Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

21 Jan 2019

Rakernis Deputi I Perpusnas : Perpustakaan Harus Lakukan Kompetensi Inovasi Pelayanan Publik

Salemba, Jakarta – Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional menyelenggarakan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Kedeputian I, Senin (21/1). Rakernis mengagendakan  arahan Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, paparan Kebijakan Deputi I  Ofy Sofiana, Kepala UPT Perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta, Kepala Direktorat dan Kepala Pusat Jasa dan Informasi Perpusnas serta Sidang Komisi ke dalam tiga kelompok yang membahas dan merumuskan topik tentang evaluasi kegiatan tahun 2018, pemantapan tahun 2019, rencana strategis 2015-2019, persiapan materi renstra 2020-2024, serta tentang penguatan data dan pemetaan tugas fungsi kegiatan yang tumpang tindih di kedeputian Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi.

Kepala Perpusnas dalam arahannya menyampaikan, bahwa tahun 2019 merupakan tahun yang penting untuk memastikan dan mengembalikan marwah Perpustakaan Nasional sebagai pusat informasi. “Kalau perpustakaan difungsikan sebagai pusat informasi pastikan kontennya yang akuntabel, update dan terpercaya serta cukup mudah untuk diakses dan mudah diperoleh tepat waktu,” ujar Kepala Perpusnas. Kepala Perpusnas menghendaki seluruh pegawai di lingkungan Perpustakaan Nasional dibuatkan kartu nama yang nantinya bisa dibagikan ke para pengguna perpustakaan.

“Setidaknya setiap pustakawan setiap harinya mendapatkan testimoni atas kinerjanya yang tentunya akan membawa dampak terhadap pengakuan atau fakta-fakta kinerja atas institusi Perpustakaan Nasional,” tambah Muhammad Syarif. Saat ini perpustakaan tidak terlepas dari pelayanan publik sebagaimana diatur oleh Peraturan Menteri PAN-RB Nomor 3 Tahun 2018 tentang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik. “Kompetensi inovasi pelayanan publik dilakukan sebagai upaya menjaring, mendokumentasikan, mendiseminasikan, dan mempromosikan inovasi sebagai upaya percepatan peningkatan kualitas pelayanan publik Perpusnas”.

Lebih lanjut, Kepala Perpustakaan Nasional juga mendorong dan mengapresiasi seluruh pegawai untuk berani menunjukan kreatifitasnya dalam menciptakan inovasi pengembangan perpustakaan. Pustakawan harus bekerja secara profesional dan menuangkan ide-ide kreatif seperti menganalisis konten bahan pustaka yang Perpusnas miliki. “Pustakawan dapat membuat kliping berbasis online sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber informasi rujukan,” terang Syarif.

Galeri Kepresidenan dan ruang tentang jejak sejarah Indonesia sejak zaman Hindu-Budha, Majapahit, imperialisme, masa persiapan kemerdekaan, pra kemerdekaan hingga era  Revolusi Industri 4.0, diminta Kepala Perpusnas untuk diselesaikan.

“Era Revolusi Industri 4.0 adalah era inovatif.  Kemudian dari inovatif meningkat kepada hyper inovatif.  Dan muaranya adalah assembling (perakitan). Bagaimana handphone bisa menggantikan kompas, perbankan, radio, kamera dan bagaimana handphone menjadi universitas terbaik karena menyimpan kumpulan buku-buku yang terbaru,” jelasnya.

Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Ofy Sofiana dalam paparannya menjelaskan peran Perpustakaan Nasional sebagai pusat literasi informasi. “Kami setuju dengan arahan Kepala Perpusnas bahwa tahun ini adalah tahun konten dan upaya mengembalikan hakikat perpustakaan sebagai pusat informasi,” tutur Ofy. Menurut Deputi I, tahun 2019 pihaknya akan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan. Perpustakaan pada tahun 2019 juga menjadi prioritas nasional, sasarannya yang hendak dicapai adalah pengembangan transformasi layanan, meningkatkan budaya gemar membaca dan meningkatkan pengelolaan kelas dan fisik dan kandungan informasi.

 

Reportase : Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2019-01-23 08:23:02)