|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

21 Jan 2020

Rakernis Deputi I Perpusnas : Aspek Pelayanan dan Indeks Kepuasan Pemustaka Tempati Kategori Baik

 

Medan Merdeka Selatan, Jakarta—Ada ungkapan bilang bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Sejumlah capaian keberhasilan yang diraih Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi menunjukkan hal tersebut. Pelayanan publik Perpustakaan Nasional (Perpusnas) memperoleh angka 3,65, atau pada kategori baik. Perbaikan peringkat pada aspek pelayanan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) dinilai sebagai kesungguhan Perpusnas.

Perpusnas secara khusus menempati peringkat lima dari 18 Kementerian/Lembaga yang dinilai oleh KemenPAN-RB. Aspek evaluasi meliputi kebijakan pelayanan, professional SDM, inovasi, sarana prasarana, Sistem Informasi Pelayanan Publik (SIPP), serta konsultasi dan pengaduan.

“Secara keseluruhan indeks kepuasan pemustaka Perpusnas meningkat 0,08 poin dibandingkan periode sebelumnya. Dari 4,31 menjadi 4,39. Sudah mencapai skala 5. Jika merujuk skala minimal 4 yang mengacu pada PermenPAN-RB nomor 14/2017, maka indeks kepuasan pemustaka Perpusnas yakni sebesar 3,51 (baik),” urai Deputi I Perpusnas Ofy Sofiana pada arahan Rakernis Kedeputian I Perpusnas di Aula Perpustakaan Nasional Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11, pada Selasa, (21/1).

Di samping raihan positif di bidang pelayanan perpustakaan, kedeputian 1 juga mendapatkan pengakuan/penghargaan karena telah memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu untuk unit kerja Pusjasa, Deposit Bahan Pustaka, UPT Proklamator Bung Karno (Blitar), dan UPT Bung Hatta (Bukittinggi). Lalu sertifikat ISO/IEC 27001:2013 perihal Information Security Management System, serta sertifikat Memory of the World (MOW) dari UNESCO untuk koleksi Negarakretagama, Babad Dipanegara, dan Cerita Panji.

Selain catatan keberhasilan, Deputi Ofi Sofiana meminta kepada jajarannya agar (1) pengadaan koleksi harus didasari oleh hasil kajian kebutuhan masyarakat; (2) sosialisasi e-resources akan lebih difokuskan cara pemanfaatannya; (3) perlunya pelatihan etika layanan secara berkala; (4) workshop keterampilan berbasis inklusi sosial; dan (5) penyediaan co-working space dan pusat informasi layanan di BCB perlu diwujudkan.

 

Reportase : Nia Purniawati

Fotografer : Ahmad Kemal 



Diunggah oleh admin