|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

09 May 2020

Sudden Death Management

Para ahli memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun ini bisa anjlok di bawah 2,5  persen jika penyebaran virus corona tak terkontrol. The Economist Intelligence Unit (EIU) memetakan risiko utama yang mengancam perekonomian global tahun ini. Dampak konflik Amerika Serikat-Iran terhadap harga minyak (EIU) menyebut kemungkinan terjadi konflik militer yang mengarah pada peperangan antara AS-Iran mencapai 25 persen, serta perang dagang antara AS dan Uni Eropa dinilai memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan penyebaran virus corona (Covid-19).

Dampak virus corona terhadap perekonomian global diperkirakan lebih dahsyat dibandingkan epidemi severeacute respiratory syndrome (SARS) pada 2003. Pasalnya, peran Tiongkok terhadap perekonomian dunia sudah berkembang empat kali lipat dibandingkan 2003. Jika kasus virus corona dapat diatasi oleh pemerintah Tiongkok, maka akan mencabut karantina dan aktivitas ekonomi bakal normal kembali.

Menurut EIU, pemerintah Tiongkok akan menerapkan stimulus fiskal dan moneter untuk memulihkan ekspansi ekonomi, sehingga perekonomian Negeri Tirai Bambu dan global akan pulih pada semester II 2020. Berdasarkan hitungan EIU, ada 20 persen peluang virus corona tidak bisa dikontrol hingga pertengahan 2020, namun hanya ada 5 persen kemungkinan virus corona akan bertahan lebih lama dari 2020.

Dalam skenario terburuk, dampak ekonomi virus corona bakal lebih dalam dan bertahan lama. Kondisi ini menyebabkan disrupsi terhadap perdagangan global semakin parah, rantai pasokan harus dialihkan dari Tiongkok ke negara lain. Beberapa Negara diprediksi akan menerapkan hambatan-hambatan tarif pada perdagangan bilateral.

Konflik dagang AS-Tiongkok akan kembali memanas jika Tiongkok tidak bersedia atau tidak bisa memberikan komitmen impor di bawah kesepakatan dagang tahap pertama. Sejumlah eksportir internasional akan mengalami tekanan finansial karena penurunan permintaan dari Tiongkok menekan harga komoditas dan pendapatan ekspor.

Kemudian, krisis kesehatan publik yang berkepanjangan juga menjadi ancaman bagi stabilitas politik dan keuangan di Tiongkok. Jika legitimasi dan kompetensi pemerintah terancam, mereka harus merespons dengan kebijakan kontrol sosial. Di sisi lain, ada kekhawatiran terhadap pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang diperpanjang hingga 2021 akan menambah utang swasta dan menggoyang stabilitas finansial Tiongkok.

Dengan menghitung dampak langsung pelemahan permintaan di Tiongkok dan gangguan ekonomi di Negara lain akibat virus corona, EIU memprediksi pertumbuhan ekonomiglobal tahun ini bisa lebih rendah dari 2,5 persen. Penyebaran virus corona (Covid-19) menjadi perhatian serius seluruh dunia. Sampai saat ini belum ada vaksin yang mampu menghentikan penyebarannya, sehingga berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

Sebelum corona menyebar, beberapa lembaga internasional memprediksi laju ekonomi dunia melemah karena beberapa faktor global, seperti perang dagang, geopolitik, dan lainnya.

Kehadiran corona sekarang ini dianggap sebagai dampak tambahan yang akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia. Di sisi lain, EIU menyebut kemungkinan terjadi konflik militer yang mengarah pada peperangan antara AS-Iran mencapai 25 persen. Hal ini sangat besar dampaknya terhadap ekonomi global.

Dalam skenario ini, Selat Hormuz yang merupakan jalur pasokan 20 persen minyak dunia bisa ditutup untuk jangka panjang. Kondisi ini bisa membuat harga minyak dunia melonjak ke level USD 90 per barel sehingga memicu inflasi global, melemahkan daya beli konsumen dan dunia usaha. Dan ini berdampak negatif bagi perekonomian seluruh Negara, lagi-lagi dunia juga terdadak oleh anjloknya harga minyak hingga ke angka USD 30-an/barrel.

Ini akibat dari negara-negara anggota OPEC gagal menyepakati pengurangan produksi, sehingga memicu perang harga antara OPEC dan Rusia, dibarengi Arab Saudi memotong harga dan menjual minyak mentah palingbanyak yangmengakibatkan supply berlebih. Dampaknya terjadi terjualnya pasar saham, prospek konsumsi yang lebih rendah, produksi AS meningkat sekitar 11 juta barel per hari, Rusia sekitar 11 juta barel per hari, begitu pun Arab Saudi sekitar 10,6 juta barel perhari.

LANGKAH ANTISIPATIF

Bagi Indonesia, perekonomian dalam cakupan sub-sektor konsumsi yang jumlahnya mencapai 50 persen lebih akan terdampak. Konsumsi akan turun karena ada disrupsi di suplai, maupun daya beli masyarakat turun. Penyebaran virus corona juga membuat daya beli masyarakat Indonesia menurun, banyak industri melakukan efisiensi menjelaskan rantai pasok bahan baku industry manufaktur Indonesia mulai menipis lantaran produsennya di Tiongkok tidak beroperasi.

Pelemahan ekonomi Indonesia lainnya bisa terjadi karena Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Berdasar perhitungannya, koreksi akibat penurunan ekonomi Tiongkok sebagai wabah corona dan pengaruhnya terhadap Indonesia mencapai 0,3-0,6 persen. Dia pun memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama 2020 hanya mencapai 4,7 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2020, penurunan tajam terjadi pada ekspor migas dan non-migas yang merosot 12,07 persen, hal ini dapat terjadi karena Tiongkok merupakan pengimpor minyak mentah terbesar, termasuk dari Indonesia. Dari sisi impor juga terjadi penurunan 2,71 persen yang disumbang turunnya transaksi komoditas buah-buahan.

Sektor pariwisata sangat terkena dampak negatifnya. BPSmenunjukkan kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia selama Januari sampai Juni 2019 mencapai 1,05 juta orang, terbanyak kedua setelah wisatawan Malaysia dan drastis turun akibat virus corona tersebut.

Agar komprehensif, sebaiknya pemerintah membentuk paket khusus antisipasi korona di seluruh sektor usaha mulai dari perdagangan, transportasi, dan pariwisata. Ada kunci penting langkah antisipatif yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah yaitu melakukan sinergi, transformasidan inovasimencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru misalnya penguatan 93,4 juta UMKM yang merupakan pangsa pasar terbesar dan sumber ketenagakerjaan.

Terhadap penurunan harga minyak dunia tersebut berdampak pada penurunan kinerja ekspor migas, penurunan realisasi penerimaan pemerintah dalam APBN, dan penurunan penerimaan pemerintah dari pajak penghasilan (PPh) migas. Sehingga perlu langkah-langkah antisipatif guna mencari solusi antara lain mengkaji secara cermat dan cepat kemungkinan dampak negatifnya kepada penerimaan pemerintah maupun investasi sektor migas.

Bersamaan dengan itu, pemerintah harus tetap memastikan pasokan dalam negeri tetap aman, antara lain melalui impor minyak mentah untuk diolah di kilang-kilang dalam negeri. Juga harus dicermati kemungkinan KKKS akan merevisi atau menurunkan target lifting karena harga jual mendekati harga produksi atau bahkan mungkin diatasnya, maupun mencermati turunnya harga saham-saham milik perusahaan migas plat merah dalam negeri.

Kondisi-kondisi global yang mendadak seperti ini dapat memicu sudden death (mati mendadak) dari korporasi atau bahkan negara. Jika viruscorona dikategorikan pandemic (penyakit menular yang secara bersamaan menyerang penduduk di seluruh dunia) maka akan dapat melumpuhkan ekonomi. Faktanya, kini penyebaran virus corona sendiri sudah berdampak pada sektor pariwisata, transportasi, dan manufaktur.

Pun, ancaman resesi ekonomi makin nyata. Bahkan diperburukoleh mewabahnya corona. Resesi ekonomi dunia salah satu tandanya adalah banyak orang yang melepas sahamdipasar bursa, kemudian mengalihkannya ke instrumen yang aman (safe haven). Kondisi yang tidak menentu, susah diprediksi, berlangsung sangat cepat dan mengglobal sewaktu-waktu dapat mengakibatkan kondisi sudden death karena gagal melakukan estimasi, mitigasi, antisipasi dan solusi.

Kita harus moved on menuju business unusual agar dapat mempertahankan diri sekaligus melakukan lompatan-lompatan strategis agar lebih kompetitif dan mampu memenangkan kompetisi. Inilah kondisi yang biasa disebut VUCA (Volatility/bergejolak, uncertainty/tidak pasti, complexity/kompleks and ambiguity/tidak jelas). Untuk menghadapinya kita dapat menggunakan Jurus VUCA dalam arti vision/visi ke depan, understanding/ pemahaman secara detail, clarity/ketajaman/kejelasan dan agility/kelincahan) agar mampu mengubah hambatan menjadi tantangan serta mengubah tantangan menjadi peluang untuk lebih maju.

Oleh karena itu diperlukan leadership/kepemimpinan yang visioner dan berkarakter negarawan. Satu hal, para pemimpin harus berani mengaplikasikan ”sudden death management” dalam arti mulai dari dirinya sendiri harus menjadi bagian solusi dan berani lengserjika tidak mampu berkinerja baik (atau bahkan sangat baik), untuk memberi peluang pada orang lain yang memiliki kapabilitas keilmuan, kompetensi maupun pengalaman. (ndu/k18)

 

Oleh : SUHARYONO S HADINAGORO 

Pemerhati  Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan



Diunggah oleh admin