|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

06 Oct 2020

Hadapi Tantangan Budaya Membaca di Tengah Pandemi dalam Era Revolusi Industri 4.0

Medan Merdeka Selatan, Jakarta- Budaya membaca menjadi amanat yang ditempatkan sebagai sesuatu yang penting dalam Undang-Undang. Namun banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membudayakan kegemaran membaca di tengah keluarga dan masyarakat. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, menuntut masyarakat menjadi semakin beradaptasi dengan penggunaan teknologi dalam era revolusi industri 4.0. Anggota Komisi X DPR RI Putra Nababan menyampaikan bagaimana menghadapi tantangan menghidupkan budaya baca dalam Webinar Pembudayakan Kegemaran Membaca, Selasa (6/10).

Saat ini menurut Putra, masalah seperti digitaliasi koleksi, dukungan akses teknologi yang belum merata terutama di daerah 3T, serta mudahnya disinformasi/hoaks beredar di media sosial menjadi tantangan literasi di Indonesia. “Komisi X mendukung Perpusnas untuk terus merevitalisasi perpustakaan daerah terutama 3T dengan akses internet, kualitas SDM yang unggul, serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai K/L dan pemerintah daerah,” tegas Putra. Pustakawan juga dituntut beradaptasi dengan meningkatkan kecakapan literasi, mengemas pengetahuan, dan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Di DKI Jakarta sendiri upaya meningkatkan budaya baca dan literasi juga tengah dilakukan dalam upaya menuju Jakarta Smart City. Menurut Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta Wahyu Haryadi terciptanya smart city membutuhkan dukungan kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan smart people sebagai salah satu pilarnya. “Melalui kolaborasi peningkatan kegemaran membaca menjadi kegiatan strategis yang harus dilaksanakan,” jelasnya. Wahyu menyebut bentuk kolaborasi yang dilakukan dengan berapa stakeholder perpustakaan yaitu survei kegemaran membaca, kegiatan #BacaJakarta, serta berbagai workshop yang dilakukan di perpustakaan.

Di lingkungan keluarga dan akademis juga memiliki tantangan tersendiri dalam mencari alternatif sumber bacaan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dari rumah. “Hadirnya Perpusnas dalam situasi ini memberikan solusi dengan menjalin kolaborasi dengan berbagai jenis perpustakaan menyediakan sumber referensi. Juga menyediakan konten digital melalui iPusnas,” tambah Putra.

Putra juga menyebut peran orang tua dalam menanamkan budaya baca dalam keluarga juga sangat penting dilakukan dengan memberikan contoh dan akses bacaan agar gemar membaca. Selain itu pembatasan penggunaan teknologi secara bijaksana untuk mengurangi pengaruh buruk yang mungkin dihadapi.

Duta Buku DKI Jakarta Satria Bahar menambahkan membaca buku menjadi penawar akan banyaknya informasi hoaks yang kita dapatkan dengan mudah di era teknologi ini. “Membaca buku selain merupakan bentuk dari sadar literasi juga dapat membantu membentuk dan menggambarkan siapa diri kita untuk lebih bijak menggunakan sosial media,” tutup Satria.

Reportase: Eka Purniawati

 



Diunggah oleh admin