Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

30 Jan 2019

Luncurkan Buku ke-tiganya, Peter Carey Inginkan Milenial Kenal Sejarah Lewat Aplikasi

Medan Merdeka Selatan, Jakarta—Rabu, 30 Januari 2019, mungkin akan menjadi momen yang bakal dikenang oleh Peter Carey. Dengan balutan batik berlengan panjang, didampingi Kepala Preservasi Perpustakaan Nasional Ahmad Masykuri dan anggota Dewan Redaksi Kompas Tri Agung Kristanto, Peter Carey meluncurkan bukunya yang ke-tiga di auditorium Soekarman Perpustakaan Nasional yang berjudul Urib Iku Urub.

Judul berbahasa Jawa dipilih Peter untuk menggambarkan sepak terjang pria berkebangsaan Inggris berusia 70 tahun menggeluti sejarah di Indonesia, utamanya Jawa. Urip Iku Urub mengandung makna ‘Hidup Harus Nyala’. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa diberikan tentu akan lebih baik.

Peter Carey adalah sosok yang langka. Beliau adalah seorang sejarawan dan pengarang asal Inggris yang mengkhususkan diri dalam sejarah modern Indonesia. Peter Carey  telah jatuh cinta pada Indonesia sejak 1998. Peter seakan telah memiliki ‘darah nasionalis’ dalam dirinya. Buku “Kuasa Ramalan” yang berisikan sisi hidup dan perjuangan Pangeran Diponegoro menjadi salah satu bukti sahih tangan dingin Peter Carey.  “Peter Carey sudah menyamai figur ideal yang sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara, Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani,” ujar Kepala Pusat Preservasi Perpustakaan Nasional Ahmad Masykuri.

Tri Agung Kristanto mewakili Kompas Grup mengatakan hidup itu memang harus menyala. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain. Judul yang pas menggambarkan sepak terjang Peter Carey. “Semangat sama diwariskan Kompas yang juga punya tujuan membantu dan mencerdaskan masyarakat,” ucap Tri Agung.

Dalam diskusinya, Peter Carey mengatakan Indonesia punya kesempatan emas mengenalkan sejarah melalui aplikasi (daring). “Ini tantangan untuk membuat sejarah ke dalam bentuk animasi sehingga kaum milenial mengerti tentang sejarah. Buatkan mereka sesuai zamannya.  Yang keren, bisa diaplikasikan, atau ke dalam versi kartun,” pesan Peter Carey.

Buku ke-tiga Peter Carey terasa spesial karena tidak hanya berisikan teks tapi juga diselingi gambar-gambar atau komik animasi. Kedua buku sebelumnya, Peter hanya meluncurkan tapi tidak mencetaknya dalam jumlah banyak.

 

Reportase : Hartoyo Darmawan

Fotografer : Hartoyo Darmawan



Diunggah oleh admin (2019-02-01 10:53:58)