Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

12 Sep 2019

Hadiah Sastera Rancage, Apresiasi untuk Pengembangan Literasi dan Kebudayaan Nusantara

Medan Merdeka Selatan, Jakarta - Perpustakaan Nasional dan Yayasan Kebudayaan Rancage menyelenggarakan Penganugerahan Hadiah Sastera Rancage kepada para pengarang yang menghasilkan karya sastra terbaik dalam bahasa daerah. Tahun ini, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Sastera Rancage untuk dua kategori, yakni Hadiah Rancage yang mencakup Sastera Sunda, Sastera Jawa dan Sastera Bali, serta Hadiah Samsudi.

Hadiah Rancage Sastera Sunda diberikan untuk Eris Risnandar (kumpulan sajak berjudul “Serah”), Sastera Jawa untuk Sunaryata Soemardjo (novel berjudul “Tembang Raras ing Tepis Ratri”) dan Sastera Bali untuk I Ketut Sandiyasa (kumpulan cerpen “Kupu-kupu Kuning Ngindang di Candidasa), serta Hadiah Samsudi cerita anak berbahasa Sunda untuk Ai Rohmawati (Pohaci Nawang Wulan).

Anugerah diserahkan inisiator Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi, Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Erry Riyana Hardjapamekas, Kepala Bidang Layanan Koleksi Khusus Perpusnas Yeri Nurita, dan Kepala Dinas Perpustakaan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat Riadi di Ruang Teater Soekarman, Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta, pada Kamis (12/9/2019).

Yeri Nurita menyatakan kegiatan ini merupakan dukungan dari Perpusnas terhadap Ajip Rosidi yang fokus mengembangkan literasi dan kebudayaan nusantara dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. “Karena itu wajar rasanya jika Perpustakaan Nasional memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepad Bapak Ajip Rosidi dan tim dari Yayasan Kebudayaan Rancage dengan turut andil dalam penyelenggaraan Anugerah Sastera ini,” jelasnya saat menyampaikan sambutan.

Saat ini, tercatat ada 650 bahasa daerah di Indonesia. Muncul kekhawatiran bahasa daerah akan punah karena penuturnya semakin berkurang. Yeri menyebut, penganugerahan ini merupakan respons atas kekhawatiran mengenai kemunduran penggunaan dan penutur bahasa daerah. “Karena penulis, budayawan, pegiat kebudayaan daerah, dan guru-guru bahasa daerah sesungguhnya adalah nasionalis sejati yang mewujudkan baktinya kepada bangsa dan negaranya dengan terus mengembangkan bahasa dan budaya ibu mereka. Apresiasi yang setinggi-tingginya perlu kita berikan,” urainya.

Erry Riyana menyebut para pengarang dalam bahasa daerah sejatinya merupakan pelestari bahasa ibu karena berhasil mendokumentasikan bahasa ibu. “Pada kesempatan ini kami mengetuk hati siapa saja untuk memberikan sumbangsih bagi kehidupan sastra daerah. Mari bergabung dengan kami untuk bersama-sama peduli dan mengapresiasi karya para pengaran bumi pertiwi sekaligus mempererat ikatan kebangsaan Indonesia yang kita cintai,” tuturnya.

Hadiah Sastera Rancage diberikan pada 1989 atas inisiatif dan dana pribadi budayawan dan seniman Sunda, Ajip Rosidi. Selama 31 tahun, anugerah untuk penulis bahasa ibu ini mengalami perkembangan. Awalnya, hadiah hanya diberikan kepada pengarang yang menulis buku karya sastra Sunda. Tapi sejak 1990, hadiah mengalami perubahan, diberikan juga kepada orang atau Lembaga yang berjasa mengembangkan dan mempertahankan kehidupan bahasa dan sastra dalam bahasa ibu. Selanjutnya, setiap tahun, Hadiah Sastera Rancage diberikan dalam dua kategori yakni karya dan jasa.

Pada 1994, Rancage mulai memberikan hadiah untuk sastra Jawa, pada 1998 untuk sastra Bali, pada 2008 untuk sastra Lampung, pada 2015 untuk sastra Batak, hingga pada 2017 untuk sastra Banjar. Di samping itu, setiap tahun diberikan hadiah bagi buku bacaan anak dalam bahasa Sunda, yakni Hadiah Samsudi.

Reportase: Hanna Meinita/Fotografer: Raden Radityo

 



Diunggah oleh admin (2019-09-17 13:47:52)