|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

22 Nov 2019

Gemar Membaca, Keterampilan yang Harus Dilatih Sejak Dini

Semarang, Jawa Tengah - Membaca merupakan kemampuan yang harus dilatih sejak usia dini. Hal ini bisa dilakukan dengan melatih kebiasaan membaca buku setiap hari. Duta Baca Indonesia Najwa Shihab menyatakan membaca bukan hanya sekadar kemampuan mengeja melainkan meraih makna dari bahan bacaan. Bahkan terapi dengan membaca disebut bisa menyembuhkan jiwa.  

“Dipikir kalau bisa mengeja, itu otomatis bisa membaca dan suka baca. Padahal kemampuan untuk merangkai huruf itu berbeda, jauh sekali dengan skill kita untuk meraih makna dari bahan bacaan. Itu yang kerap kali kita lihat, anak-anak kita kalau dites di tingkat internasional, usia 6-7 tahun ketika dites kemampuan membacanya, relatif bisa bersaing dengan anak-anak dari negara-negara lain. Karena yang dites hanya kemampuan membaca, mengeja. Tapi ketika dites beberapa tahun kemudian, selalu di bawah rata-rata, di bawa standar, karena yang diuji kemampuan memahami bahan bacaan. Dan inilah yang terkadang kita kurang,” urai Najwa Shihab dalam Talkshow Gemar Membaca bersama Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab di Wisma Perdamaian Rumah Rakyat, Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (22/11/2019).

Najwa menjelaskan penelitian di Amerika Serikat menunjukkan ragam manfaat membaca yakni membuat tidur lebih nyenyak, tidak mudah pikun, dan membuat panjang umur. “Di Yunani Kuno, perpustakaan zaman dulu di depannya itu tulisannya, “Healing Place for the Soul”. Artinya apa? Perpustakaan menjadi tempat untuk menyembuhkan jiwa. Bahkan tentara-tentara di AS, ketika pulang perang Dunia, dan mereka stres karena perang, apa resep yang diberikan oleh psikiater? Bibliografi, baca buku. Orang-orang yang stres disarankan membaca buku untuk menyembuhkan jiwa,” tutur pendiri Narasi TV ini.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Woro Titi Haryanti menyatakan melalui membaca, individu bisa mencapai apa yang diinginkan. Dan hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan perpustakaan. Saat ini, perpustakaan mengalami transformasi menjadi tempat untuk berbagi pengetahuan dan berbagi keterampilan.

“Contoh Rumah Baca Modern (di Jawa Tengah, red) bahwa perpustakaan tidak hanya untuk menyediakan buku-buku untuk masyarakat, tapi perpustakaan hadir untuk bapak dan ibu. Karena kami ingin, ayo sama-sama kita lakukan perubahan terhadap diri kita dan masyarakat. Dengan membaca kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Dan program-program kami semuanya adalah untuk masyarakat dan kebermanfaatan kepada masyarakat. Inilah yang kami harapkan dari pesan Pak Jokowi, kami hadir di tengah masyarakat,” jelas Deputi Woro Titi.

Deputi Woro Titi juga mengapresiasi kebijakan pemerintah provinsi Jawa Tengah yang mendukung perpustakaan dan literasi. Saat ini, sebanyak 208 perpustakaan desa di Jawa Tengah sudah mereplikasi program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. “Kami memberikan apresiasi kepada teman-teman di Jawa Tengah yang begitu giat mengembangkan perpustakaan di desa, dengan tahun ini kami memberikan program ini di sembilan kabupaten di Jawa Tengah dengan empat desa masing-masing mendapatkan program tersebut,” tukasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendorong para pelajar agar gemar membaca. Karena anak yang gemar membaca akan lebih bijaksana dalam menilai suatu informasi. Seluruh peserta diminta agar rutin membaca setiap hari baik di perpustakaan maupun melalui media elektronik. “Karena membaca kurang, literasi kurang, seringnya marah. Akibatnya, kita menjadi rentan. Anak yang banyak membaca, banyak berdiskusi, mengerti, dan paham, itu seperti diimunisasi. Dalam situasi apapun, dia akan tenang. Dia akan bisa memilih, memilah, menilai ini benar atau salah dalam situasi apapun,” pungkasnya.

Dalam talkshow, Gubernur Ganjar memberikan lima eksemplar bukunya dengan judul “Jembatan Perubahan” kepada para peserta. Talkshow yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tenag ini dihadiri 500 orang yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan perwakilan dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Jawa Tengah.

Reporter: Hanna Meinita dan Agus Djoko/Fotografer: Wara Merdekawati



Diunggah oleh admin (2019-11-22 20:10:16)