|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

19 Nov 2018

Perpustakaan Khusus Didorong Menjadi Pusat Data & Informasi K/L

Kebon Sirih, Jakarta - Perpustakaan Nasional RI mengajak perpustakaan khusus untuk bersinergi membangun pusat data dan informasi terkait kementerian dan lembaga pemerintah. Idealnya, perpustakaan khusus menyimpan seluruh data dan informasi yang sudah dipublikasikan mengenai kementerian dan lembaga terkait. Karena esensinya, perpustakaan adalah pusat informasi.

Demikian disampaikan Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando saat menjadi Pembicara Utama di Seminar dan Knowledge Sharing Kepustakawanan 2018 yang diselenggarakan Forum Perpustakaan Lembaga Pemerintah Non Kementerian Riset dan Teknologi (LPNK Ristek) dengan tema “Peningkatan Peran Perpustakaan dalam Reformasi Birokrasi”.

Menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Perpustakaan Khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain.

“Saya mengundang kepala perpustakaan khusus mari kita bangun sinergi untuk menyimpan data semua kementerian lembaga. Luar biasa pentingnya perpustakaan khusus. Berbicara tentang sustainable kementerian lembaga tentang data informasinya, harusnya ada di perpustakaannya, bukan di humasnya.  Sebab kita bicara tentang data dan fakta,” jelas Syarif Bando saat menyampaikan paparannya di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta pada Senin (19/10).

Perpustakaan sebagai pusat peradaban merupakan tempat yang tepat memanusiakan manusia. Karenanya, pustakawan harus memiliki kemampuan mengikuti perkembangan zaman dan bisa membagikan pengetahuan dan informasi yang ada di koleksi perpustakaan kepada masyarakat. Menurut Syarif Bando, pustakawan sebagai sebuah profesi tidak boleh memble. Pustakawan profesional adalah orang yang berdedikasi, menghargai profesinya, yang merasa puas jika bisa memberikan  pelayanan yang baik kepada pelanggannya.

“Dengan membaca maka transfer knowledge akan berjalan. Semakin banyak membaca, maka semakin banyak ilmu yang kita serap. Semakin banyak ilmu yang kita serap, semakin banyak ilmu yang kita transfer knowledge. Jika kita memiliki kemampuan transfer knowledge yang baik maka kita memiliki kemampuan dalam menciptakan barang jasa. Jika kita dapat menciptakan barang dan jasa yang bermutu maka kita dapat bersaing di pasar global,” urainya.

Sementara itu, Deputi Bidang Informasi dan Permasyarakatan Standardisasi Badan Standardisasi Nasional Zakiyah menyatakan perpustakaan sebagai institusi netral memberikan informasi dan pengetahuan yang terbaru. Ini menjadi tantangan bagi perpustakaan maupun pengelolanya terutama dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Perpustakaan sendiri memiliki fungsi mendukung terlaksananya visi Reformasi Birokrasi (RB) yakni memberikan layanan prima ke masyarakat.

“Perpustakaan selaku wadah menyediakan segenap pengetahuan yang sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan RB. Tanpa informasi yang akurat, maka good governance yang dicita-citakan, tidak akan baik, tidak tercapai tujuannya. Bicara perpustakaan maka terkait dengan pustakawan. Dan tentunya pustakawan memiliki daya dalam mengelola informasi sehingga mudah dievaluasi, diakses dan itu akan bermanfaat. Dan seorang pustakawan tidak hanya mengetahui konsep kepustakaannya, tapi juga ilmu-ilmu di luar itu termasuk visi misi organisasi,” jelasnya.

Zakiyah meminta Perpusnas untuk memenuhi standar internasional ISO 11620 tentang Information and documentation-Library Performance Indicator. Ini bisa menjadi referensi dalam mengelola perpustakaan. Menanggapi hal ini, Syarif Bando menyatakan pihaknya akan menyusun standar perpustakaan sesuai dengan ISO 11620. UU tentang Perpustakaan sendiri mengamanatkan Perpusnas untuk menyusun standar pengelolaan perpustakaan.

Pada akhir sambutannya, Zakiyah menyatakan akan membawa rekomendasi dan gagasan dari forum LPNK Ristek ke kementerian/lembaga terkait untuk dimasukkan ke dalam program kerja.

Reportase: Hanna Meinita/Arwan Subakti

 

 

 



Diunggah oleh admin (2018-12-05 07:44:44)