Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

29 Nov 2019

Kepala Perpusnas : Esensi Kemerdekaan Bukan Deklarasi tapi Kemampuan Ilmu Pengetahuan

Mojokerto, Jawa Timur--Esensi kemerdekaan bukan sekedar pembacaan deklarasi tapi membekali masyarakat dengan kemampuan ilmu pengetahuan. Paradigma perpustakaan bukan lagi mengelola koleksi (manage collection), melainkan kemampuan mengelola ilmu pengetahuan (manage knowledge). Jika perpustakaan tidak sanggup mengubah kesejahteraan masyarakat menjadi lebih baik, lama- kelamaan keberadaan perpustakaan akan ditinggal.

Penegasan ini disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando pada talk show pengelolaan perpustakaan dan pengukuhan Bunda Baca Kabupaten Mojokerto yang digelar di pendopo kabupaten pada Jumat, (29/11).

Kabupaten Mojokerto tentu bangga karena di daerah ini Kerajaan Majapahit berdiri dan melalui masa keemasannya. Warisan budaya Negarakertagama dan sosok fenomenal Mahapatih Gajah Mada pun sangat terkenal di dunia.

Namun, kedigdayaan Majapahit di masa lalu bisa terulang kembali. Artinya Kabupaten Mojokerto harus mulai menciptakan sosok Gajah Mada baru yang hebat dan mendunia. Dan membaca menjadi salah satu fondasi untuk mencapai kembali kesuksesan tersebut.

"Bukan tidak mungkin Indonesia akan mencapai puncak kesuksesan dan kejayaan jika kita semua mampu meletakkan fondasi membaca dengan baik," ujar Kepala Perpusnas di hadapan ratusan peserta talk show.

Kemampuan literasi seseorang bisa terlihat dari seberapa sering aktivitas membacanya. Membaca juga bukan hanya mampu mengeja huruf, menulis kata demi kata, ataupun menghafal kalimat. Konteksnya sangat berbeda ketika membaca melalui internet dan buku. Membaca di internet seperti berselancar di laut, terombang-ambing karena begitu banyaknya informasi yang kadar kebenarannya belum tervalidasi. Namun, tidak demikian dengan membaca  melalui buku. Membaca buku secara langsung melahirkan sisi emosional tertentu, sehingga meski internet berseliweran, buku tetap tidak tergantikan.

Dalam kesempatan yang sama, disaksikan Bunda Baca Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin, Kepala Perpusnas melantik istri Plt. Bupati Mojokerto Yayuk Ismawati sebagai Bunda Baca. Kehadiran bunda baca diharapkan bisa menjadi motivator, role model bagi pengembangan budaya baca di Mojokerto.

Bunda Baca mempunyai peran dan tanggung jawab terhadap kualitas generasi. Pemahaman literasi harus disesuaikan dengan peradaban dan perkembangan zaman. "Jika ini dipahami baik, SDM yang berkualitas dapat mendorong Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indonesia akan naik kelas dari negara berkembang menjadi negara maju," pesan Bunda Baca Arumi Bachsin.

 

Reportase: Hartoyo Darmawan



Diunggah oleh admin (2019-11-30 11:10:42)