|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

07 Jul 2020

Peringatan Ulang Tahun IPI : Pustakawan Ditantang Lebih Eksis Berikan Informasi

Medan Merdeka Selatan, Jakarta - Pesatnya teknologi  tentunya memudahkan terjadinya diseminasi informasi. Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, secara khusus menantang para pustawakan untuk berani menuliskan ide-ide serta gagasannya melalui berbagai media, termasuk media sosial. Kongres di Ciawi pada 1973 membawa pesan penting bahwa kata pustakawan merupakan simbol persatuan untuk membangun perpustakaan ke arah lebih maju.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perpusnas saat memberikan arahan pada Peringatan Hari Pustawakan, dan Ulang Tahun ke-47 organisasi Ikatan Pustawakan Indonesia (IPI) sekaligus Seminar Internasional Kepustakawanan yang digelar secara Webinar di Jakarta, Selasa, (7/7).

Bahkan, jauh sebelum Kongres Ciawi, Presiden Soekarno pada 1959, disebut-sebut telah meletakkan dasar-dasar pentingnya perpustakaan umum. “Namun, ini masih perlu dikaji, ditelaah dan dibahas oleh para pustakawan,” imbuh Syarif Bando.  

Keberadaan pustakawan di Indonesia diakui memang belum mencukupi jumlah ideal. Tetapi, kondisi ini jangan sampai juga menjadi sebuah paradoks. Di satu sisi mengeluhkan tentang kurangnya tenaga pustakawan, namun di sisi lain lain pustakawan kurang mengambil peran strategis dalam pembangunan.

Banyak informasi yang bisa dikemas oleh para pustakawan agar menjadi pengetahuan yang menarik. Kepala Perpusnas mencontohkan bagaimana negara Tiongkok menulis sejarah tentang “Jalur Sutera” yang mahsyur. Indonesia harusnya tidak boleh kalah, karena di masa lalu, Nusantara dikenal sebagai salah satu negara kaya penghasil rempah-rempah, seperti lada, pala, cengkeh, dan sebagainya.  

Pustakawan bisa mengkaji bagaimana bangsa Eropa bersusah payah mendapatkan rempah-rempah. Bahkan, tidak jarang mereka meraihnya dengan cara adu senjata. Kajian tentang Nusantara sebagai jalur rempah dunia bisa mengimbangi informasi tentang Jalur Sutera Tiongkok. 

"Ini pentingnya mempelajari sejarah masa lalu agar bisa mengukur lompatan masa depan," urai Syarif Bando.

Selain itu, Kepala Perpusnas juga menyoroti sejumlah program yang belum sempurna dijalankan oleh kepengurusan IPI, seperti membentuk kepengurusan IPI di tingkat kabupaten/kota, membentuk tim penilai di lembaga atau mitra, mengambil bagian diklat asesor dan mengambil bagian tentang standar perpustakaan yang ada. Syarif Bando juga berharap IPI dapat membuat road map pembinaan untuk pengembangan perpustakaan di Indonesia.

Kepala Perpusnas berpesan agar pustakawan jangan terjebak dengan kegiatan-kegiatan seremonial tetapi minim aksi di lapangan. Padahal, banyak hal yang bisa diciptakan pustakawan seperti tutorial menaikkan partisipasi kegemaran membaca, pentingnya membaca, inklusi sosial, dan sebagainya.

"Dunia berubah dengan informasi. Dan simbol informasi salah satunya adalah perpustakaan. Siapa yang tidak cinta dengan perpustakaan. Dan saya ingin pustakawan bisa eksis berselancar memberikan informasi dengan menggunakan teknologi," tambah Syarif Bando.

Reportase : Hartoyo Darmawan, Wara Merdekawati

Fotografer : Hartoyo Darmawan



Diunggah oleh admin (2020-07-07 15:42:58)