|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

16 Dec 2019

MOU Dengan 49 Perguruan Tinggi, Perpustakaan Digital Bantu Atasi Disparitas Ilmu Pengetahuan dan Informasi

Solo, Jawa Tengah-Sebanyak 49 perguruan tinggi di Jawa Tengah melakukan Memorandum of Understanding (MOU) dengan Perpustakaan Nasional, pada Senin, (16/12). Penandatanganan MOU dilakukan di sela-sela Seminar Nasional dan Musyawarah Daerah (Musda) Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI) Jawa Tengah di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dalam draft MOU tersebut kedua pihak sepakat untuk sama-sama memanfaatkan repository digital perpustakaan, inlislite, meningkatkan mutu kualitas sumber daya manusia bidang perpustakaan, melakukan promosi perpustakaan dan budaya baca, serta pelestarian karya cetak dan karya rekam (KCKR).

Dalam kesempatan membuka kegiatan, Ketua FPPTI Provinsi Jawa Tengah Wiji Suwarno menekankan pentingnya perpustakaan dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi. Bukan hanya gudang buku melainkan pusat informasi. Di beberapa kampus ternama dunia, keberadaan perpustakaan sangat diperhatikan. Bahkan, menjadi salah satu indikator perguruan tinggi yang memiliki kualitas istimewa. Perguruan tinggi yang baik semestinya juga memiliki kualitas perpustakaan yang baik pula.

"Para rektor dan direktur perguruan tinggi sebenarnya tahu manfaat perpustakaan, hanya saja kurang memerhatikan. Oleh sebab itu, mudah-mudahan dengan penandatanganan MOU ini menjadi alat picu, titik balik dari perguruan tinggi," imbuh Wiji.

Sedangkan Rektor UMS Sofyan Anif mengomentari perkembangan Iptek yang sadar dengan kecanggihan secara perlahan menggiring orang tidak lagi ke perpustakaan. Merasa semuanya bisa dijangkau dengan teknologi dan aplikasi. IPTEK memang memberikan kemudahan. "Justru perpustakaan kunci strategis jika kita bicara tentang kualitas pendidikan. Artinya makna dari perpustakaan harus diluaskan. Dan suatu keilmuan tidak akan berkembang jika tidak berjejaring," ucap Sofyan.

Senada dengan Rektor UMS, Kepala Biro Hukum dan Perencanaan Perpusnas Joko Santoso mengatakan bahwa esensi dari berjejaring dalam pelaksanaan MOU adalah perumusan kegiatan sesuai kesepakatan.

Dalam paparannya Joko Santoso menjelaskan perkembangan dan persebaran perpustakaan dari ujung barat hingga ke timur Indonesia. Dari 164.610 total perpustakaan yang ada di Indonesia, 6.552 diantaranya adalah perpustakaan perguruan tinggi. Sedangkan persebaran perpustakaan lebih besar berada di pulau Jawa sebanyak 47,89 % dan Sumatera 23,55%. Makin ke timur semakin kecil. "Dalam artian sederhana, terjadi disparitas persebaran ilmu pengetahuan dan informasi," jelasnya.

Nah, untuk mengatasi kesenjangan tersebut pengembangan perpustakaan digital merupakan salah satu solusi yang diberikan oleh Perpusnas. Termasuk didalamnya pengembangan perpustakaan berbasis moda transportasi sebagai bagian integral untuk mengatasi kesenjangan akses masyarakat memperoleh pengetahuan dan informasi.

Survei World Culture Index memberikan skor 52,92% kepada Indonesia pada aspek kegemaran membaca. Nilai tersebut menempatkan aktivitas membaca masyarakat Indonesia masuk kategori sedang. Meski terus mengalami pertumbuhan dari tahun 2016.

"Ini menunjukkan bahwa bukan minat baca masyarakat yang kurang melainkan akses ketersediaan memperoleh bahan bacaan dan kuantitas sumber bahan bacaan yang belum memadai," beber Kepala Biro Hukum dan Perencanaan.

Reporter/Fotografer: Hartoyo Darmawan

 



Diunggah oleh admin (2019-12-17 08:42:55)