|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

29 Jul 2020

Pekan Perpusnas PRESS : Masa Depan Cerah Buku Digital

Medan Merdeka Selatan, Jakarta—Sejak 2010, industri buku terpuruk karena disrupsi oleh perkembangan teknologi informasi yang mengubah cara orang mengakses sumber pengetahuan. Iklim ekosistem digital masih suram sebab masih ada satu hal yang diperlukan agar ekosistem berjalan dinamis, yakni konten. Itu sebabnya, industri buku gagal bangkit ketika berupaya merespon dengan teknologi saja.

Dunia digital tidak bisa tanpa konten. Di tambah, penerbit belum tahu bagaimana membuat buku digital. Meskipun pengguna peranti digital terus naik melebihi jumlah penduduk, penerbit belum kebagian kue bisnis digital. Pada 2011-2013, buku digital sudah hadir melalui sistem bundling dengan tablet, namun masih sepi peminat dikarenakan belum ada peraturan pembelian buku digital, penerbit yang masih ragu soal keamanan hak cipta sehingga dikuatirkan mematikan buku cetak (printing), dan belum menemukan model bisnis yang tepat.

“Teknologi Digital Rights Management atau DRM kemudian menjawab persoalan tadi sekaligus mengelola konten digital dengan cara kriptografi dan aplikasi seluler,” imbuh CEO Aksaramaya Sulasmo Sudharno pada kesempatan Webinar Mewujudkan Karya Melalui Konten Digital pada Pekan Perpusnas PRESS, Rabu, (28/7).

Konsep inilah yang melahirkan perpustakaan digital iPusnas yang dimiliki Perpustakaan Nasional. Aplikasi iPusnas kemudian menjadi titik tolak transformasi layanan.

Cara baru ini mengikis tradisi lama dimana buku-buku disimpan, ditaruh di rak, bahkan ditumpuk yang mengakibatkan konten (kandungan informasi) didalamnya tidak bisa dimanfaatkan oleh publik.

Buku memang memiliki identitas berbeda dengan media cetak lainnya, semisal koran. Jika koran terbatas pada dimensi waktu yang jika dibaca keesokan harinya tidak lagi menarik antusiasme. Namun, buku tidak demikian. Buku bisa diakses kapan pun.

“Sehingga penting bagi publisher memiliki sensitivitas tema, mampu mengendus isu, dan insting membaca masa depan agar buku yang diterbitkan tidak lantas basi,” ujar CEO Rayyana Publishing Salim Shahab.

 

Reporter : Hartoyo Darmawan

Fotografer : Rd Radityo



Diunggah oleh admin (2020-07-30 12:44:31)