|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

14 Oct 2019

Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca Sulsel: Pemecahan Masalah Kompleks sebagai Skill Utama di Era Revolusi Industri 4.0

Makassar, Sulawesi Selatan -- Revolusi Industri 4.0 mendorong terjadinya disrupsi di dalam berbagai bidang, terutama pada skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan di industri masa depan. Hal ini disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, pada paparannya di Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca  Tahun 2019 yang bertempat di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Senin  (14/10).

"Ketika revolusi industri 4.0 lahir, ada 1,5 miliar pekerjaan yang akan hilang dan hanya tersisa 2,1  juta pekerjaan di dunia. Pekerjaan seperti youtuber, analisis data, dan berbagai pekerjaan yang bersifat kolaboratif akan menjadi pekerjaan yang muncul era digital ini", ujar Syarif. Karenanya, paradigma pendidikan di Indonesia harus berubah. Tidak hanya mengutamakan kecerdasan kognitif individu yang diraih melalui predikat cumlaude, melainkan lebih kepada kemampuan dalam memecahkan masalah kompleks secara kolaboratif. "Industri sekarang bukan (hanya) membutuhkan kecerdasan, tetapi adalah complex problem solving, bagaimana kemampuan anda memecahkan masalah yang paling komplek dan anda tidak bisa melakukan dengan sendiri," ujarnya.

Skill yang harus dimiliki di Industri masa depan secara berurutan setelah complex problem solving adalah social skill, process skill, system skill, dan terakhir baru kecerdasan yang dikenal dengan cognitive abilities.

Pustakawan di era revolusi Industri 4.0 ini juga harus selalu belajar agar dapat beradaptasi dan relevan dengan kemajuan teknologi. ada tiga kemampuan utama yang harus dimiliki pustakawan saat ini. Yang pertama adalah kemampuan collection management, knowledge management, dan knowledge transfer. "Tanpa kemampuan transfer pengetahuan, pustakawan akan ditinggalkan, " pungkas Syarif

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Abdul Hayat Gani mengatakan bahwa di era revolusi industri 4.0 sumber belajar tidak hanya melalui buku saja, melainkan dari berbagai sumber informasi yang ada. Untuk terus belajar dan bersaing dalam penguasaan berbagai skill diperlukan stimulan dan motivasi. "Bagaimanapun juga stimulan, motivasi, ataupun semangat, salah satunya didapatkan dari membaca. Kita ingin hebat, kita harus menguasai informasi, yang salah satunya didapatkan dari membaca," ujar Gani.

Selain Safari Pembudayaan Kegemaran Membaca, pada rangkaian acara ini, dibuka juga Pekan Perpustakaan dalam rangka hari jadi Sulawesi Selatan ke-350. Selain itu, Kepala Perpustakaan Nasional juga mengukuhkan Ir. Hj. Liestiaty F. Nurdin,  M. Fish sebagai Bunda Baca Daerah Sulawesi Selatan Periode 2018-2023. Bunda Baca diharapkan menjadi role model dan menginspirasi dalam membangun sumber daya masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan yang inovatif, produktif, kompetitif, inklusif, dan berkarakter.

Reportase:  Radhitya



Diunggah oleh admin (2019-10-14 21:37:18)