Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

08 Sep 2019

Perpusnas Dukung Pemprov Kalbar Bangun SDM Berkualitas

Pontianak, Kalimantan Barat - Perpustakaan Nasional mendukung pemerintah provinsi Kalimantan Barat yang berupaya membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan literasi. Transfer ilmu pengetahuan dari teori dan praktik hanya bisa dilakukan melalui membaca. Karenanya, kepedulian kepala daerah kepada perpustakaan dan literasi akan berdampak pada terwujudnya masyarakat yang cerdas dan sejahtera.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menyatakan SDM yang kompeten adalah kunci dalam pembangunan suatu pemerintahan. “Tidak ada suatu pemerintahan di dunia ini yang gagal membangun negaranya disebabkan sumber daya alamnya terbatas. Tetapi umumnya, negara di dunia ini gagal membangun karena SDM-nya terbatas,” ujar Syarif Bando saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Wisata Literasi Nasional di Aula Pendopo Gubernur Kalbar, di Pontianak, Kalbar, pada Sabtu, (7/9). Wisata Literasi Nasional merupakan kegiatan yang digagas Forum Indonesia Menulis dan didukung oleh Perpusnas, Duta Baca Indonesia, dan Pemerintah Provinsi Kalbar untuk mewujudkan Kalbar sebagai provinsi literasi Indonesia.

Saat ini, menurut Syarif, yang menjadi kendala dalam dunia literasi adalah ketersediaan bahan bacaan. Karenanya, Syarif mengapresiasi FIM yang meluncurkan 1.000 buku hasil karya penulis di Kalbar. “Karena kalau anda tidak pernah membaca, mustahil anda pernah menulis. Karena itu saya ingin mengapresiasi dan terus bekerjasama dengan Forum Indonesia Menulis yang dimulai dari Kalimantan Barat,” jelasnya.

Gubernur Kalbar Sutarmidji menyatakan membangun SDM tidak kalah pentingnya dibandingkan membangun yang lain. “Saya jika disuruh memilih lebih banyak SDA atau SDM? Saya pilih SDM yang banyak, SDA bisa habis kalau tidak dikelola dengan baik. Kalau kita punya SDM yang andal, itu akan menguasai apapun,” tutur saat membuka Wisata Literasi Nasional.

Sutarmidji mengaku berupaya membaca satu buku dalam sehari. Dia juga terbiasa membekali diri dengan membaca sebelum berbicara di depan umum, agar menambah wawasan dan informasi. “Ketika saya menyampaikan sesuatu, saya harus baca literaturnya apa dulu sehingga saya nyambung ketika bicara apapaun. Mau bicara teknik, oke, bicara masalah ekonomi ayo, bicara politik, karena saya selalu melengkapi diri dengan literatur-literatur yang menjadi sumber,” jelasnya.

Pemerintah provinsi Kalbar akan membuat program untuk menarik minat membaca masyarakat. Program ini berupa perpustakaan atau rumah baca di setiap desa. Ini dilakukan agar desa di Kalbar memenuhi indikator desa mandiri. Sutardmiji menilai, jika mengandalkan dana desa, dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengubah desa tertinggal menjadi desa mandiri. “Karenanya perlu terobosan untuk membuatnya, salah satunya lewat perpustakaan atau rumah baca. Bangun rumah baca kan ga mahal, cukup 50 juta. Atau sandingkan dengan balai desa, di sana ada perpustakaan desa, PAUD, posyandu. Kalau sudah dibangun semua, indikator (desa mandiri, red) terpenuhi,” urainya.

Sementara itu, Duta Baca Indonesia Najwa Shihab menilai keluarga merupakan kunci dalam membangun kegemaran membaca. Orang tua diminta memberikan bukti kepada anaknya untuk mendorong mereka agar mau membaca. “Saya beruntung lahir di keluarga yang cinta ilmu, di rumah penuh dengan buku dan ketika keluar rumah selalu membeli buku. Saya dan kakak adik saya sudah jatuh cinta kepada buku sebelum bisa membaca karena tiap malam kami dibacakan dongeng oleh ibu. Jangan berharap generasi muda berusaha mencari informasi melalui buku kalau di rumah, ortunya tidak seperrti itu,” jelasnya saat menjadi narasumber talkshow.

Keterampilan membaca juga harus dilatih setiap harinya. Najwa juga mendorong para peserta yang hadir agar membaca aktif. “Membaca aktif beda dengan aktif membaca. Kalau membaca aktif, sejak awal kita melihat identitas penulis, cover buku, kita akan berusaha menyelami karakter di buku itu, plot ceritanya, sehingga kita mengidentikasi karakter yang ada di dalam buku. Karena melalui membaca, kita berusaha menarik makna yang ada di buku tersebut,” tuturnya.

Reporter: Hanna Meinita

 

 

 



Diunggah oleh admin (2019-09-16 08:48:56)