|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

09 Nov 2020

Webinar Transformasi Perpustakaan dan Budaya Literasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat, Kepala Perpusnas: Kami Hadir Dampingi Masyarakat Wujudkan Kesejahteraan

Salemba, Jakarta- Peran perpustakaan di tengah masyarakat saat ini bukan lagi sekedar sebagai tempat membaca buku ataupun tempat menyimpan koleksi bahan bacaan. Lebih dari itu, perpustakaan harus menjadi tempat menyalurkan berbagai ilmu pengetahuan (transfer knowledge) untuk seluruh masyarakat. Melalui Program Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Perpustakaan Nasional hadir mendampingi masyarakat dalam memperoleh pengetahuan yang mereka butuhkan untuk mewujudkan kesejahteraan.

Hal tersebut disampaikan langsung Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando saat membuka Webinar Transformasi Perpustakaan dan Budaya Literasi Untuk Kesejahteraan Masyarakat yang dilakukan secara daring, Senin (9/11) di Jakarta.

Menurut Syarif Bando program Program Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial selain merupakan upaya Perpustakaan Nasional untuk terus meningkatkan kinerjanya, juga untuk meningkatkan upaya layanannya kepada masyarakat. Perpusnas akan terus membuka diri untuk mendengarkan aspirasi dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.

“Khususnya program-program yang terkait dengan upaya pengembangan perpustakaan, upaya peningkatan kegemaran membaca, upaya peningkatan indeks prestasi sebagai penjabaran dari pada program pemerintah Presiden Joko Widodo- Ma'ruf Amin tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia,” jelasnya.

“Ada sekitar 60 hingga 70 juta masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah khususnya pedesaan dan daerah tertinggal yang sangat membutuhkan pendampingan dari peran perpustakaan dalam program ini,” ungkap Syarif Bando.

Saat ini penerima manfaat program transformasi Perpustakaan Berbasi Inklusi Sosial berasal dari berbagai kalangan dan telah tesebar di berbagai daerah di Indonesia. Seperti ibu rumah tangga, mantan TKI, hingga mantan narapidana. Mereka yang awalnya tidak memiliki penghasilan saat ini dapat terjun dalam indutri rumah tangga  dan mendapatkan kesempatan untuk meingkatkan kesejahteraanya dengan bantuan buku dan pendampingan dari perpustakaan.

Namun Syarif mengungkapkan, upaya tersebut tidak tanpa hambatan. Untuk meningkatkan peran perpustakaan menjangkau masyarakat dalam pembudayaan kegemaran membaca dan budaya literasi secara maksimal tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu dilakukan sinergi dengan berbagai mitra kerja Perpusnas seperti pegiat literasi, kalangan profesional dan akademisi, serta mitra kerja Perpusnas di Komisi X DPR RI.

“Kami berharap dengan terus bersinergi dengan Komisi X DPR RI, Perpusnas dapat terus memperoleh dukungan untuk menyediakan akses dan fasilitas seperti komputer dan internet bagi seluruh masyarakat seluruh daerah. Dengan begitu mereka memiliki akses pengetahuan agar mampu mengolah sumber daya yang ada disekitarnya,” imbuh Syarif Bando.

Selain itu untuk bisa membantu Perpustakaan Nasional mengaplikasikan programnya di pedesaan di tengah segala keterbatasan yang ada, penggiat literasi juga memilik peran yang sangat besar. Seperti Fahrul Alamsyah dari Malang, penggiat literasi yang ternyata memiliki kepedulian terhadap sesama dan siap membantu kita membudayakan literasi bersama komunitasnya.

“Dari kalangan profesional dan akademisi juga berisinergi membantu perpustakaan menerapkan ilmu-ilmu yang menjadi pilihan masyarakat,” tambahnya.

Dalam kesempatan ini Syarif Bando juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang telah mengembangkan berbagai upaya peningkatan kesejahteraan melalui pembudayaan literasi di daerahnya.

 

Reportase: Eka Purniawati



Diunggah oleh admin