Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

15 Jan 2020

Pustakawan Perpusnas Ikuti Bimtek Metode Read Aloud

Medan Merdeka Selatan, Jakarta – Metode Read Aloud atau membaca dengan suara lantang dan jelas sangat baik dikenalkan pada anak-anak usia dini. Metode tersebut diyakini dapat  menstimulasi perkembangan otak anak-anak. Hal ini disampaikan pegiat literasi, Rossie Setiawan, saat memberikan bimbingan teknis di hadapan para pustakawan dalam rangkaian kampanye Read Me a Book di  Perpustakaan Nasional, Rabu (15/1).

Rossie menjelaskan metode read aloud mengajarkan pada anak-anak jika membaca buku itu menyenangkan. Read aloud baik dilakukan untuk anak sejak dini 0 bulan, bahkan dapat dilakukan pada tri semester terakhir kehamilan, karena hal ini dapat menambah kosakata anak.

“Meskipun kosakata itu saat diperdengarkan belum merasa perlu. Namun, sangat baik dilakukan sejak dini bahkan dalam tri semester terakhir kehamilan, karena fungsi pendengaran sudah mulai sempurna. Ketika kosakata ditambah akhirnya anak bisa berbicara dengan menggunakan bahasa lisan, setelah itu membaca dan menulis. Tidak mungkin bisa menulis kalau kosakata yang dimiliki hanya sedikit. Jadi, ketika memiliki anak ajaklah mereka berbicara,” ujar penerjemah buku ‘The Read-Aloud Handbook’ karya Jim Trelease ini.

Di jelaskan, ketika membacakan dengan lantang dan jelas, ada enam kecakapan literasi usia dini, diantaranya naratif skill atau kemampuan menceritakan kembali. Berkomunikasi menggunakan bahasa lisan, letter knowledge atau pengetahuan huruf, sadar mengenai fonem, yakni satuan bunyi terkecil sehingga anak bisa mendengar itu yang mengandung arti, belajar melafalkan karena organ bicara harus dilatih untuk bisa berbicara, termotivasi ketika melihat buku, vocabulary. Dan ini bisa didapatkan oleh anak-anak ketika dibacakan dengan metode read aloud atau membaca lantang.

“Membacakan lantang atau read aloud bukan menyelesaikan satu buku, tetapi menikmati proses membacakan secara lantang. Prosesnya, yakni kita harus siap bertanya dan menerima pertanyaan dari anak. Read aloud memberikan kesempatan anak untuk bertanya, berpikir kritis,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, para pustakawan Perpusnas mencoba mempraktekkan metode read aloud, dengan membaca buku anak-anak yang telah disediakan panitia. Seperti diketahui, kegiatan ini merupakan rangkaian dari Kampanye Read Me a Book yang digelar atas kerjasama Perpustakaan Nasional dengan National for Children and Young Adults (NLCY) Korea Selatan. Kampanye ini berlangsung pada 15 Januari hingga 23 April 2020.

 

Reportase       : Wara Merdekawati

Fotografer       : Hartoyo Darmawan



Diunggah oleh admin (2020-01-16 07:26:33)