|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

28 Aug 2020

Webinar Duta Baca Indonesia : Tepikan Kata Tidak Mungkin Untuk Mimpi Besar  

 

Salemba, Jakarta—Pandemi mengubah banyak kebiasaan manusia. Tetapi, manusia adalah yang paling punya kemampuan beradaptasi dengan situasi, bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun. Di satu sisi, teknologi pun mengubah banyak aspek kehidupan sehingga penting untuk memiliki skill demi menyesuaikan perubahan dunia yang begitu cepat.  

Duta Baca Indonesia Najwa Shihab mengatakan generasi muda memiliki andil besar terhadap perubahan atas individunya, bangsa, dan juga dunia. Kompetensi masa depan amat ditentukan oleh tiga faktor, antara lain merdeka berkarya, merdeka berkolaborasi, dan merdeka belajar.

Pertama, merdeka berkarya yang memuat aspek prinsip, inovatif, dan berorientasi tindakan. “Berprinsip artinya memiliki integritas, tidak terbawa arus,” terang Najwa pada kesempatan Webinar bersama Duta Baca Indonesia yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional, pada Jumat siang, (28/8).

Sedangkan merdeka berkolaborasi mengandung sikap kerjasama, komunikatif, dan cerdas. Kecerdasan tidak diartikan memiliki intelegensia diatas rata-rata atau pintar, melainkan memiliki daya mengaitkan dengan pengalaman. “Cerdas itu akumulasi berpikir dan nalar. Inilah yang dimaksud kemampuan literasi,” tambah Nana.

Dan yang terakhir merdeka belajar adalah sikap berkomitmen, mandiri, dan reflektif. Anak muda harus punya skill berlebih. Tidak cukup menguasai satu bidang atau keahlian. Sanggup beralih profesi dalam kondisi apapun. “Bahkan, generasi milenial yang disebut generasi Z diperkirakan mampu menguasai 14 skill sepanjang hidupnya. Mereka bisa melahirkan potensi lapangan kerja baru yang mungkin belum diperkirakan semasa kuliah,” ungkap Najwa.

Maka itu, Najwa menyarankan ketika angkatan milenial menulis lamaran pekerjaan sebaiknya tidak mencantumkan apa yang didepan mata tetapi tulis kemampuan yang bisa dihasilkan pada 20 sampai 30 tahun yang akan datang. “Bagi yang memiliki mimpi yang besar sebaiknya menepikan kata yang tidak mungkin,” lanjutnya.

Ketika memulai mimpi yang besar. Latihlah diri dengan pertanyaan yang besar. Kemudian berpikirlah besar. Jangan pernah beranggapan untuk mencapai tujuan jangka pendek. Setelah itu, lakukan tindakan yang besar dan bermakna untuk sekitarnya.

“Teknologi mengubah banyak hal tetapi semuanya kembali pada individu yang bersangkutan karena kita dimasa depan adalah apa yang kita perjuangkan saat ini,” pungkas Nana.

 

Reportase : Hartoyo Darmawan, Rizky Agung Gumilar

Fotografer : Ahmad Kemal

 



Diunggah oleh admin