Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

16 Jul 2019

Bedah Buku Pustaka dan Kebangsaan : Literasi Bukan Sekedar Baca

Blitar, Jawa Timur--Perpustakaan dan Kebangsaan tidak bisa dipisahkan, khususnya di Perpustakaan Bung Karno yang selalu menyimpan berbagai koleksi sejarah Sang Proklamator. Nilai-nilai sejarah yang dituangkan Bung Karno dalam pemikiran-pemikirannya, nasionalismenya, rasa kebangsaannya yang tak luput dari catatan sejarah Indonesia. "Sangat tepat jika Perpustakaan Bung Karno terus menggeliat berliterasi karena literasi yang sekarang viral, sejatinya pernah digelorakan Bung Karno pada masa lalu. Generasi saat ini hanya tinggal melanjutkan," papar Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII), Wiji Suwarno, pada bedah buku Pustaka dan Kebangsaan yang diadakan di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Blitar, Selasa, (16/7).

Orang membaca bukan berarti akan mendapatkan pengetahuan. Bisa jadi orang membaca dan yang mereka peroleh adalah data, atau bisa jadi seseorang membaca dan yang ia peroleh adalah informasi, dan demikian pula halnya membaca bisa juga mendapatkan pengetahuan. Artinya, masyarakat harus selalu memberdayakan perpustakaan agar kemampuan literasi selalu terjaga. 

Masyarakat saat ini mau tidak mau harus membaca. Membaca mulai dari bacaan yang sederhana, baik itu membaca ala konvensional melalui buku-buku atau membaca lewat perangkat elektronik. Saat ini membaca lewat perangkat digital begitu dominan. Dengan hand phone semua informasi bisa dibaca, namun kualitas bacaannya tidak sama dengan membaca secara fisik, yakni melalui buku. "Makanya, meski teknologi sudah sedemikian mutakhir dan canggih, di negara yang maju sekalipun membaca melalui fisik buku tetap diminati dan tetap ramai, termasuk di perpustakaan," imbuh Ida.

Dukungan terhadap segala bentuk kegemaran membaca, aktivitas literasi dan perpustakaan tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah dan lembaga perpustakaan juga mesti berada di barisan depan terkait hal tersebut. Seperti yang ditunjukkan oleh Plt Wali Kota Blitar, Santoso, yang mengaku selalu antusias ketika mendengar kata-kata perpustakaan. Bahkan, di sela-sela rutinitas yang padat, Santoso, akan menyempatkan hadir memberikan apresiasi dan dukungan bagi UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno karena sering mengadakan aktivitas keilmuan dan literasi, terutama yang berhubungan dengan rekam sejarah Bung Karno. "Sesibuk apapun, kalau ada acara yang berkaitan dengan perpustakaan sudah sepantasnya kita dukung. Kegiatan lain boleh antre, tapi urusan perpustakaan tidak boleh dinomorduakan. Harus jalan terus," kelakar Santoso.

Lebih lanjut,  Plt. Wali Kota mengajak masyarakat Blitar Raya untuk terus menggali potensi-potensi yang ada di Perpustakaan Bung Karno ini. Satu diantara sedikit daerah yang memiliki perpustakaan berskala nasional yang harus senantiasa dijaga, dirawat dan diberdayakan. Secara bersama-sama, Perpusnas dan Pemkot Blitar telah mengupayakan berdirinya Perpustakaan Bung Karno ini untuk memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada Sang Proklamator. Perpustakaan ini merupakan salah satu bukti sejarah yang masih menyimpan nilai-nilai yang pernah disampaikan Bung Karno, pemikiran-pemikiran dan nasionalisme yang sampai hari ini melekat  untuk bangsanya yang dicintainya. "Saya apresiasi kegiatan-kegiatan  seperti bedah buku yang memberikan nilai-nilai informasi dan inspirasi yang dapat dipetik untuk menambah wawasan dan pengetahuan," ungkapnya.

Sementara Kepala Perpustakaan Bung Karno, Janti Suksmarini, mengatakan melalui bedah buku Pustaka dan Kebangsaan ini dapat menginspirasi bagi masyarakat untuk menumbuhkan gemar membaca, mengembangkan budaya informasi,  penguatan literasi informasi serta memantapkan rasa nasionalisme Indonesia. "Oleh karena itu perlu penguatan manajemen perpustakaan modern,  dan berbasis teknologi informasi, serta penguatan literasi kebangsangsaan. Kegiatan bedah buku ini diharapkan dapat menjadi great spirit untuk menggugah rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan para generasi penerus bangsa Indonesia," demikian paparnya.

Sementara itu,  Sri Rochyanti Zulaikha menyebutkan buku yang ditulis Putu Laxman Pendit ini membawa  pesan kepada kita semua, baik pustakawan, dosen, arsiparis, profesi yang berkaitan dengan informasi, mahasiswa dan para pemerhati perpustakaan dan kepustakawanan bahwa aktivitas membaca itu tidaklah hanya sekadar membaca tulisan. Namun lebih dari itu, membaca melibatkan kegiatan melakukan interprestasi dan imajinasi.  "Kegiatan membaca itu berkaitan dengan apa yang dibaca. Siapa yang membaca,  dan bagaimana mereka membacanya, sistuasi sosial yang terjadi pada saat itu, apakah mereka membaca dalam diam, secara sendirian atau bermasyarakat. Bahkan dalam perspektif sejarah, membaca itu adalah sebagai sebuah proses kreatif. kegiatan membaca bahkan dapat meracuni pikiran dan pola hidup seseorang", ungkapnya.

Reportase : Agus Sutoyo

 



Diunggah oleh admin (2019-07-18 16:15:52)