|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

24 Oct 2018

Menghayati Perjalanan dan Pemikiran Bung Karno melalui Lomba Menghafal Biografi Bung Karno

Blitar, Jawa Timur – Perpustakaan Nasional melalui UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno Kota Blitar bekerjasama dengan Pemerintah Kota Blitar menyelenggarakan acara Lomba Menghafal Biografi Bung Karno dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda ke-90. Penyelenggaraan yang menginjak tahun keempat tersebut dilaksanakan di Amphiteater Kantor UPT Proklamator Bung Karno pada hari Selasa-Rabu, (24-25/10). Peserta yang hadir pada pembukaan dihadiri kurang lebih 500 orang yang berasal dari pelajar SLTP sederajat se-eks Keresidenan Kediri, Malang Madiun, Kepala Sekolah, Guru Pendamping, Budayawan, Seniman, Komunitas Minat Baca, Insan Media.

Plt Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno Janti Suksmarini dalam laporannya menjelaskan didirikannya UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno diharapkan dapat mengkaji dan meneliti konsep konsep para pejuang bangsa, diantaranya nasionalisme dan patriotisme dari tokoh pendiri bangsa Bung Karno dalam rangka memperkokoh dan mengembangkan budaya nasional dengan karakter Indonesia. “Keberadaan Perpustakaan Proklamator Bung Karno saat ini mungkin secara kelembagaan dan secara koleksi belum banyak dikenal masyarakat, padahal perpustakaan tersebut mempunyai koleksi yang bermanfaat untuk penelitian ilmiah dan pengembangan nasionalisme Indonesia,” terang janti. Plt Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno tersebut bersama jajaran mengupayakan untuk terus menerus mengadakan pemasyarakatan, kajian dan penelitian karya-karya Sukarno.

“Seperti kegiatan yang diadakan saat ini, menghafal biografi Bung Karno. Dengan membaca biografi Bung Karno , maka kita ikut melihat kilas balik kisah hidupnya. Dibalik kesuksesan seseorang pasti ada latar belakang yang bisa mendasari kesuksesan,” papar Janti menjelaskan maksud dan tujuan terselenggaranya acara. Menurutnya ada hal-hal yang dalam hidup tidak diajarkan di sekolah, hanya bisa didapatkan melalui pengalaman. Dengan membaca pengalaman hidup seseorang kita bisa belajar bagaimana makna hidup sebenarnya. Apabila tokoh itu punya banyak cara yang hebat dalam hidup itu bisa dijadikan teladan.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando dalam kesempatan tersebut menginfokan kepindahan Bapak Suyatno yang sebelumnya menjabat Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno ke UNS dimana dibawah kepemimpinannya telah meninggalkan warisan pemikiran Bung Karno. Menurut Syarif, lomba yang terselenggara dimaksudkan untuk menciptakan Bung Karno baru. Bung karno muda dengan pemikiran-pemikirannya telah berhasil mempengaruhi atau menginspirasi beberapa tokoh dunia. Syarif juga berharap dengan kekayaan sumber daya alam negara Indonesia dapat mensejahterakan masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia melalui penguasaan teknologi terapan dan mengikuti perkembangan teknologi informasi.

“Dengan membaca buku-buku biografi tentu bisa meningkatkan pengetahuan dan wawasan kita. Karena dari bacaan biografi tersebut kita bisa mendapat ilmu lebih sesuai tokoh yang dibaca. Seperti sikap Bung Karno merupakan orang yang pantang menyerah, mau berjuang demi negara, aktif dalam organisasi politik, dan gigih melawan penjajah,” terang Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dalam sambutannya. Pada 18 Agustus 1930 Sukarno dihadapan pengadilan kolonial menyampaikan pidato pembelaan yang terkenal dengan “Indonesia Menggugat”, yang isinya menggambarkan jiwa Sukarno sebagai pemimpin rakyat Indonesia, hasil pemikiran dan semangatnya tentang nasib bangsanya yang menjadi korban penjajahan bangsa asing. Sukarno mem-blow up segala bentuk penghisapan dan penindasan, kejahatan dan kebengisan serta kebiadaban kapitalis-kolonialis Belanda selama tiga abad atas rakyat nusantara. “Sukarno menentang imperialisme dan kolonialisme berdasarkan pengetahuan dari hasil bacaannya yang amat luas dari buku berbahasa asing,” tambahnya.

Sekretaris Daerah Kota Blitar Rudi Wijanarko turut mengapresiasi pelajar peserta lomba. “Melalui lomba para peserta akan menemukan hal-hal positif untuk dipraktekan dalam meraih cita-cita,” tandas Rudi. Rudi juga menerangkan jika minat baca tinggi maka ruang untuk mendapatkan siswa yang cerdas juga semakin tinggi. Inti kegiatan sekolah adalah belajar dan salah satu kegiatan belajar adalah membaca. “Sebagai seorang Presiden, Bung Karno adalah orang yang menaruh hormat kepada orang tua. Hal ini merupakan contoh pendidikan moral yang sangat luhur yang bisa ditiru oleh semua yaitu setinggi apapun jabatan hendaknya tetap hormat dengan orang tua,”tutur Rudi. Pembukaan lomba secara resmi ditandai dengan menekan tombol sirine bersama-sama yaitu Muhammad Syarif Bando, Rudi Wijanarko, Suyatno, Janti Suksmarini.

 

Reportase : Dewi Kartikasari, Arwan Subakti



Diunggah oleh admin (2018-10-26 08:20:51)