|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

17 Nov 2020

Perpustakaan Nasional RI Umumkan Enam Judul Buku Terbaik

Jakarta - Perpustakaan Nasional RI mengumumkan enam buku terbaik dari beragam tema dalam Anugerah Buku (Pustaka) Terbaik 2020. Enam buku terbaik tersebut terdiri dari enam kategori yakni Kerajinan Tangan, Kopi, Pelayanan Publik, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Arsitektur, dan Kewirausahaan. Setiap kategori menghasilkan enam terbaik sehingga total ada 36 judul buku yang mendapatkan penghargaan.

Untuk kategori Kerajinan Tangan, terbaik pertama diraih buku berjudul “Seni Batik Indonesia” karya S.K. Sewan Susanto. Terbaik pertama kategori Kopi diraih buku berjudul “Berkebun Kopi” karya Pudji Rahardjo, sementara kategori Pelayanan Publik diraih buku “Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif, dan Kolaboratif” karya Agus Dwiyanto. Terbaik pertama kategori PAUD diraih “Strategi Pembelajaran PAUD” karya E. Mulyasa, kategori Arsitektur diraih buku “Prijotomo Membenahi Arsitektur Nusantara” karya Josef Prijotomo, dan terbaik pertama kategori Kewirausahaan diraih buku “UMKM 4.0: Strategi UMKM Memasuki Era Digital 4.0” karya Wulan Ayodya.

Salah satu pemenang, Wulan Ayodya mengapresiasi penghargaan yang diberikan Perpusnas. Dia membuat buku ini untuk mengedukasi pelaku usaha mikro kecil menengah agar mampu bersaing dan dapat menggunakan teknologi digital sehingga dapat menyusun strategi dalam mengatasi persaingan di era revolusi 4.0. “Terima kasih sekali lagi untuk Perpustakaan Nasional Republik Indonesia semoga semakin jaya terus dalam mendukung edukasi kewirausahaan di Indonesia,” tuturnya.

Acara tahunan ini diselenggarakan secara tatap muka dan virtual di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta pada Selasa (17/11/2020). Dalam sambutannya, Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengapresiasi para penulis yang terlibat dalam penganugerahan ini. Dia menyatakan para penulis akan selalu dikenal namanya, melintasi zaman. “Jadi sungguh berbahagia bagi bapak dan ibu yang telah menulis karena seribu tahun pun Anda telah tiada, Anda akan dikenang dengan buku yang Anda tinggalkan,” jelasnya.

Syarif Bando menegaskan buku merupakan simbol peradaban. Kehidupan masyarakat dunia dari masyarakat nomaden ke modern berubah seiring dengan bahan bacaan masyarakat. Semakin berkualitas bahan bacaan masyarakat, maka semakin tinggi peradaban suatu bangsa.

"Oleh karena itu kami memberikan tempat kepada penulis. Saya memang tidak pernah melihat Abraham Lincoln. Tapi saya bisa berteman dengan beliau melalui buku-bukunya yang saya baca. Saya tidak pernah melihat Napoleon Bonaparte, kenal secara fisik Mahatma Gandhi. Tapi tokoh-tokoh dunia itu menjadi teman, mempengaruhi kehidupan dengan membaca kebijakan, kearifan, dan keputusan yang diambil dalam hidupnya," urainya. Karenanya Syarif menegaskan, negara melalui Perpusnas hadir di tengah masyarakat untuk menyatakan pentingnya kehadiran buku di antara masyarakat.

Direktur Deposit dan Pengembangan Koleksi Perpustakaan Perpusnas Emyati Tangke Lembang menyebut buku-buku yang diseleksi dalam penganugerahan ini merupakan hasil karya yang sudah diserahkan ke Perpusnas sesuai dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2018 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Pemilihan buku dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria di antaranya sudah mempunyai International Standard Book Number (ISBN), tercatat di Perpusnas, dan merupakan karya asli. Seleksi dilakukan oleh tim juri profesional yang terdiri dari akademisi, praktisi, pakar perpustakaan, dan pakar bahasa di enam kategori bidang ilmu tersebut. Kriteria khusus dalam penilaian di antaranya substansi dan materi tulisan serta isi dan gagasan kebaruan, menggugah minat baca, sistematika penulisan, ditulis sesuai bahasa Indonesia yang baik dan benar, inspiratif, serta kondisi fisik terbitan.

Para pemenang mendapatkan hadiah jutaan rupiah, terbaik pertama mendapatkan Rp 20 juta, terbaik kedua Rp 17, 5 juta, dan terbaik ketiga mendapatkan Rp 15 juta.

Reporter: Hanna Meinita 

Fotografer: Raden Radityo



Diunggah oleh admin