Call Center Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas : 1500-914    

  |    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

12 Dec 2018

Komitmen Daerah Penting Dukung Program Prioritas Nasional Bidang Perpustakaan

Karet, Jakarta – Perpustakaan Nasional bersinergi dengan para stakeholder bidang perpustakaan untuk mendukung transformasi layanan perpustakaan umum berbasis inklusi sosial melalui pertemuan yang diselenggarakan di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, pada hari Rabu (12/12). Acara tersebut dihadiri oleh kurang lebih 400 peserta terdiri dari Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi, Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten, Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa dan juga Prof Dr. Haryono Suyono. Adapun tujuan transformasi layanan perpustakaan adalah untuk meningkatkan literasi informasi masyarakat berbasis teknologi informasi dan komunikasi  dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Deni Kurniadi menekankan bahwa penguatan literasi menjadi kegiatan prioritas nasional untuk mendukung program percepatan pengurangan kemiskinan. “Pengembangan transformasi layanan perpustakaan dilaksanakan melalui layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, peningkatan akses literasi informasi terapan dan inklusif, pendampingan masyarakat untuk literasi informasi, peningkatan pemanfaatan teknologi informasi, penguatan kerjasama dan jejaring perpustakaan  dengan lembaga pemerintah, dunia usaha dan masyarakat,” terangnya. Deni juga menyatakan peran pemangku kepentingan dan komitmen pemimpin daerah sangat penting dalam mendorong keberhasilan program prioritas naional hingga ke tingkat desa.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menyikapi pentingnya peran perpustakaan dalam menghadapi era industri 4.0 melalui perubahan-perubahan atas cara pandang terhadap teori yang sudah tidak relevan. “Pustakawan sebagai agen perubahan harus memiliki kompetensi memecahkan masalah, kepemimpinan, kolaborasi, adaptasi, kreatifitas dan inovasi,” tegas Syarif. Syarif menjelaskan kehidupan saat ini terus berubah dimana teknologi akan menggantikan tenaga manusia dalam proses produksi. Pada abad ke-18 ketika tenaga manusia dan hewan digantikan mesin dimulailah era revolusi industri 1.0.  Kemudian dilanjuti revolusi industri 2.0 ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik. Lalu munculah revolusi industri 3.0 yang biasa disebut revolusi digital dimana menurut kajian sosiolog Inggris David Harvey, ruang dan waktu menjadi tidak berjarak. Kemudian hadir revolusi industri 4.0 yang ditandai teknologi cyber dimana dalam pasar global yang menguasai teknologilah yang akan memimpin pasar.

Benarkah perpustakaan dapat mengurangi kemiskinan bahkan dapat mensejahterakan masyarakat? Syarif mencontohkan bahwa tidak ada bangsa yang maju tanpa kemampuan membaca yang baik dan perpustakaan yang maju. Thomas Jefferson dalam menginisiasi Library of Congress pada awalnya juga mendapat pertentangan. Tapi apa yang Jefferson perjuangkan saat itu, ternyata bermanfaat untuk 200 tahun yang akan datang untuk bangsanya. “Pastikan perpustakaan menjadi bagian penting. Oleh karena itu, kita harus bekerja keras agar perpustakaan mendapat andil dalam merubah bangsa menjadi lebih baik,” ujar Syarif. Perpustakaan adalah bentuk lain dari Firman Tuhan, melalui pustakawan maka mobilisasi ilmu pengetahuan dapat terwujud sehingga akan memberikan dampak bagi kesejahteraan umat manusia. Perpustakaan juga sebagai sumber informasi, melalui pustakawan pula diseminasi informasi terjadi sehingga kumpulan data-data yang terserak dapat diolah dan kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan berguna bagi bangsa dan negara.

 

Reportase : Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2018-12-13 08:08:48)