau open access menjadi salah satu slogan yang diusung oleh Perpustakaan Nasional terhadap beberapa koleksi yang dimilikinya, melalui iPusnas dan ereseource, pemustaka hanya perlu mendaftar secara gratis. Demikian pula dengan kastara dan Indonesia Onesearch, pemustaka cukup mengakses melalui halaman websitenya.

 

Berdasarkan survey yang dilakukan Microsoft Academic Search pada tahun 2017, Indonesia memiliki ketersediaan layanan akses jurnal tertinggi di dunia khususnya untuk jurnal terbuka atau open access journal. Untuk Itulah Perpustakaan Nasional sebagai lembaga pembina semua jenis perpustakaan mengajak untuk mengoptimalkan sarana penyediaan akses koleksi digital gratis atau open access.

 

“Kami berharap seluruh perpustakaan di Indonesia bergabung dan berkontribusi dalam berbagai pakai informasi dan koleksi yang dimiliki di portal Indonesia OneSearch sebagai pintu akses terbuka,” harapnya.

 

Sebagai Pemantik diskusi, Guru Besar Ilmu Perpustakaan FIB Universitas Indonesia, Sulistyo Basuki menyampaikan, sejak eksis sekitar tahun 1990 an, berbagai pihak dengan latar belakang berbeda sudah terlibat dalam pembentukan perpustakaan digital, maka terbentuk dua titik pandang tentang perpustakaan digital.

Pertama, menganggap perpustakaan digital sebagai koleksi terkelola dari informasi digital dengan jasanya, terakses melalui jaringan. Kedua, melihat perpustakaan digital sebagai halnya pandangan pertama, namun ditambah dengan organisasi yang menyediakan sumber daya untuk dipilih, strukturnya sesuai dengan pandangan pendukung perpustakaan digital serta menawarkan akses intelektual koleksi karya digital untuk digunakan oleh komunitas yang telah ditetapkan. 

“Perpustakaan digital muncul dalam berbagai bentuk dan wujud, digunakan oleh berbagai jenis pemakai serta berbagai keperluan dan dalam berbagai konteks, media dan konten. Perpustakaan digital benar-benar bersifat interdisipliner serta mengalami transformasi dalam berbagai bidang,” terangnya.

Sementara itu, Ismail Fahmi sebagai inisiator Indonesia OneSearch (IOS) menyampaikan, ilmu pengetahuan merupakan fakta yang didapat dari proses pembelajaran dan pengalaman manusia, setelah dikodifikasi kemudian disimpan dalam galeri, perpustakaan, arsip dan museum sebagai obyek.

“Obyek yang sudah didigitalkan ini kemudian disimpan dan diolah dalam repositori (perpustakaan) digital,” katanya.

Dijelaskan, perkembangan teknologi memungkinkan eksplorasi ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam perpustakaan digital. “Indonesia OneSearch telah bereksperimen dengan aplikasi IOS Explorer dan IOS Explorer dan IOS CiteMiner untuk ilmu pengetahuan dalam repositori yang dikumpulkan dari mitra,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, seminar ini merupakan kerjasama Perpustakaan Nasional dan Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), sebagai pengganti Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPID) ke-13 yang sedianya akan diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah. Ketua FPDI Jonner Hasugian menyampaikan, kegiatan dialihkan menjadi daring untuk menekan penyebaran Covid-19.

Reportase: Wara Merdeka

 



Diunggah oleh admin