|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

21 Feb 2019

Indonesia, Tuan Rumah Conference of Director National Library Asia-Oceania (CDNL-AO) Tahun 2020

Singapura – Conference of Director National Library Asia-Oceania (CDNL-AO) atau Sidang Kepala Perpustakaan Nasional se-Asia dan Oceania menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah berikutnya pada tahun 2020 mendatang. Penyelenggaraan CDNL-AO pada tahun ini bertempat di The National Library Board (NLB) pada Kamis (21/2). CDNL-AO pada tahun 2019, memperingati ulang tahun ke 40 sejak pertama kali diadakan pada tahun 1979. Sekitar 20 negara di seluruh wilayah Asia dan Oceania berpartisipasi dalam pertemuan ini meliputi Australia, Bangladesh, Bhutan, China, Fiji, Indonesia, Iran, Japan, Korea, Malaysia, Maldives, Mongolia, Myanmar, New Zealand, Papua New Guinea, Philippines, Qatar, Singapore, Thailand, Viet Nam.

Sidang kali ini membahas bagaimana rencana serta peran strategis perpustakaan di 40 tahun yang akan datang di negara Asia dan Oceania.  Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando memberikan pandangan bagaimana Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menghadapi isu-isu serta menjalankan program strategis perpustakaan di Indonesia. Salah satunya adalah implementasi perpustakaan berbasis inklusi sosial serta implementasi big data untuk layanan perpustakaan yang lebih baik.

Sidang CDNL-AO menghasilkan banyak sekali penawaran-penawaran kerjasama yang ditawarkan, salah satunya adalah China Silk Belt Initiative. China Silk belt initiative merupakan program rintisan China untuk menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa, inisiatif ini telah berubah menjadi slogan yang luas untuk menggambarkan hampir semua aspek keterlibatan Cina di luar negeri.  Belt and Road, atau yi dai yi lu, adalah “jalan sutra abad ke-21,” yang terdiri dari “sabuk” koridor darat dan “jalan” maritim dari jalur pelayaran. Dari Asia Tenggara ke Eropa Timur dan Afrika, Belt dan Road mencakup 71 negara yang menyumbang separuh populasi dunia dan seperempat dari PDB global.

Pandangan Muhammad Syarif Bando yang disampaikan pada forum internasional tersebut menjelaskan tujuan negara salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan Nasional yang berdiri pada tahun 17 Mei 1980 yang diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, menyatakan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki kewenangan mengatur urusan pemerintahan dari pusat hingga ke daerah di bidang perpustakaan. Pada tahun 2018, Perpustakaan Nasional melakukan sensus untuk mengetahui jumlah total perpustakaan di Indonesia. Saat ini, Indonesia memiliki 164.576 Perpustakaan yang menempatkan Indonesia sebagai perpustakaan terbesar kedua di dunia setelah India.

Menghadapi era industri 4.0 dan Society 5.0, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengembangkan perpustakaan digital melalui iPusnas yang merupakan aplikasi di perpustakaan dimana pengguna dapat membaca dan berinteraksi dengan orang-orang seperti halnya di media sosial. Aplikasi ini menggunakan Digital Right Management yang memungkinkan penulis, penerbit, dan pembaca untuk saling terhubung dan menciptakan ekosistem teknologi untuk beradaptasi dengan  di era industri 4.0 dimana artificial intelligent dan big data sangat penting. Sampai sekarang ipusnas memiliki lebih dari 40.000 judul dan 600.000 eksemplar dan sangat aksesibel bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Selain itu Kepala Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Woro Titi Haryanti turut menyampaikan, Perpustakaan Nasional Indonesia akan terus mendekatkan layanan ke masyarakat dan memberikan bimbingan untuk Perpustakaan Umum melalui stimulus dalam bentuk Mobil Perpustakaan Keliling dan Perpustakaan Sepeda motor serta berusaha mengubah citra Perpustakaan dengan melalui duta baca Indonesia Najwa Shihab sebagai influencer di masyarakat yang mengenalkan perpustakaan sebagai tempat menyenangkan untuk belajar, berbagi pengalaman dan keterampilan. Ditambah lagi pegiat literasi di masing-masing daerah memiliki ide-ide kreatif dalam mendekatkan perpustakaan ke masyarakat seperti Motor Pustaka, Ojek Pustaka, Perahu Pustaka, Kuda Pustaka, Gerobak Pustaka, Kereta Pustaka, Pedati Pustaka, Becak Pustaka, Sepeda Pustaka, Ransel Pustaka hingga Noken Pustaka.

Dalam kesempatan tersebut, Perpustakaan Nasional RI diwakili Muhammad Syarif Bando dengan The National Library Board (NLB) Singapura diwakili Elaine Ng menandatangani kesepahaman bersama terkait kolaborasi pengetahuan tentang koleksi perpustakaan yang berhubungan dengan sejarah, budaya atau warisan negara pihak lain atau negara-negara lain yang berada dalam kepentingan penelitian termasuk berbagi informasi katalog. Pertukaran yang mungkin mencakup mata pelajaran seperti administrasi, koleksi pengembangan dan manajemen, konservasi dan pelestarian, kurator, pameran desain, teknologi informasi serta Riset dan publikasi kelembagaan.

 

Reportase : Irhamni Ali dan Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2019-02-27 09:30:26)