Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

08 Oct 2019

Safari Nasional Gerakan Pembudayaan Kegemaran Membaca, Lampung Kompak Sukseskan Budaya Baca

Bandar Lampung, Lampung--Sering kali Indonesia ditempatkan pada urutan dua terbawah perihal pemeringkatan minat baca atau literasi berdasarkan riset lama (2006) yang dijadikan alat propaganda internasional oleh negara maju. Kini, posisi Indonesia sudah berada pada 16 besar dunia.

Penyair kenamaan Taufiq Ismail pernah menuliskan 'Tragedi Nol Buku' yang menggambarkan tidak adanya buku wajib yang harus dibaca para anak didik tiap tahunnya. Beda dengan di negara-negara maju maupun berkembang yang punya kewajiban membaca buku wajib.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando secara gamblang mengoreksi hasil riset yang mengatakan budaya baca Indonesia rendah. Rendahnya budaya baca pernah dialami negara-negara maju. Namun, perlu trik-trik agar masyarakat, khususnya anak-anak agar keranjingan dengan membaca. Pun di bidang pendidikan, para guru/dosen harus membuka mata melihat perkembangan peradaban dunia. Paradigmanya harus diubah. "Bekali anak-anak didik dengan kemampuan menghadapi tantangan dunia 20-30 tahun yang akan datang. Angka-angka di ijazah itu bukanlah yang utama," terang Syarif Bando saat Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Bandar Lampung, Selasa, (8/10).

Orang tua, lanjut Kepala Perpusnas, jangan menghukum anak-anak karena budaya bacanya rendah, tapi penuhi dulu kebutuhan bukunya. Saat ini yang terjadi bukan minat baca yang rendah, tapi kurangnya bahan bacaan yang berkualitas.

Bermunculannya duta-duta baca dan bunda literasi yang tersebar di berbagai daerah diharapkan Kepala Perpusnas harus menginspirasi masyarakat di sekitarnya. Mampu memberikan energi dan sinergi positif termasuk dengan perpustakaan, karena paradigma perpustakaan sudah mulai berubah mengikuti perkembangan zaman.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Lampung Ririn Koeswantari menjelaskan dukungan legislatif terhadap perpustakaan sudah ditunjukkan dalam bentuk regulasi. Ada dua peraturan daerah (Perda) yang terkait transformasi perpustakaan, yakni tentang penyelenggaraan perpustakaan daerah dan budaya literasi. "Saat ini sedang dilakukan harmonisasi namun tidak mengurangi esensi," terang Ririn.

Dewan akan mendukung niatan pemerintah Lampung memperluas gerakan literasi daerah, termasuk perpustakaan berbasis inklusi sosial. "Saya pikir semua unsur harus terlibat, bersinergi, sehingga menjadi kekuatan besar dan terlaksana, tandasnya. Sekedar informasi, saat ini pemerintah Kabupaten Lampung Barat sudah membuat Perbup Literasi.

Sementara itu, Bunda Literasi Provinsi Lampung Riana Sari Arinal mengaku siap memotivasi para orang tua untuk menjaga kebiasaan membaca di lingkungan keluarga. "Ada tiga tahap yang bisa dilakukan agar anak suka membaca, yaitu memulai, membiasakan, dan membudayakan. Orang tua adalah perpustakaan pertama bagi anak-anak," ujar Riana.

Sedangkan penulis buku Fitri Restiana menyarankan ketika kecintaan membaca sudah baik. Tuangkan menjadi tulisan dalam bentuk resensi, misalnya. Dari hasil tulisan tersebut bisa dikirimkan ke penerbit ataupun media. Jika berhasil dan imbalan diterima, belikan kembali buku. "Jangan pernah berpikir menulis itu sulit," pesan Fitri.

 

Reportase: Hartoyo Darmawan

 



Diunggah oleh admin (2019-10-09 09:43:58)