|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

06 Oct 2020

Webinar Membangun Budaya Literasi Untuk Kesejahteraan: Perpustakaan Jangan Kalah Dengan Media Sosial

Medan Merdeka Selatan, Jakarta- Aksebilitas mendapatkan bahan bacaan bukanlah parameter mutlak untuk mengukur tingkat literasi masyarakat. Dampak dari pencapaian literasi adalah ketika masyarakat berhasil menciptakan produk barang atau jasa yang bermanfaat bagi banyak orang, hasil dari pemikiran, inovasi, gagasan, dan ide-ide baru yang diperoleh dari keaktifan membaca. Masyarakat harus diyakinkan bahwa pintu gerbang untuk meningkatkan kualitas manusia adalah dengan membaca.

Transfer knowledge apapun bentuknya hanya bisa dicapai lewat baca, " jelas Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengawali Webinar Membangun Budaya Literasi Untuk Kesejahteraan, pada Selasa siang, (6/10).

Maka itu, perpustakaan diminta untuk terus memberikan fasilitas layanan yang memadai. Ketika sumber daya manusia sudah handal, maka kekayaan sumber daya alam akan lebih bisa dioptimalkan pemanfaatan/kegunaannya.

Saat ini, ditengah pandemi media sosial menjelma menjadi kekuatan yang luar biasa. Dalam waktu singkat jutaan followers berhasil direngkuh sekedar untuk menonton tutorial yang sederhana tetapi dikemas dengan menarik.
Kekuatan menggaet antusiasme massa lewat medsos secara cepat harus diakui telah mengalahkan kemampuan serupa pada media elektronik yang lebih dulu familiar, seperi televisi dan radio. Ini merupakan tantangan nyata yang mau tidak mau harus dihadapi oleh perpustakaan.

Melihat fakta demikian, Kepala Perpusnas meminta secara khusus agar perpustakaan bersama stake holder terkait harus memiliki visi yang sama. Adanya teknologi tentu memudahkan keterjangkauan akses informasi dan pengetahuan yang bisa diperoleh masyarakat. Ini yang harus dimaksimalkan.

Kedua, komitmen pustakawan atau tenaga pengelola perpustakaan untuk terus memberikan pelayanan yang prima. Ketiga, masyarakat harus diberikan kesadaran untuk meningkatkan kualitas dirinya.

"Perpustakaan jangan kalah dengan media sosial. Yakinkan bahwa koleksi pengetahuan yang disediakan baik yang tercetak maupun digital mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Perpustakaan harus jadi sumber bahan bacaan yang bermutu, " tambah Syarif Bando.

Layanan perpustakaan digital yang dimiliki Perpusnas, seperti Indonesia OneSearch (IOS), iPusnas, dan Khastara terus menunjukan grafik peningkatan terlebih di masa pandemi, dimana aktivitas banyak dilakukan dari rumah. Tingginya pemanfaatan layanan digital Perpusnas, dibarengi dengan melonjaknya angka keanggotaan (member) Perpusnas.

"Khastara bahkan secara khusus diapresiasi oleh Kemenpan RB. Mereka meminta kandungan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam ribuan naskah kuno dapat diterjemahkan, dibaca dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat, terutama yang menjadi koleksi memori ingatan dunia, seperti Babad Diponegoro, dan Cerita Panji, " terang Kepala Perpusnas.

Fokus perhatian Perpustakaan Nasional tidak sebatas penyediaan aksesibilitas pengetahuan lewat teknologi internet, melainkan juga ketersediaan pengetahuan di daerah 3T (tertinggal, terluar, terpencil) dimana keterjangkauan teknologi masih terbatas. Di daerah tersebut kebutuhan koleksi buku fisik masih diperlukan, ditambah support lain seperti armada perpustakaan keliling (mobil/motor).

Aspek kegemaran membaca menjadi penting karena masuk ke dalam salah satu rencana strategis (Renstra). Hal ini merupakan upaya untuk menaikkan indeks literasi masyarakat. Sehingga pola sinergi yang strategis dengan stakeholder terkait harus terus diperkuat untuk pengembangan perpustakaan.

 

Reportase: Hartoyo Darmawan, Roby Fuji A, Franky Sihombing

Fotografer: R. Radithyo



Diunggah oleh admin