|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

22 Sep 2020

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat di Pandemi Covid-19, Bunda Baca Kabupaten Blitar Berdayakan Sayur-Mayur dan Masker Kain

Jakarta - Di tengah kondisi pandemi covid-19, Bunda Baca Kabupaten Blitar Ninik Rijanto terus berkreasi dengan mengajak masyarakat melakukan kegiatan meski dalam kondisi terbatas. Kegiatan yang dilakukan adalah memproduksi masker dari kain perca dan masker rajut serta menjual sayur-mayur. Menurut Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blitar tersebut hal ini dilakukan bekerja sama dengan para pengrajin yang kemudian dijual secara daring.

Ninik menjelaskan hal ini merupakan upayanya dalam melaksanakan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial sebagai solusi peningkatan kesejahteraan masyarakat meski kondisi pandemi. “Sepinya pasar dan menurunnya daya beli masyarakat dalam pandemi covid-19 bisa memberi inspirasi terbentuknya pasar online yang sederhana digagas oleh pengelola Perpustakaan PKK yang ada di Kelurahan Bajang,” jelasnya. Selain itu, Ninik juga melakukan gebrakan setengah miliar masker yang memberi peluang bagi transformasi perpustakaan dalam memproduksi masker.

Ninik juga memberdayakan masyarakat dengan mengajak kaum wanita untuk mengikuti pelatihan membuat jajanan sehat. Selain itu, perpustakaan kelurahan dan desa sudah menyediakan layanan teknologi informasi dan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan pelajar dalam mengerjakan tugas sekolah di era normal baru ini. Agar bisa menjadi andalan masyarakat, perpustakaan harus nyaman dan menarik. Selain itu, koleksi buku yang tersedia harus memadai dan terbaru agar pengunjung tidak bosan.

Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial bisa diterapkan dengan koleksi buku yang memberikan keterampilan dan pelatihan kepada masyarakat dalam meningkatkan literasinya sehingga kesejahteraan meningkat. “Semua keterampilan, pelatihan, itu buku-bukunya harus sudah ada. Misalnya, sekarang musimnya membuat masker, di situ kita harus sudah membuat. Seperti masker yang saya pakai ini, saya melihat di buku. Saya langsung praktik,” jelasnya saat menjadi narasumber webinar “Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dalam Penguatan Kesejahteraan Masyarakat di Masa Pandemi” yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI secara virtual pada Selasa (22/9/2020).

Sementara itu, pegiat literasi R. Wening menyatakan keluarga memiliki peran penting dalam menumbuhkankembangkan literasi. Sejak dini, anak mesti ditanamkan kebiasaan membaca. “Kalau di keluarga diciptakan suasana kepedulian terhadap literasi, ada sarana membaca, ada ruangan, atau tempat yang nyaman untuk anak-anak belajar dan mengasah ilmu,” jelasnya.

Pengurus Gerakan Permasyarakatan Minat Baca Nasional ini mengusulkan wisata buku dan wisata baca untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Dia akan menginisiasi hal ini dengan melengkapi buku dan petunjuk mengenai cokelat di Kampung Cokelat yang merupakan unggulan perpustakaan daerah dalam transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional RI Nelwati menyatakan transformasi perpustakaan terjadi pada empat elemen yakni transformasi fungsi, fasilitas, pustakawan, dan pemustaka. Transformasi fungsi merupakan di mana perpustakaan harus mampu menangkap peluang baru dengan menambah nilai perpustakaan, mampu mengikuti arus perkembangan, ekspansi, dan inovasi sehingga menarik untuk dikunjungi. Sementara transformasi fasilitas terjadi di mana perpustakaan mengembangkan fasilitas layanan yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga memudahkan pemustaka memperoleh akses informasi dan pengetahuan. “Transformasi pustakawan, di mana pustakawan dituntut untuk dapat berpikir inovatif, kreatif serta cerdas karena mereka adalah manajer informasi dan pengetahuan dan the thinking search engine,” jelasnya.

Perpustakaan juga mengalami transformasi karena pemustaka mengalami penyesuaian berdasarkan penggunaan teknologi. Kini, pemustaka terbagi menjadi dua yakni digital native yakni pengunjung perpustakaan terbiasa dengan teknologi dan internet serta digital immigrant yang tidak lahir pada era digital namun mesti belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru.

Reporter: Hanna Meinita/Robby Anggriawan/Josan Kusuma

 



Diunggah oleh admin