|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

17 Jun 2020

Kepala Perpusnas: Indonesia Bisa Bangkit Melalui Literasi

Medan Merdeka Selatan, Jakarta - Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando menyatakan Indonesia bisa bangkit dari pandemi Covid-19 melalui literasi. Melalui program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, Perpusnas sudah berhasil merambah banyak desa untuk meningkatkan tingkat kehidupan masyarakat melalui literasi. Hal ini disampaikan Syarif Bando saat menjadi narasumber webinar “Bangkit dari Pandemi dengan Literasi” yang disiarkan pada Rabu, 17 Juni 2020 melalui video telekonferensi.

Syarif Bando menjelaskan saat ini, yang menjadi masalah adalah kesenjangan akses atas bahan bacaan yang tidak merata. Padahal, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan bahwa setiap individu berhak untuk mendapatkan akses bacaan minimal tiga buku baru setiap orang setiap tahunnya. Bahkan di Eropa dan Amerika rata-rata 20 buku baru setiap orang setiap tahun.

Sesuai dengan empat tingkatan literasi yang diusung Perpusnas, literasi yang memadai akan bermuara pada terciptanya masyarakat yang sejahtera. Yang pertama, literasi adalah kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bahan bacaan dan karena itu hadirlah perpustakaan. Paradigma Perpustakaan Nasional adalah perpustakaan menjangkau masyarakat, sehingga semua buku harus didigitalkan dan semua orang bisa membaca. Kedua, literasi adalah kemampuan memahami apa yang tersirat dari yang tersurat. Kemudian, yang ketiga literasi adalah kemampuan mengungkapkan ide/gagasan baru, teori baru, kreativitas baru, dan inovasi baru. Kemudian, literasi adalah kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu.

Peran perpustakaan dalam memberdayakan masyarakat, khususnya desa, melalui informasi yang ada dalam buku di perpustakaan menjadi sangat penting. Buku keterampilan yang ada di perpustakaan desa, diharapkan bisa bertambah jumlahnya dan mengurangi pengangguran terbuka, hingga menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan kemampuannya.

Dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia sangat berpotensi untuk maju dengan literasi. Untuk mewujudkan hal ini, buku-buku ilmu terapan sangat dibutuhkan untuk disebarkan merata ke seluruh pelosok Indonesia. Syarif Bando mengapresiasi para pemangku kepentingan yang memberikan testimoni dan berkontribusi dalam mewujudkan program yang mengusung literasi untuk kesejahteraan ini.

“Bagaimana literasi mengubah paradigma dan kehidupan masyarakat dapat dilihat dari sebuah cerita saat bertemu seseorang yang tadinya gagal di transmigrasi, gagal jadi TKI, dan jadi pengemis di pinggir jalan. Dengan sedikit komunikasi, kita tanyakan orang tersebut apa yang kira-kira menjadi keinginannya dan dari keinginan itulah yang kita fasilitasi dengan sumber-sumber informasi yang ada, seperti buku-buku ilmu terapan, serta kita bimbing kurang lebih 1 tahun. Kini, orang itu sudah bisa berproduksi yang tadinya jadi pengemis sekarang sudah punya karyawan lebih dari 10 orang,” urainya.

Syarif mengaku program ini berhasil menarik permintaan dari para kepala daerah agar wilayahnya dijadikan sebagai percontohan. Hal ini menjadi bukti bahwa literasi dapat menjadi stimulan untuk memotivasi dan meyakinkan daerah di Indonesia bahwa pendidikan bukan hanya di kelas tetapi bisa di mana saja.

Program transformasi layanan berbasis inklusi sosial yang diusung Perpusnas pada 2019, menjadikan perpustakaan sebagai tempat beraktivitas pemberdayaan masyarakat dan telah menjangkau 21 provinsi dan 60 kabupaten dan 300 desa di Indonesia.

Reporter: Eka Cahyani/Hanna Meinita

Fotografer: Ahmad Kemal Nasution

 

 

 

 

 



Diunggah oleh admin