|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

04 Aug 2020

Transformasi Perpustakaan Bantu Perbaiki Kualitas dan Kesejahteraan Masyarakat  

Salemba, Jakarta—Fenomena Covid-19 akibat pemberitaan di media massa maupun media sosial membuktikan perlunya penguatan literasi di masyarakat. Meski di satu sisi malah menunjukkan lemahnya kemampuan literasi. Indonesia dan India adalah negara yang menjadi contoh baik dan buruknya kualitas hal tersebut. Bangkit dari pandemi melalui literasi merupakan bentuk kampanye yang digalakkan pemerintah saat ini. Dan perpustakaan menjadi bagian di dalamnya.

“Kerala, salah satu negara bagian di India berhasil menekan laju penyebaran Corona dikarenakan pemahaman literasi yang baik. Pesan-pesan pemerintah yang dibuat selalu dapat dipahami masyarakat,” terang Kepala Biro Perencanaan Perpustakaan Nasional Joko Santoso saat menjadi nara sumber Webinar Inovasi dan Kreasi Pustakawan Dalam Meningkatkan Kompetensi Menghadapi New Normal yang diadakan Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Selasa siang, (4/8).

Dalam Rencana Pembangunan Jangkan Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 juga ditegaskan bahwa pembangunan manusia menjadi salah satu prioritas nasional yang digiatkan oleh Bappenas. Arah kebijakan dan strategi dalam RPJMN tersebut adalah meningkatkan literasi, inovasi, dan kreativitas bagi terwujudnya masyarakat yang berpengetahuan dan berkarakter.

Turunan dari arah kebijakan dan strategi yang dilakukan memiliki sejumlah program dan kegiatan prioritas, yakni peningkatan budaya literasi dan penguatan institusi sosial penggerak literasi dan inovasi.

Meski telah dirumuskan dalam RPJMN, masih ada sejumlah persoalan yang menyebabkan literasi belum maksimal di Indonesia. Joko Santoso lantas menyebutkan tidak adanya konektivitas dan akses terhadap pengetahuan yang dibutuhkan, tidak adanya sumber dan bahan pengetahuan berkualitas, serta ketidakmampuan mendapatkan pengetahuan yang berguna akibat hambatan psikologis, fisiologis adalah sederet kendala yang ditemui.     

Maka dari itu, penguatan infrastruktur akses pengetahuan, penguatan sumber pengetahuan dan literasi menjadi solusi mengatasi kendala tersebut. Indonesia memiliki tidak kurang 164.610 ribu jenis perpustakaan. Merupakan negara kedua terbanyak di dunia yang memiliki perpustakaan. Padahal, IFLA hanya menstandarkan satu perpustakaan berbanding 25.000 penduduk. Jumlah perpustakaan di Indonesia adalah potensial aset yang harus dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat.

“Jika solusi sudah dilakukan, otomatis peningkatan kapabilitas individu dan kesejahteraan masyarakat akan membaik. Perpustakaan adalah himpunan pengetahuan dan transformasi pengetahuan”, imbuh Joko  

Lebih jauh Joko menjelaskan parameter pembangunan perpustakaan di Indonesia yang mencakup kemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, tenaga perpustakaan yang terampil, kreatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tranformasi perpustakaan berbasis koleksi dan program untuk masyarakat, serta komitmen juga dukungan stakeholder untuk transformasi perpustakaan yang berkelanjutan.

“Arah transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah sebagai pusat budaya, pusat kebudayaan dan pusat kegiatan masyarakat,” pungkas Joko.

Reporter : Hartoyo Darmawan

Fotografer : Rd Radityo



Diunggah oleh admin