|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

04 Nov 2020

Tingkat Literasi Pengaruhi Respons terhadap Pandemi

Jakarta - Pandemi Covid-19 tidak hanya terkait dengan sistem kesehatan tapi juga tingkat literasi masyarakat. Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Subandi Sardjoko menyatakan tingkat literasi masyarakat mempengaruhi sikap dalam menentukan respons terhadap pandemi. Masyarakat yang berliterasi tinggi cenderung merespons pandemi dengan baik, mampu mendeteksi gejala secara mandiri, lancar dalam berkomunikasi dengan tim medis sehingga selalu siap untuk melindungi diri.

Subandi menjelaskan ini berdasarkan data Center for Systems Science and Engineering Universitas John Hopkins Amerika Serikat pada Maret 2020. Data menunjukkan, kenaikan kasus baru per hari di negara dengan yang rata-rata tingkat kemampuan literasinya rendah atau di bawah 85 persen seperti Kamerun, Pantai Gading Nigeria, Tanzania, Togo, mengalami peningkatan kasus baru hingga 900% dalam jangka waktu tujuh hari.

“Hal tersebut menunjukkan kemampuan literasi ini mempengaruhi apakah informasi Kesehatan dapat diterima lebih baik oleh masyarakat. sehingga mereka mampu menekan jumlah korban. Negara dengan rata-rata tingkat literasi rendah memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terserang pandemi,” jelasnya saat menjadi narasumber dalam pembukaan Stakeholder Meeting Nasional Tahun 2020 yang diselenggarakan Perpusnas secara daring pada Rabu (4/11/2020).

Saat ini, ujar Subandi, tantangan nyata dalam melakukan pembangunan adalah melawan dampak pandemi Covid-19 terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ditegaskannya, perpustakaan memiliki peran dalam memberikan dukungan terhadap masyarakat pada masa pandemi ini.

“Ini pengalaman kami di awal September yang lalu pergi ke perpustakaan Desa Cendil di Belitung Timur. Jadi di masa pandemi perpustakaan sangat berperan terutama anak-anak sekolah yang tidak bisa sekolah ini secara bergilir, masyarakat bisa memanfaatkan perpustakaan, bisa membuat memanfaatkan juga akses internetnya, dan juga layanannya,” jelasnya.

Perpustakaan sebagai pusat layanan literasi dan para pegiat literasi diajak agar menjadi mitra utama kegiatan masyarakat dalam memberikan sumber informasi dan pengetahuan yang memadai mengenai virus corona serta menggerakkan budaya hidup bersih dan sehat. Melalui pendekatan literasi inklusi sosial, perpustakaan harus memfasilitasi masyarakat agar dapat mentransformasikan pengetahuan dan informasi yang diperolehnya dengan kegiatan nyata untuk mengatasi persoalan hidup dan meningkatkan kesejahteraan.

Tahun lalu, melalui program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, Perpusnas menjangkau perpustakaan di 32 provinsi dan 100 kabupaten Indonesia. Stakeholder Meeting Nasional 2020 diikuti perwakilan dari 32 dinas perpustakaan provinsi dan 100 dinas perpustakaan kabupaten. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring dengan menetapkan protokol kesehatan yang ketat.

Reporter: Hanna Meinita

Fotografer: Ahmad Kemal Nasution

 



Diunggah oleh admin